
...Tentang Rasa...
"Nduk... tadi David kesini, nanyain kamu tapi pas kamu belum pulang"
"Nanyain? emang kenapa bu?" tanyaku menujukkan ekspresi heran dan penasaran.
"Katanya si mau ngajak kamu ke tempat neneknya"
"Haaa... ngapain baru juga kenal... udah main ngajak-ngajak aja"
"Aduh jangan suudzon gitu ach, dia tu mau ngajak kamu kesana karna kebetulan neneknya tukang urut siapa tau bisa bantu kamu... gitu, lagian ibu liat David baik kok jadi nggak mungkin dia macem-macem, ibu percaya sama dia walapun baru ibu kenal, tapi ibu merasa dia itu.. ya baiklah."
"Eem gitu"
"Tapi kalo kamu nggak mau ya nggak pa-pa" aku melihat ibu, sembari berfikir ada baiknya juga aku menerima tawaran itu, dari pada harus pake perban terus yang nggak jelas kapan bisa hilang ni nyeri kaki.
"Eem... iya dech bu aku mau.. tapi di temenin sama Deva Devi ya, masak cuma berdua sama David kan nggak enak"
ooOoo
Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik. Bukan, bukan karena kata sementara itu menyenangkan, hakikatnya, yang singkat tak akan pernah sepadan.
Bukan juga karena kata selamanya terdengar mustahil, sejatinya taka ada yang bisa terjadi di bumi, kalau kau bertanya kenapa, sebenarnya aku juga tidak tahu.
Aku bukan perasaan. Aku hanya berada di tubuh seorang perempuan yang tiap langkahnya berhadapan dengan perasaan. Dan sejujurnya tak enak, membosankan, mudah senang, mudah kecewa, mudah sedih, tapi juga mudah memaafkan.
Kadang ingin sekali aku hidup di dalam pikirannya, iya dia seorang laki-laki yang dari tadi cuma mendengar, cuma membaca, tapi tak pernah merasa.
Gemericik suara hujan menggertap di dedaunan. Suara runcing berdenting di kalbu, serasa menyebut namaku. Suaramukah itu, kekasih?
__ADS_1
Bagaimana mesti menerjemahkan perasaan rindu seperti ini? Jarak, seperti hamparan kuburan tua yang angker dan menakutkan. Menoreh luka yang dalam bagai getar yang datang dan pergi. Kilat dan guruh tak letih sabung menyabung di langit.
Gelap bayangan hutan merasuk mataku seperti hantu. Dan siut angin merintih seperti mendesakkan sejuta tanya yang tak kutahu apa jawabnya, "Apakah kau juga tengah memikirkan diriku saat ini?"
Makin larut aku dalam perjalanan sendiri. Menghitung langkah, di tengah malam berkabut dan jalan lengang sunyi. Mengejar muram sosok rembulan yang larut dalam tarian hujan. Samar pucat parasnya menggigil sendirian. Dan suara itu masih terdengar, menyeru dari kejauhan. Tak henti henti, memangil namaku.
Kau pancarkan kebahagiaanmu dari mata air yang tersembunyi. Seperti ketika laut pasang di bawah tatapan lembut sang matahari mendatangkan kegembiraan yang tak terlukiskan. Sepasang lima jari yang terkembang ke empat penjuru samudra saat menghantarkan puja kepada yang maha kuasa. Ia yang memberi kita segala kenikmatan. Ia yang kepadanya kita berpulang.
"Hem.. alhamdulillah, iya mungkin itu lebih baik... Kalo gitu ibu akan siapkan baju ganti kamu. Karena mungkin harus nginep.. soalnya rumah neneknya agak jauh dari sini tepatnya di daerah pegunungan"
"Wahh... enak ni bisa sambil liburan"
"Ya... lagian udah lama kamu nggak liburan, ya sudah kmu hubungi Deva Devi, ibu akan memberi tahu David"
"Ok bu" jawabku dengan senyum dan menyambut ciuman di keningku dari Ibu. Aku memberi kabar Deva Devi, dan jawabnya mereka nggak akan pernah nolak kalo masalah liburan.
