
...Persemaian Cinta...
Aku menatap kearahnya, aku takut jika aku jawab aku akan menyakiti hatinya, aku hanya diam dan memalingkan pandanganku.
"Ayolah Ca... bilang saja, aku enggak papa kok, kita kan teman, haruskah kita saling menutupi setelah aku mengungkapkan semua perasaan ku ke kamu" ujarnya.
Kemudian dia mengelus kepala ku, yang mengingatkan ku akan kebiasaan David.
Setiap hal ketika aku menunggumu, waktu berjalan menjadi lebih lambat untukku, malam berjalan lebih lambat, siang berjalan lebih melambat, jam dinding bergerak lebih lambat, usia bertambah lebih lambat, dan saat mana jantung ku berdetak lebih cepat melebihi kecepatan cahaya oleh keinginan bertemu denganmu.
Ada kebahagiaan yang aku rasa bersama dengan cinta dan juga setiap hal yang aku hayalkan dengan itu aku merasa bahwa Tuhan selalu bersamaku menjaga ku dan juga melindungi ku, karenanya aku kuat serta bahagia.
ooOoo
Ku hela nafas panjang dan aku mulai jujur padanya...
"Namanya David, dia tetangga baruku yang enggak tau kenapa walaupun baru kenal dia begitu akrab dengan ayah, ibu, dan aku pun begitu. Setiap sama dia aku merasa nyaman, aku kira perasaanku ini enggak lebih dari cuma perasaan sayang ke tetangga sekaligus sahabat, tapi saat dia menghilang aku merasa kehilangan yang begitu dalam dan rasanya sakit banget, tapi hari ini aku akan coba buat lupain dia, bismilah" ujarku panjang lebar.
Kemudian aku melihat kearah kak Fikri yang tersenyum melihatku, aku membalas dengan senyumku.
"Jangan dilupakan, tapi simpanlah dalam hati kamu karena perasaan itu datangnya dari Allah dan akan pergi juga karena Dia, yang harus kamu lakukan bukan menghapusnya tapi buatlah perasaan itu menjadi motivasimu, untuk lebih tegar, ambil sisi positifnya, ingat saat kesenangan yang kamu dapatkan darinya, dan jadikanlah itu sebagai motivasimu, dia akan merasa menyesal karena telah meninggalkan cinta yang kamu berikan" ujar kak Fikri.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk, ya benar kata kak Fikri aku enggak berhak menghapusnya. Hanya Allahlah yang berhak menghapusnya, makasih David udah membuatku merasakan betapa indahnya jatuh cinta dan betapa sakitnya kehilangan, dimanapun kamu, aku masih nunggu kamu dateng dan hati ini masih ada untuk kamu.
"Ya Allah berikanlah jalan yang terbaik untukku!" Seruku dalam benakku.
__ADS_1
Pulang kuliah, sampai didepan rumah aku melihat kearah rumah David tapi dia belum juga ada dirumah, tengah malam aku bangun untuk sholat tahajud, memohon petunjuk dari Allah.
"Ya Allah engkau yang berikan perasaan ini untuk hamba dan hamba yakin engkau pula yang akan menghilangkan rasa ini untuk hamba, Ya Allah tunjukkanlah jalan yang terbaik untuk hamba, tenangkanlah hati hamba ya Allah, pertemukanlah hamba dengan David dimanapun dia berada kembalikanlah dia kehadapan hamba agar hamba bisa mengungkapkan segala perasaan hamba ini padanya, ya Allah hamba yakin apapun takdir yang kau berikan pada hamba itulah takdir yang terbaik untuk hamba" ujarku dalam benakku.
Aku keluar kamar, berjalan ke depan teras kamar aku melihat kearah rumah David tapi tetap nihil, aku kembali masuk dan tidur.
"Ca!" Suara yang mengejutkan ku.
"David, kamu kemana aja? kamu jahat kenapa kamu pergi gitu aja, setelah kamu berhasil mengambil hatiku!" Seruku.
