
...Inbox...
"Nggak... ada yang mau aku omongin, tapi nanti aja kalo ketemu dikampus ya" jawabnya.
"Ow ya ok, kalo gitu sampe ketemu besok" kak Fikri membalas dengan senyum sembari melihat kearah samping ku yang ternyata David sudah masuk ke mobil.
Mereka saling pandang ya mungkin karna belum kenal jadi penasaran. Karna nggak enak cepat-cepat aku menutup kaca mobil.
"Siapa Ca, akrap banget?" tanya David.
"Ach nggak biasa aja, itu senior aku, namanya kak Fikri" aku melihat David yang menganggukkan kepalnya sembari tersenyum tanda paham apa yang aku maksud.
Tak berapa lama kami sampai dirumah ku, Ayah dan Ibu sudah menunggu di teras rumah.
"Asalamualaikum"
"Walaikumsalam" Aku salami tangan Ayah dan Ibu.
Kami masuk kerumah karna Ibu sudah menyiapkan makan untuk kami. Setelah makan Ayah dan David masih berbincang di ruang tamu. Deva dan Devi pamit untuk pulang, aku mengantar mereka di depan rumah.
"Ok, Ca kita pulang dulu ya daaa"
"Ok, ati-ati, makasi ya!"
__ADS_1
"Ok, sama-sama daaa!"
"Daaa!!"
Tak berapa lama David juga pamit untuk pulang. Ayah, Ibu dan Aku mengantarnya didepan rumah, walupun rumahnya pas didepan rumahku tapi itulah etika menghormati tamu.
"Makasih, ya Vid!"
ooOoo
Mungkin hanya sebuah rasa...
Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik. Bukan, bukan karena kata sementara itu menyenangkan, hakikatnya, yang singkat tak akan pernah sepadan.
Bukan juga karena kata selamanya terdengar mustahil, sejatinya taka ada yang bisa terjadi di bumi, kalau kau bertanya kenapa, sebenarnya aku juga tidak tahu.
Kadang ingin sekali aku hidup di dalam pikirannya, iya dia seorang laki-laki yang dari tadi cuma mendengar, cuma membaca, tapi tak pernah merasa.
"Iya om sama-sama" jawab David.
Melihat David sudah ada di pekarangan rumahnya kami masuk kedalam rumah. Aku membereskan pakaian ku. Aku buka jendela kamarku dan nggak sengaja melihat David mengarahkan kamera ke arahku. Mungkin iya, tapi mungkin mengarahkan objek ke burung-burung yang hinggap di pohon depan rumah. Menyadari aku memperhatikannya, dia menurunkan kamera yang sudah siap untuk ia mainkan dan melambaikan tangan sembari tersenyum kearahku. Aku balas lambaiannya dan aku pergi karna Ibu memanggilku.
Setelah makan malam aku menyalakan komputer berniat untuk melihat materi kuliah yang aku save di file. Tapi ada massage E-mail masuk dari kak Fikri, aku membukanya di E-mailnya dia menulis.
__ADS_1
"Hay ca!.. beberapa hari ini aku coba hubungi nomor hp kamu, tapi nggak bisa-bisa... aku cuma mau ngasi info, minggu depan hari sabtu tepatnya tanggal 1-2 bulan ini, kita ada kegiatan kemping, dan khusus buat anak-anak semester kamu biar tambah kenalan dan mengakrapkan keluarga di fakultas kita. Kalo bisa ikut ya, gratis kok tenang aja..hhh. Tempatnya juga asik dan di jamin aman, nanti kita buat kegiatan kebersamaan yang nggak bikin bosen".
"Kalo kamu dan temen-temenmu bersedia ikut langsung daftar ke panitia aja kebetulan aku juga panitianya, ok ca kita tunggu ya konfirmasinya..."
Tulisan yang membuatku tertawa, soalnya cuma mau bilang gitu aja dia bela-belain nyari aku ke rumah, kenapa nggak bilang sama Deva Devi waktu ketemu kemarin, orang yang aneh.
