Diary Ecca

Diary Ecca
Part 9


__ADS_3

...Antara Aku & Dia...


Kau pancarkan kebahagiaanmu dari mata air yang tersembunyi. Seperti ketika laut pasang di bawah tatapan lembut sang matahari mendatangkan kegembiraan yang tak terlukiskan. Sepasang lima jari yang terkembang ke empat penjuru samudra saat menghantarkan puja kepada yang maha kuasa. Ia yang memberi kita segala kenikmatan. Ia yang kepadanya kita berpulang.


Menjamah pusat rindu yang gaib, mencumbui perasaan  garib yang sebelumnya tiada dikenal. Waktu yang memetakan segala ingatan purba atas raga kita yang fana, telah tumbuh menjadi kenangan baka atas lebatnya hutan rimba belantara dan sebuah sendang kecil di tengah tengah pulau terpencil yang dikelilingi oleh lembah yang permai dan perbukitan perak yang dulu sekali sering engkau jelajahi.


Gunung gunung yang menjulang tinggi di kejauhan seakan menantang untuk ditaklukkan. Langit biru terhampar di atas padang gundul terbentang jauh hingga ke semenanjung yang sebelumnya tak pernah dijamah. Semua yang dulu cuma bagian dari lintasan sejarah, namun kini selamanya telah jadi pengingat akan dirimu. Semua yang dulu pernah mengungkapkan seluruh jejak petilasan dan penaklukanmu. Bentang alam dari seluruh kekayaan yang kini engkau simpan dalam perbendaharaanmu pribadi. Alam liar dari horizon pikiran dan khazanah perasaan yang nyaris tak terselami.


Tidak ada lagi rahasia yang engkau tutupi dari mata kami, selain daripada ceruk ceruk terdalam dari palung palung yang tersembunyi di balik mimpi mimpimu. Sungguh, tiada lagi kebahagiaan yang mampu mewakili perasaan kami saat ini, karena engkau telah mengijinkan kami untuk menjadi saksi mata; hasrat dari hasratmu, kerinduan dari kerinduanmu, cinta dari cintamu.


Bagaimana kami mampu membalas kebaikan hatimu yang sungguh tiada terkira? Sebab hanya tulus kata dari apa yang tak terucap namun telah puas kami saksikan, akan menggenapi seluruh janji dari semua yang telah engkau beri namun tak akan pernah kami miliki. Akan tetapi, sudah cukuplah itu semua bagi kami, karena engkau telah mengijinkan kami mengagumi keelokan panorama dari apa yang selama ini engkau simpan rapat rapat sebagai harta pusaka yang hanya bisa dinikmati oleh sang raja.


ooOoo


"Ihh, kalian tu nggak bisa liat orang bening dikit... aku aja baru kenal kemarin, itupun ayahku yang ngenalin... udah dech gak usah alay bantuin aku jalan ni" dengan ekspresi cemberut mereka menuntunku lagi, karna merasa cukup untuk hari ini kami kembali ke rumahku.


"Ca, pulang dulu ya, tante kita pulang ya... besok kesini lagi dech!"


"Ya, ati-ati nak" jawab Ibu dari aarah dapur.


"Ca besok kita kesini lagi nggak usah sedih"


"Siapa yang sedih... PD, alhamdulillah malah nggak ngabisin makanan lagi... hem" senyumku meledek mereka.


"Hhhhh tau aja,ok! Daaa Ca!"

__ADS_1


"Daaa!" kataku membalas lambaian mereka dan berjalan menjauh.


Tiba-tiba hp ku berdering, panggilan nomor yang tak ku kenal.


"Assalamualaikum, siapa ya?"


"Waalaikum salam! Ca, ini aku Fikri"


"Oow, kak Fikri, ya ada apa kak?"


"Nggak, Cuma pengen tau keadaan kamu aja, katanya kamu sakit sampe nggak masuk tadi"


"Eem, alhamdulillah udah mendingan kak, nggak sakit cuma sedikit kesleo kemarin, tapi udah nggak pa-pa kok, pasti Deva Devi ya yang obral"


"Hahaha.. obral emang obat di obral, iya tadi kebetulan ketemu mereka, heran juga biasanya kalian selalu bertiga kok tumben ilang satu" suaranya dengan nada ketawanya.


