Diary Ecca

Diary Ecca
Part 44


__ADS_3

...Antara Aku & Dia...


"Mungkin sekarang cinta membuatmu sakit, tapi percayalah jika takdir cinta terlah datang dari Allah maka kamu akan merasa bahagia" tambah Devi.


Aku hanya terdiam membenarkan perkataan Devi.


"Besok kita pulang, besok langsung ke rumah kamu ya Ca, aku kangen cup cake ibu kamu" kata Deva.


Yang mengubah suasana sedih kami menjadi buyar karena tawa kami, terimakasih Tuhan kau berikan teman-teman yang selalu mengerti aku.


ooOoo


Jam 6 pagi kami bersiap membereskan barang masuk ke bagasi bus, sebelum berangkat kami dikumpulkan berdoa bersama, agar dilancarkan perjalanan pulang kami. Selesai berkumpul aku berjalan menuju bus, tapi tiba-tiba Deva Devi menarik tanganku mengajakku ke arah berlawanan.


"Mau kemana lagi, busnya nanti kita ketinggalan!" Seruku.


"Udah ikut aja bentar" kata Devi sembari tersenyum ke arah Deva.


Mereka mengajakku ke kebun teh yang kemarin kami sambangi, dan yang membuatku terkejut sudah ada kak Fikri di sana dengan ekspresi gugup. Aku melihat Deva Devi mereka menepuk punggungku dan meninggalkan aku dan kak Fikri berdua. Dengan rasa takut aku mencoba memulai pembicaraan.


"Ada yang mau kakak omongin sama aku?" tanyaku.


Kak Fikri tidak menjawab apa-apa dia hanya memandangku, berjalan ke arah ku dan memeluk erat tubuhku hal yang mengejutkanku.


"Ca, maafin aku gara-gara aku kamu jadi gini, enggak seharusnya aku menghindar dari kamu, enggak seharusnya aku memaksakan kehendakku... maafin aku, Ca" dengan nada serak menahan tangisnya.


Aku hanya termenung dan meneteskan air mata, kemudian aku menganggukan kepalaku. Aku melepaskan pelukan kak Fikri.


"Bukan salah kak Fikri, perasaanku yang salah terlalu berlebihan memikirkan hal itu, sampai-sampai aku seperti semalem. Kakak masih mau jadi temen aku kan?" Tanyaku.

__ADS_1


Kak fikri memandangku dan kembali memelukku, kami berjalan bersama menuju bus yang sudah mau berangkat. Seakan memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalah pahaman antara aku dan kak Fikri.


Deva dan Devi sudah menyiapkan tempat duduk untuk kami berdua, tapi karena merasa tidak nyaman jika harus bertempat duduk dengan kak Fikri aku minta Deva duduk denganku dan Devi yang duduk dengan kak Fikri.


Sepanjang jalan aku bersender di bahu Deva dan memeluk tangannya, tiba-tiba aku ingat aku ingin mendengar suara akustik David, kemudian aku menyalakan mp3 dan mendengarkannya bersama Deva.


Sembari mendengarkan suara alunan akustik David, aku selalu terbayang wajah David dan membuatku semakin tenang dan nyaman, kali ini aku menikmati lamunanku penuh dengan wajah David, sedangkan Deva tertidur pulas.


Rasa inikah yang mungkin di rasakan kak Fikri padaku?, rasa yang begitu menyiksa batin, ingin rasanya aku cepat sampai rumah dan berlari kearah David kemudian mengatakan segala rasa yang berkecamuk di dalam batinku.


Akhirnya sampailah kami dikampus, Ayah sudah menunggu depan kampus usai berpamitan dengan Deva Devi aku berjalan ke arah ayah ingin segera memeluk ayah.


"Ca!" suara yang membuatku berbalik kebelakang, ternyata kak Fikri.


Dan aku pun hanya tersenyum, dia pun tersenyum dan melambaikan tangannya dengan mengucapkan hati-hati ke arahku, mungkin itu yang iya katakan karena terlalu jauh jarak kami aku hanya membaca bahasa bibirnya.