Gemericik suara hujan menggertap di dedaunan. Suara runcing berdenting di kalbu, serasa menyebut namaku. Suaramukah itu, kekasih?
Bagaimana mesti menerjemahkan perasaan rindu seperti ini? Jarak, seperti hamparan kuburan tua yang angker dan menakutkan. Menoreh luka yang dalam bagai getar yang datang dan pergi. Kilat dan guruh tak letih sabung menyabung di langit.
Gelap bayangan hutan merasuk mataku seperti hantu. Dan siut angin merintih seperti mendesakkan sejuta tanya yang tak kutahu apa jawabnya, "Apakah kau juga tengah memikirkan diriku saat ini?"
Makin larut aku dalam perjalanan sendiri. Menghitung langkah, di tengah malam berkabut dan jalan lengang sunyi. Mengejar muram sosok rembulan yang larut dalam tarian hujan. Samar pucat parasnya menggigil sendirian. Dan suara itu masih terdengar, menyeru dari kejauhan. Tak henti henti, memangil namaku.
Kau pancarkan kebahagiaanmu dari mata air yang tersembunyi. Seperti ketika laut pasang di bawah tatapan lembut sang matahari mendatangkan kegembiraan yang tak terlukiskan. Sepasang lima jari yang terkembang ke empat penjuru samudra saat menghantarkan puja kepada yang maha kuasa. Ia yang memberi kita segala kenikmatan. Ia yang kepadanya kita berpulang.
Menjamah pusat rindu yang gaib, mencumbui perasaan garib yang sebelumnya tiada dikenal. Waktu yang memetakan segala ingatan purba atas raga kita yang fana, telah tumbuh menjadi kenangan baka atas lebatnya hutan rimba belantara dan sebuah sendang kecil di tengah tengah pulau terpencil yang dikelilingi oleh lembah yang permai dan perbukitan perak yang dulu sekali sering engkau jelajahi.
Gunung gunung yang menjulang tinggi di kejauhan seakan menantang untuk ditaklukkan. Langit biru terhampar di atas padang gundul terbentang jauh hingga ke semenanjung yang sebelumnya tak pernah dijamah. Semua yang dulu cuma bagian dari lintasan sejarah, namun kini selamanya telah jadi pengingat akan dirimu. Semua yang dulu pernah mengungkapkan seluruh jejak petilasan dan penaklukanmu. Bentang alam dari seluruh kekayaan yang kini engkau simpan dalam perbendaharaanmu pribadi. Alam liar dari horizon pikiran dan khazanah perasaan yang nyaris tak terselami.
Tidak ada lagi rahasia yang engkau tutupi dari mata kami, selain daripada ceruk ceruk terdalam dari palung palung yang tersembunyi di balik mimpi mimpimu. Sungguh, tiada lagi kebahagiaan yang mampu mewakili perasaan kami saat ini, karena engkau telah mengijinkan kami untuk menjadi saksi mata; hasrat dari hasratmu, kerinduan dari kerinduanmu, cinta dari cintamu.
Bagaimana kami mampu membalas kebaikan hatimu yang sungguh tiada terkira? Sebab hanya tulus kata dari apa yang tak terucap namun telah puas kami saksikan, akan menggenapi seluruh janji dari semua yang telah engkau beri namun tak akan pernah kami miliki. Akan tetapi, sudah cukuplah itu semua bagi kami, karena engkau telah mengijinkan kami mengagumi keelokan panorama dari apa yang selama ini engkau simpan rapat rapat sebagai harta pusaka yang hanya bisa dinikmati oleh sang raja.
__ADS_1
Masalah kemping sebenernya aku paling males kalo harus kegiatan gitu-gitu, pasti rame dan nggak akan bisa tidur kebanyakan kegiatan, tapi nggak ada salahnya si aku ikut.
ooOoo