
...Kamu & Aku...
Jarum jam terus berdetak kencang ke arah sumbu yang tak terbatas dengan penuh ke haluan aku terus bertanya kepada diriku sendiri, hari ini apakah akan lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya atau malah akan memberikan aku kesibukan uang sebenarnya membawaku pada rasa takut untuk memulai perubahan.
Hari ini free kuliah, ya hari sabtu minggukan jatahnya kita libur, biasanya aku cuma dirumah ngabisin waktu bareng ibu bereksperimen bikin-bikin makanan, tapi hari ini rasanya nggak semangat.
Untuk menghilangkan kegalauanku hasil kemarin, aku cari kesibukan baca novel, baca novel malah tambah ngingetin secara novelnya bertema melo-melo. Aku cari kegiatan lain, aku liat pensil dan buku gambar, karena selain hoby baca novel aku hoby juga yang namanya gambar.
Aku mulai membuat pola, pola wajah yang terus aku goreskan pensil menuruti naluriku seakan tanganku sudah tau apa yang harus ia gambar, waktu gambarnya selesai aku amati, ternyata gambar hasil coretanku menghasilkan gambar seorang lelaki yang baru ku kenal, ya itu David. Membuatku bingung dan jadi senyum-senyum sendiri, aku beranjak dari dudukku dan melangkah ke jendela, aku lihat kearah rumah David, sepertinya dia pergi soalnya mobilnya nggak ada.
ooOoo
Jarak terkadang membuatnya menjadi asing, membuat seseorang tak percaya akan kekuatan cinta. Silangit yang sama kamu berada, namun belum kamu temukan satu sosok pilihan-Nya.
Bagiku hidup hanya selalu hitam dan putih, kebahagiaan akan selalu berbanding lurus dengan kesedihan. Kita hanya menunggu waktunya bergiliran bukan?. Begitupun dengan kesunyian. Hari ini terasa ramai, mungkin esok kita akan berdialog lagi dengan kesendirian.
Meski dalam keramaian aku masih merasa kesepian, entah kenapa sunyi sepi ku rasa tanpa seseorang yang bisa menemani ku di kesendirian ini, tak terasa sudah semakin jauh aku berjalan sendiri.
Egois ku rasa bila aku mengeluh saja tanpa mau berusaha, entah kenapa goresan pena ku sampai pada titik kosong dimana tinta hitam yang ku tulis diatas kertas putih ternyata telah habis, setiap yang ku tulis sesuai dengan perjalanan hidup dimana hati menangis menjerit menceritakan setiap perjalanan hati yang lirih, meski sang waktu berbicara dengan nada yang lirih sambil di temani sang piano yang terus berbunyi dengan merdunya seperti melodi sendu yang menohok hati.
Jarum jam terus berdetak kencang ke arah sumbu yang tak terbatas dengan penuh ke haluan aku terus bertanya kepada diriku sendiri, hari ini apakah akan lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya atau malah akan memberikan aku kesibukan uang sebenarnya membawaku pada rasa takut untuk memulai perubahan.
Aku tutup korden jendela dan berpaling tapi tiba-tiba suara guntur terdengar, seakan Tuhan tau apa yang sedang aku rasakan hingga ia turunkan hujan untuk menghiburku, hemmm terimakasih Tuhan, aku bersiap keluar kamar menunggu hujan di teras depan kamarku dan tak lama kemudian hujan turun, ya turun dengan perlahan yang semakin lama semakin deras.
Aku berpegangan tiang-tiang pagar teras dengan wajahku ku tengadahkan keatas menghadap langit sembari ku pejamkan mataku menikmati setiap tetesan air hujan yang mulai membasahi tubuhku, hingga aku larut olehnya...
"Ecca kenapa ujan-ujanan, ayo masuk nanti masuk angin kamu!" Teriak ibuku dari dalam kamar dengan wajah cemas, aku hanya menoleh dan tersenyum.
