Diary Ecca

Diary Ecca
Part 13


__ADS_3

...Cinta Pertama...


"Hhh mau nembak kamu kalik... soalnya akhir-akhir ini kayaknya dia sering nyarin kamu, tanya-tanya kamu, dan diam-diam curi-curi pandang sama kamu... mungkin dia jatuh cinta pada mu"


"Hust! Ngacok dech kalo ngomong.. mungkin ada sesuatu yang lain yang mau dia omongin"


"Lo siapa tau... emang kamu nggak ngrasa aneh ya, bisa dilihat kalik dari cara dia ngomong, mandang kamu dan bahasa tubuhnya juga.. kamu tu nggak peka si"


"Ya mungkin iya... aku juga ngrasa aneh si Vi, akhir-akhir ini kak Fikri tingkahnya aneh, tapi mungkin karena aku juniornya jadi mencoba buat deketin ngasi-ngasi info"


"Ya tuhanku Ecca!... kamu tu kalo masalah mapel si ok! jagonya, tapi kalo masalah ginian, ya Allah oon B.G.T"


"Ya terus aku harus gimana dong, aku juga nggak mau mikirin gituan dulu ach, kamu kan tau aku pengen fokus kuliah dulu aja, capek tau sekolah terus...emang kamu nggak capek?"


"Ya... ok-ok aku setuju, tapi nggak ada salahnya kan sedikit kamu buka hati untuk cowok, lagian aku yakin masalah cowok nggak akan buat kamu down"


"Ya kita lihat aja nanti nunggu takdir cinta dari Allah ... bener nggak..hhh"


ooOoo


Aku adalah aku, aku adalah ceria yang bersembunyi di balik sepi. Aku adalah cahaya yang bersembunyi didalam redup, aku adalah amarah yang bersembunyi di bawah tentram. Aku adalah aku yang mencintaimu yang selalu hatimu tutupi.


Faktanya orang-orang yang mendasarkan penghargaan terhadap diri mereka sendiri pada ambisi untuk selalu benar, menghalangi diri mereka sendiri untuk bisa belajar dari kesalahan itu. Ternyata benar adanya bahwa setiap orang selalu pergi, agar tahu bagaimana rasanya pulang kepada pelukan yang jarang sekali kita anggap.


Langit tahu segalanya, tentang rindu yang meraung minta makan. Tentang kepulan dusta dari sela-sela bibir, diantara dentuman musik keras dipojok ruangan, mengenai petikan rasa di gerbong yang berkarat.

__ADS_1


Awan gelap tersenyum getir, sebongkah pamit menangis pilu, tatkala menghantam hati tak berdosa, begitu kelam, begitu banyak salah paham, nanti apalagi?.


Ku pandangi langit, serdadu di logika mulai meradang, menuntut agar bahagia di kembalikan. Dalam kericuhan yang amat mendalam, jalan mana yang akan dipilih, bertahan atau melepaskan?.


Kalau saja aku mampu sudah aku kejar langkahmu agar kita berjalan berdampingan. Kalau saja aku mampu, sudah ku hiasi hari-hari mu dengan penuh senyuman. Kalau saja aku mampu, sudah ku pastikan aku pantas untuk kau sandingkan.


Kalau saja aku mampu, sudah aku balikkan waktu agar saat itu tak jadi mengenalmu. Kalau saja aku mampu, sudah ku arungi hariku tanpa harus memikirkan mu. Kalau saja aku mampu, sudah ku tarik jiwaku yang ingin berada di sebelah mu. Kalau saja aku mampu, sudah ku minta hatiku untuk berhenti merasakan mu.


Ada dua hal yang begitu setia menjadi pendamping dalam hidup, perkenalkan dia bernama tawa dan air mata. Kita tidak akan pernah tahu keadaan seperti apa yang akan kita tempuh dalam hari-hari kedepan. Kita juga tidak akan pernah tahu pertemuan seperti apa yang akan membuat kita bahagia atau malah sebaliknya.


Detik-detik yang selalu berjalan adalah parade dalam mensyukuri anugerah Tuhan. Karena pada hakikatnya, telah menempuh kehidupan saja adalah anugerah terbesar yang sudah juta terima. Keadaan juga memiliki pasang surutnya, kebahagiaan dan kesedihan akan berputar pada porosnya.


Aku pernah menjadi tempat selepas bahagia mu habis, yang kau bagi dari deras air mata, yang menampung luka dari buah hasil perbuatan orang lain.


Ada yang sempat menutup rapat hatinya dan tidak lagi berniat untuk membuka. Namun, penyusup yang baik akan hadir untuk membenahi setiap luka yang tercipta di masa silam.


Menjadi apa adanya tanpa topeng dan basa basi tidak selalu membuat kita banyak teman. Tapi sekali kita mendapatkannya, maka itu kabar gembira. Hanya sahabat sejati yang selalu memahami kita apa adanya. Mereka berbicara kurang berkali-kali, protes sana sini. Benahi yang bukan urusannya, lupa tugas yang utama yaitu urus urusan mu sendiri.


Aku pernah hancur karena terlalu percaya, pernah juga patah karena memilih orang yang salah. Aku pernah terkubur dalam-dalam di dalam hati seseorang yang ku selami dengan niat untuk bisa aku mengerti. Aku pernah memutuskan berjuang untuk hati yang memperjuangkan orang lain.


Ketika kau hancur dan dia telah pergi jangan tanyakan apakah dirimu belum cukup masalahnya, kau jauh lebih cukup dia saja yang tak sanggup.


Memiliki aku, aku ingin begitu bernilai di matamu, sampai nanti suatu saat bila kau tak memiliki yang apapun, kau masih tersenyum karena masih bisa memiliki aku.


"Ach kamu tu nggak bisa di ajak serius"

__ADS_1


"Hhh.. ya kan biar nggak cepet tua... srius-srius nanti stress Lo"


"Ca... Ibu masuk ya" suara ibu mengetuk pintu kamarku.


"Eh udah dulu ya ada ibu... daaa"


"Ok... daaa".


"Sini ibu urut kakimu biar nggak kaku" ku sambut dengan senyum lembut ku.


"Nduk... tadi David kesini, nanyain kamu tapi pas kamu belum pulang"


"Nanyain? emang kenapa bu?" tanyaku menujukkan ekspresi heran dan penasaran.


"Katanya si mau ngajak kamu ke tempat neneknya"


"Haaa... ngapain baru juga kenal... udah main ngajak-


ngajak aja"


"Aduh jangan suudzon gitu ach, dia tu mau ngajak kamu kesana karna kebetulan neneknya tukang urut siapa tau bisa bantu kamu... gitu, lagian ibu liat David baik kok jadi nggak mungkin dia macem-macem, ibu percaya sama dia walapun baru ibu kenal, tapi ibu merasa dia itu.. ya baiklah."


"Eem gitu"


"Tapi kalo kamu nggak mau ya nggak pa-pa" aku melihat ibu, sembari berfikir ada baiknya juga aku menerima tawaran itu, dari pada harus pake perban terus yang nggak jelas kapan bisa hilang ni nyeri kaki.

__ADS_1


"Eem... iya dech bu aku mau.. tapi di temenin sama Deva Devi ya, masak cuma berdua sama David kan nggak enak"


ooOoo


__ADS_2