Kemudian dia hanya tersenyum.
"Siapa bilang aku pergi, aku ada di sana!" Serunya sembari menunjuk kearah hati ku.
"Tapi kenapa kamu menghilang gitu aja?" Tanyaku.
Dia berjalan menjauh dari pandanganku menuju cahaya putih yang menyilaukan mataku, aku berteriak memanggil namanya, tapi ia tak sedikitpun menoleh kearah ku.
Aku terbangun dari tidurku, ternyata semua itu hanya mimpi tapi seperti nyata, apa arti semua perkataan David ya Allah lindungilah David.
Tak berapa lama adzan subuh berkumandang aku bangun dan sholat berjamaah dengan ayah.
Suara telfon berbunyi ibu bergegas mengangkatnya...
"Assalamualaikum!"
__ADS_1
"Iya benar, dengan siapa ya, ooh neneknya David, kebetulan saya mengucapkan terimakasih atas pertolongan nenek anak saya jadi sembuh!" Ujar ibuku.
Aku kaget mendengarnya enggak mungkin tanpa alasan nenek David telfon kerumah ku.
Kemudian aku berjalan mendekati ibu...
"Ya Allah, sejak kapan nek, baik-baik nek saya akan suruh terimakasih nek, Ecca segera kesana, walaikumsalam" ibu segera menutup telfon dengan wajah cemas.
"Ca, David masuk rumah sakit, cepat kamu kesana dia terus manggil nama kamu!" Ujar ibuku.
Aku kaget air mataku enggak terbendung lagi buru-buru kami langsung kerumah sakit tempat David dirawat, aku turun di lobi rumah sakit ayah dan ibu memarkir mobil, aku berlari ke sekretariat.
"Suster ruang pasien, David mahendra dimana?" Tanyaku.
"Sebentar ya mbak, (melihat data komputer) ada ruangan nomor 16 kelas satu sebelah ujung sana mbak!" Seru suster rumah sakit.
"Makasih sus" aku berlari secepat mungkin, sampai di depan ruangan aku melihat nenek David yang mungkin bersama Ayah David, laki-laki yang sebaya dengan ayahku, kemudian aku mendekati nenek.
Kalau saya adalah ini, yang membuat senyummu, maka dia adalah orang lain yang membuat air matamu jatuh. Jangan marah kepadamu yang sudah membuat lingkungan jadi indah, tentram dan damai siapkan sekarang, kamu ingin siapa yang datang menghiburmu?.
Kepala Sekolah membawa risoles dari kantin? Menteri Pendidikan membawa kunci jawaban? Malaikat membawa buah-buahan dari sorga? Pengusaha muda membawa yang harum pewangi? Ahli nujum? Tukang pijit? Tentara? Penari? Atau saya saja yang membawa kata-kata pilihan, saya akan senang mengatakannya dan kamu senang. Jangan nangis, nanti kamu sakit kepala, ada yang perlu saya bantu?.
Albert Einstein melakukan kesalahan kalau ingin benar-benar sama dengan diriku, dia tidak memilihmu menjadi kekasihnya sehingga dia tidak bisa sendirian di kamar dan ingin bertemu denganmu!.
Setiap hal ketika aku menunggumu, waktu berjalan menjadi lebih lambat untukku, malam berjalan lebih lambat, siang berjalan lebih melambat, jam dinding bergerak lebih lambat, usia bertambah lebih lambat, dan saat mana jantung ku berdetak lebih cepat melebihi kecepatan cahaya oleh keinginan bertemu denganmu.
__ADS_1
Bait semusim yang tertulis manis tentang kisah kasih aku bersamanya yang duduk di pelataran cinta bersama dengan hati ku yang selalu terngiang-ngiang akan bisikan cintanya yang begitu merdu, tanpa batas waktu yang terungkap tapi tak mampu ku ucapkan dengan kata-kata.
ooOoo