"Amin, tapi kalau memang belum pulih mending buat istirahat dulu aja, ya udah kok malah ganggu kamu ni istirahat gih biar cepet sembuh... Selamat malam Ca... aslamualaikum"


"Iya kak, waalaikum salam" kututup telfonnya dan entah mengapa aku senyum-senyum sendiri dan terbayang-bayang wajah kak Fikri, perhatian banget dia.


Ah tapi bukanlah, mungkin hanya karna baru sekali di telfon senior jadi gini rasanya. Aku berbaring dan memejamkan mataku.


Esoknya kakiku masih terasa nyeri, tapi hari ini ada ulangan jadi harus kekampus. Terpaksa aku menerima tawaran Ayah untuk mengantarku kekampus tapi baru setengah jalan mobilnya mogok. Takut telat aku mencoba mencari bus tapi nggak ada satupun bus lewat, aneh banget biasanya banyak kosong hah giliran dibutuhin malah gak ada menyebalkan. Tiba-tiba ada mobil Jeep biru yang setengah di modif berhenti di depan mobil kami, aku perhatikan sosok yang turun dari mobil ternyata David.


Jarak terkadang membuatnya menjadi asing, membuat seseorang tak percaya akan kekuatan cinta. Silangit yang sama kamu berada, namun belum kamu temukan satu sosok pilihan-Nya.

__ADS_1


Bagiku hidup hanya selalu hitam dan putih, kebahagiaan akan selalu berbanding lurus dengan kesedihan. Kita hanya menunggu waktunya bergiliran bukan?. Begitupun dengan kesunyian. Hari ini terasa ramai, mungkin esok kita akan berdialog lagi dengan kesendirian.


Meski dalam keramaian aku masih merasa kesepian, entah kenapa sunyi sepi ku rasa tanpa seseorang yang bisa menemani ku di kesendirian ini, tak terasa sudah semakin jauh aku berjalan sendiri. Egois ku rasa bila aku mengeluh saja tanpa mau berusaha, entah kenapa goresan pena ku sampai pada titik kosong dimana tinta hitam yang ku tulis diatas kertas putih ternyata telah habis, setiap yang ku tulis sesuai dengan perjalanan hidup dimana hati menangis menjerit menceritakan setiap perjalanan hati yang lirih, meski sang waktu berbicara dengan nada yang lirih sambil di temani sang piano yang terus berbunyi dengan merdunya seperti melodi sendu yang menohok hati. Jarum jam terus berdetak kencang ke arah sumbu yang tak terbatas dengan penuh ke haluan aku terus bertanya kepada diriku sendiri, hari ini apakah akan lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya atau malah akan memberikan aku kesibukan uang sebenarnya membawaku pada rasa takut untuk memulai perubahan.


"Mobilnya kenapa om?"


"Nggak tau ni Vid, tiba-tiba mogok"


"Mungkin bisa saya bantu om!"


"Ya tentu, bisa kamu bantu om.. tolong antarkan Ecca kekampus takut telat nanti, biar om panggil tukang bengkel untuk kesini"


"Oow gitu, tapi om nggak pa-pa di sini sendiri"


"Ya nggak pa-pa, udah sana Ca berangkat biar David yang antar keburu telat" pinta ayah tegas.


Gimana lagi dari pada telat aku langsung setuju saja. Ku cium tangan Ayah dan beranjak berjalan menuju mobil David. Mungkin kasian melihatku sulit untuk berjalan menahan rasa sakit kaki ku, tiba-tiba David merangkul bahuku dan memengang tanganku, menuntunku masuk ke mobilnya. Aku yang kaget langsung melihat kearahnya dan dia membalas dengan senyumnya, dia membukakan pintu dan menyuruhku masuk dan apa ini tiba-tiba ada rasa berbeda di dadaku, ya Tuhan jantungku mulai tak beraturan dan wajahku mulai memanas.


"Ma-makasi" ucapku terbatah-batah karna kaget campur gugup, dia tersenyum dan anggukan kepalanya.


Setelah beberapa menit di dalam mobil tampak sunyi tanpa suara, hanya suara mesin mobil yang terdengar menderu, akhirnya David memecah kesunyian ini.


"Kuliah ambil jurusan apa Ca?"


"Kebetulan aku ambil Seni"

__ADS_1


"Waw, orang Seni juga to" ledeknya.


ooOoo


__ADS_2