"Ayah, kangen" ujarku


"Kangen? Cuma dua hari pergi udah kangen, ada-ada aja kamu ini, udah ayo masuk ibu sudah menunggu di rumah" jawab ayahku.


Aku masuk ke mobil, memang rasanya aneh cuma 2 hari enggak dirumah udah sekangen ini sama ayah ibu, apalagi kalo harus lama jauh dari mereka.


"Gimana campingnya, seneng?" Tanya ayahku.


"Seneng!" jawabku dengan ekspresi datar.


"Alhamdulillah" ujar ayahku.


Kami sampai dirumah aku melirik ke arah rumah David, tapi rumahnya kosong enggak ada mobil terparkir di sana. Mobil berhenti dan ibu sudah menunggu kami di depan aku berjalan keluar, sembari melirik ke arah rumah David berharap dia cepat pulang ada banyak hal yang ingin aku katakan.

__ADS_1


Ibu menghampiriku dan kami masuk ke dalam rumah, selesai bersih-bersih kami sarapan. Setelah sarapan aku ke kamar, keluar teras kamar melihat ke arah rumah David tapi dia belum juga ada dirumah.


Akhirnya malam datang, aku membuka jendela dan keluar teras, aku melihat ke arah rumah David lagi tapi dia belum juga pulang, kemana si dia fikirku.


Sampai pagi aku berjalan keluar rumah untuk berangkat ke kampus, kemudian aku menengok ke arah rumah David, tapi tetap nihil.


Ya Tuhan kemana David aku sangat-sangat ingin bertemu dengan nya. Aku berada di kampus terlalu pagi, masih sepi seperti hatiku yang sepi. Perlahan aku berjalan menikmati udara pagi yang sejuk di kampus, ku sapa para pegawai kebersihan kampus yang sedang sibuk membersihkan daun-daun yang berguguran.


Aku terhenti sejenak seperti mendengar sayup-sayup suara akustik, kemudian aku mempercepat langkahku dan suara itu semakin terdengar jelas, ya itu suara akustik David.


Tuhan terimakasih akhirnya aku bisa ketemu David, aku berlari kesana kemari mencarinya, setiap ruang aku masuki, ruang musik, gedung olahraga, auditorium tapi tidak ada juga.


Aku terus mencari sampai tak tertahan air mata ini mengalir.


"David kamu dimana? kenapa kamu buat aku jadi begini?" Ujarku dalam benakku.


Aku terus mencari dan mencari sudah semua ruangan aku sambangi tapi tak ada juga, dan berakhir di ruang lantai paling atas kampus paling ujung.


Aku buka perlahan berharap bisa melihat wajah David, tapi nyatanya nihil. Aku berpaling dan melemah duduk didepan ruang itu, kemudian menutup dan memeluk tubuhku sendiri menahan air mata yang tak mau berhenti ini.


"Ya Allah jika ini takdirku aku ikhlas menerimanya, tapi aku mohon ya Allah hentikan semua ini jangan kau buat aku terus-menerus terpuruk dalam bayang-bayang tentangnya, jika dia di takdirkan untuk ku ku mohon Ya Allah persatukan kami, pertemukan kami. Jika dia bukan takdirku, buatlah hati ini ikhlas melupakannya!" Ujarku dalam benakku.


Suara itu belum hilang dan makin nyaring terdengar di telinga ku, kemudian aku bangkit dan kembali berlari menuruni tangga dan pergi ke lantai dasar.


Dan berhenti di ruang musik, aku buka pintunya yang ku lihat sudah sedikit tebuka, tapi ternyata tidak ada juga, hanya ku dapati CD yang menyala dan memainkan akustik David.


Aku melihat kesekeliling ruang musik tak ada orang satu pun, aku mendekat dan ada selembar kertas yang ada di atas CD yang bertuliskan thanks to your smile aku memeluk kertas itu dan menangis sejadi-jadinya.


ooOoo

__ADS_1


__ADS_2