__ADS_1
Aku berlari kearah ibu dan menariknya keluar, jadi dech tawa canda kami pecah baru kali ini kan denger anak udah kuliah main ujan-ujanan sama ibunya hhh.
Hasil ujan-ujanan tadi malemnya aku jadi flu dech, tapi alahamdulillahnya ibu nggak, ya tau kan gimana tersiksanya orang flu, bersin terus dan hidungnya mampet. Syukuri aja itukan tanda Allah sayang sama aku, diingetin biar nggak hoby ujan-ujanan, walaupun flu aku pengen ke danau ngadem, udaranya lagi enak banget sayang kalo nggak liat danau.
"Bu, aku ke danau ya bentar!" Ujarku.
"Ya jangan lama-lama ya sayang, kamu kan lagi demam!" Seru ibuku seraya menginginkan.
"Ok, mom" ledekku.
Aku berjalan berlahan melihat ke arah rumah David tenyata mobilnya belum ada di teras mungkin belum pulang.
"Malem-malem jalan sendiri nggak takut mbk Ecca?". Tanya pak satpam.
"Takut sama siapa?" Tanyaku.
"Hhh bapak bisa aja, kalo setannya kayak bapak si saya nggak takut malah saya ajak ngobrol, bapaknya lucu si hhhh". Candaku yang membuat kami tertawa.
Sesampainya di danau aku duduk dan mataku terbelalak terpesona melihat banyak kunang-kunang malam ini, hem Ya Tuhan sebegitu baiknya engkau hingga kau sebarkan kunang-kunang untuk menemaniku, aku melihat mereka beterbangan indah banget.
"Lagi demam, sepet-sempetnya dingin-dinginan disini!" Seru seseorang dari kejauhan, suara yang mengagetkanku, seperti aku kenal.
"David, sejak kapan di situ?" Tanyaku.
"Baru 10 menit yang lalu si" ujarnya.
Sepuluh menit? udah sejak aku berangkat kesini dong orang aku baru semenitan disini aneh.
__ADS_1
"Masa? kok aku nggak liat?" Tanyaku.
"Aku kan bisa ngilang...hhh" jawab David.
Canda yang membuat kami tertawa, dia duduk di sebelah ku, tiba-tiba aku bersin sampe tiga kali.
"Udah tau sakit bukannya istirahat!" Seru David seraya mengingatkan ku.
"Iya si, tapi pengen kesini si, apalagi pas ada kunang-kunang gini kan jarang" jawabku polos.
Dia melihatku dan memegang jidatku dengan tangan kirinya.
"Masih panas, harusnya kamu istirahat Ca, makanya lain kali jangan ujan-ujanan!" Seru David.
Sontak aku kaget kenapa dia bisa tau, bukannya dia nggak dirumah tadi.
Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik. Bukan, bukan karena kata sementara itu menyenangkan, hakikatnya, yang singkat tak akan pernah sepadan.
Bukan juga karena kata selamanya terdengar mustahil, sejatinya taka ada yang bisa terjadi di bumi, kalau kau bertanya kenapa, sebenarnya aku juga tidak tahu.
Aku bukan perasaan. Aku hanya berada di tubuh seorang perempuan yang tiap langkahnya berhadapan dengan perasaan. Dan sejujurnya tak enak, membosankan, mudah senang, mudah kecewa, mudah sedih, tapi juga mudah memaafkan.
Aku tak pernah tau akan arti kata cinta. Tak tau rasanya mencintai dan dicintai, tapi aku yakin cinta itu ada dan akan datang padaku. Aku tak mau mencari, aku hanya akan menunggu cinta yang dikirim oleh-Nya. Karna aku yakin yang sesungguhnya dihadirkan olehNya akan lebih indah tanpa aku mencarinya.
Sampai akhirnya aku melihatnya seorang laki-laki yang sempurna dimataku. Dia sopan, santun, cerdas dan pengertian, dekat dengannya aku merasa nyaman.
ooOoo
__ADS_1