Diary Ecca

Diary Ecca
Part 15


__ADS_3

...Rahasia Hati...


"Ya ampyun Ecca... jadi dari tadi kamu bengong tu karna nggak tau maksud ucapan si nenek, ngomong dong sama aku, putu itu artinya cucu, bukan kue jawab Devi masih terus sayang tertawa memandangku.


"Oow, maaf aku kan nggak tau" dengan memancarkan ekspresi malu ku.


"Ya udah aku mau mandi dulu, oh ya kamar kalian ada di ujung sana mentok terus belok kiri, walau sederhana semoga kalian betah ya"


"Ya, makasi Vid" jawab Devi. Kami berjalan menuju kamar yang di arahkan David. Kamar yang sederhana tapi menyenangkan, ada satu jendela yang cukup besar terbuat dari kayu dengan sela-sela untuk ventilasi yang saat di buka akan terlihat pemandangan persawahan, kebun-kebun milik warga dan tampak jelas bukit-bukit yang indah.


"Ca, David baik juga ya" kata Devi


"Iya, udah baik, sopan, sederhana, perhatian, ganteng lagi" saut Deva


ooOoo


Aku adalah aku, aku adalah ceria yang bersembunyi di balik sepi. Aku adalah cahaya yang bersembunyi didalam redup, aku adalah amarah yang bersembunyi di bawah tentram. Aku adalah aku yang mencintaimu yang selalu hatimu tutupi.


Faktanya orang-orang yang mendasarkan penghargaan terhadap diri mereka sendiri pada ambisi untuk selalu benar, menghalangi diri mereka sendiri untuk bisa belajar dari kesalahan itu. Ternyata benar adanya bahwa setiap orang selalu pergi, agar tahu bagaimana rasanya pulang kepada pelukan yang jarang sekali kita anggap.


Langit tahu segalanya, tentang rindu yang meraung minta makan. Tentang kepulan dusta dari sela-sela bibir, diantara dentuman musik keras dipojok ruangan, mengenai petikan rasa di gerbong yang berkarat.


"Ya alhamdulillah" ku jawab pertanyaan mereka dengan santai.


"Took...took..toook!" suara ketukan pintu kamar kami


"Ca... kalo udah siap ayo kita makan bareng, nenek udah nyiapin makanan"


"Iya, kita nyusul" ternyata David. Kami beranjak keluar kamar, dengan sabar Deva dan Devi menuntunku kearah meja makan.


Sebenarnya aku mau tiduran saja, nggak tahan nahan nyeri kakiku kalo jalan. Tapi nggak enak harus menolak permintaan David dan neneknya.


"Aduh-aduh kasian sekali cucuku yang satu ini, ayo


nduk di makan dulu setelah itu nenek akan buatkan ramuan dan nenek pijat kakimu di jamin cespleng" kata nenek David dengan bangga yang ku balas dengan senyuman dan tawa kami.

__ADS_1


Setelah makan aku kembali kekamar, sedangkan Deva, Devi dan David mereka pergi jalan-jalan keliling kampung. Sebenernya pengen ikut, tapi kakiku nggak bersahabat banget.


"Took...took....toook!.... nduk ini nenek"


"Iya nek... masuk saja"


"Nenek sudah buatkan ramuannya, sini kakinya nenek urutin" dengan aroma ramuan yang cukup membuat mual.


"Memang baunya nggak enak tapi kasiatnya wahh, kalah sama obat-obat jaman sekarang" ternyata nenek tau apa yang aku pikirkan.


"Awwwww.... sakit-sakit nek"


"Ndak papa cuma sebentar, untung cepat dibawa kesini kalo nggak kan bahaya, sekarang memang sakit tapi setelah dipijat dan diberi ramuan ini insyaallah


cepet pulih " perhatianku kearah nenek yang sedang memijat kakiku, sambil menahan rasa sakit yang hebat serasa ingin pingsan.