Setelah subuh kami mulai perjalan di perjalanan kami berbincang- bincanng kesana kemari, walaupun baru kenal David bebrapa hari tapi kami cepat akrab seperti sudah lama kenal dan nyambung juga saat berbincang.
"Oh iya, apa kamu dulu juga tinggal di desa nenekmu Vid?" tanyaku memecah keheningan.
"Eem.. iya dulu waktu umur tujuh tahun sampe SMP aku tinggal sama nenek, soalnya orang tuaku lagi sibuk-sibuknya ngurusin usaha mereka jadi aku di titipin ke nenek"
"Eem gitu... enak ya bisa tiap hari hirup udara sesegar ini"
"Ya gitu dech... makanya kalo lagi kangen aku sering kesini itung-itung cari udara sehat yang gak kita dapet di kota"
"Iya ya... kapan-kapan boleh dong ikut kesini lagi hhhh"
"Boleh, tapi aku pasang tarif ya...hhh"
__ADS_1
"Hem, balas dendam ni ceritanya" di sambut dengan tawa kami.
Kalo dipikir-pikir David asik juga orangnya, walupun dilihat dari materi lebih dari cukup tapi tampilannya sederhana nggak neko-neko. Lucu juga si, ah apa si kok jadi mikirin dia.
"Ca... bangun udah sampe" pelan membuka mata, mungkin karna kecapean sampe nggak nyadar aku ketiduran. Saat ku buka lebar mataku, betapa terkagumnya aku saat melihat panorama gunung yang sangat indah.
Gungung didepan ku menjulang tinggi seakan bisa cepat kujangkau, suasana desa yang ramai dan penduduknya yang ramah. Kami berjalan menuju rumah kayu yang sederhana, rapi, dan lumayan luas.
Nenek David menyambut kami di pelataran rumahnya. Beliau mengikatku dengan alrmarhum nenekku, dengan busana kebaya khas jawanya yang ia kenakan dengan sanggul rambutnya dan kelihatan sangat ramah sekali menyambut kami, mungkin usianya sekitar 80an.
"Alhamdulillah, wes tekan putu-putuku ayo-ayo ngger ndang mlebu, nenek udah buatin makanan kalian makan dulu pasti laperkan"
"Iya nek, tapi David mandi dulu dech"
"Oow ngono, yo wes ron0-rono"
"Ca, kenapa kok bengong?"
"Eem nggak, lagi mikir aja putu-putu apa si? Bukannya makanan semacem kue kukus itu ya?" Dengan polosnya aku tanya dan sontak membuat Deva, Devi dan David ketawa geli yang membuatku bingung memang ada yang aneh dengan pertanyaanku.
"Ya ampyun Ecca... jadi dari tadi kamu bengong tu karna nggak tau maksud ucapan si nenek, ngomong dong sama aku, putu itu artinya cucu, bukan kue jawab Devi masih terus sayang tertawa memandangku.
"Oow, maaf aku kan nggak tau" dengan memancarkan ekspresi malu ku.
"Ya udah aku mau mandi dulu, oh ya kamar kalian ada di ujung sana mentok terus belok kiri, walau sederhana semoga kalian betah ya"
"Ya, makasi Vid" jawab Devi. Kami berjalan menuju kamar yang di arahkan David. Kamar yang sederhana tapi menyenangkan, ada satu jendela yang cukup besar terbuat dari kayu dengan sela-sela untuk ventilasi yang saat di buka akan terlihat pemandangan persawahan, kebun-kebun milik warga dan tampak jelas bukit-bukit yang indah.
"Ca, David baik juga ya" kata Devi
__ADS_1
"Iya, udah baik, sopan, sederhana, perhatian, ganteng lagi" saut Deva
ooOoo