"Ya, sudah... nenek perban dan tak kasi ramuan ini, besok nenek pijat lagi insyaallah cepet pulih, jangan di buat jalan dulu ya, nanti kalo mau makan biar nenek yang antar kesini"


"Iya nek, makasi nek"


"Sama-sama nduk, ya sudah langsung tidur saja pasti lelah baru perjalan jauh dari kota" ku sambut dengan senyum dan anggukan kepalaku.


Penasaran aku mencoba berdiri berjalan ke arah jendela dan melihat aktifitas warga di kebun yang bisa kulihat dari jendela kamar. Ternyata Deva Devi ada di sana mereka melihatku dan melambaikan tangan. Aku sambut dengan lambaian tanganku juga.


"Pengen jalan kesana?" suara yang membuatku melonjak kaget dan langsung menoleh ke belakang sambil memegang dadaku yang dek dekan karna kaget. Ternyata David yang sedari tadi di ambang pintu memperhatikanku entah sejak kapan.


"Hah kamu ngagetin aja...eem... iya si tapi-" melihat kearah kakiku yang terbalut dengan perban, dan kembali ku lihat ke arah David yang tersenyum melihatku.


"Nggak pa-pa, bentar lagi juga sembuh.. nurut aja apa kata nenek, kalo udah mendingan nanti aku janji, ajak kamu ketempat favorit ku"


"Hem tempat favorit kamu? Srius?!" disambut dengan anggukannya.


"Ok! Janji ya" dia jawab dengan anggukan lagi. Tak berapa lama kemudian nenek David datang.


"0ow sudah bangun, ini sarapan dulu, setelah itu nenek lanjutkan memulihkan kakimu"

__ADS_1


"Berapa kali lagi harus di pijit nek?" tanyaku penasaran.


"Lima kali lagi" ekspresi wajah kaget ku.


"Hhh... nenek bercanda, Cuma satu kali lagi setelah itu cuma nenek perban pake ramuan ini saja" ku hela nafas legaku.


Dengan penuh perasaan nenek David merawat ku seperti cucunya sendiri. Membuatku nyaman saat dengannya, aku sudah lama tak merasakan hal semacam ini. Nenekku meninggal saat usiaku lima tahun, jadi wajar kalau aku merasakan sosok nenekku kembali lagi. Memang benar nyeri kakiku berkurang nggak sesakit kemarin. Semoga cepet sembuh dech, penasaran dengan janji David.


"Ecca... tau nggak tadi kita ketemu cowok ganteng-ganteng B.G.T"


"Iya, gagah-gagah, sopan, ramah, haduh pokoknya betah B.G.T kalo harus disini terus" heboh Deva Devi


"Ya udah kalian tinggal disini aja, tapi aku pulang ya" tambahku.


"Hem, andai rumah kita disini ya"


"Iya, ini-ni yang namanya surga dunia accchhh". Menghempaskan tubuh mereka ke kasur secara bersamaan, yang nggak sengaja melindas kakiku yang sakit sontak aku berteriak.


"AwwwwW. Deva, seneng si seneng tapi ati-ati dong sakit tauk"


"Aduh... iya-iya maaf-maaf. aku pijit ya"


"Hem... jangan tambah parah dech kalo kamu yang mijit" jawabkku dengan mengindar dari sentuhan Deva.


"Makan yok, laper ni" pungkas Deva.


"Eem dasar, tunggu dong yang punya rumah aja belom nawarin" tangkasku.


"Iya ni,, gendut" ledek Devi, yang membawa senyum kami dan membuat Deva cemberut tak berapa lama David datang.


"Kalian kalo mau makan, makan aja udah di siapin sama nenek, nenek lagi ada perkumpulan sama warga"


"Oow gitu, baik B.G.T si nenek tau aja kalo aku laper" jawab Deva dan dibalas dengan senggolan tangan Devi yang mencoba menghentikan ucapan Deva yang sedikit membuat kami tidak enak.


"Ya udah kalian makan saja, kebetulan aku udah makan tadi biar aku yang nemenin Ecca di sini, iya Ca ni makanan kamu... kata nenek kamu belum boleh jalan, jadi aku bawain kesini makanannya"

__ADS_1


"Eem... iya makasi" sembari menerima nampan berisi makanan dari David.


ooOoo


__ADS_2