Diary Ecca

Diary Ecca
Part 42


__ADS_3

...Hanya Ingin Kau Tahu...


"Udah nggak pa-pa, kamu bagian support kami ya,...udah dong nggak usah cemberut gitu" ujarku.


Aku mencoba menghibur Deva karena dia terlihat kecewa nggak bisa ikut andil dalam kegiatan kami, dia pun kembali tertawa menanggapi hiburku.


Dan pertandingan kami dimulai pertama bagian Citra dan Ganis, mereka seperti sudah mahir berjalan di seutas tali dibawah untuk langkah mereka dan seutas lagi untuk berpegangan, cuma butuh waktu 10 menit mereka bisa ngambil 1 bendera biru kami.


Aku dan Devi nggak sabar liatin mereka pengen buru-buru manjat, ya kami berada di stand masing-masing dan Citra berlari dengan kecepatan maksimalnya menyerahkan bendera kami ketangan ku.


Bukan seseorang yang pandai merangkai kata, hanya saja aku memang seperti itu.


ooOoo


Tapi aku belum bisa manjat karna masih kurang satu bendera lagi yang harus di bawa Devi untuk di tancapkan di atas tebing. Cika yang sedang meluncur mengambil bendera satunya lagi dengan ketinggian 10 meter dia meluncur tanpa rasa takut. Dan dia berlari ke arah kami dan menyerahkan bendera biru ketangan Devi.


Dengan semangat Aku dan Devi bergegas memanjat secepat kami bisa, karna terlihat kelompok lain yang mulai mendekati kami. Dengan tertatih-tatih tapi pasti kami terus berjuang untuk bisa sampai di puncak.


"Ayo, Ecca !Devi!, kalian pasti bisa!, ayo! Ayo! Ayo!Semangat..." suara Deva, sembari berjoget-joget ala cheerleaders. Aku dan Devi terus berusaha, dan akhirnya kami sampai di puncak dan berhasil menancapkan semua bendera yang kami bawa.


"Yee...huu!...kita menang!" teriak Deva kegirangan, perlahan aku dan Devi turun.


Sampai di bawah Deva langsung menyrobot memeluk kami yang membuat kami jatuh, dan kami sambut dengan tawa girang kami. Seru banget pokoknya, enggak terasa udah hampir jam 12 waktunya istirahat, aku duduk sebentar untuk menghilangkan lelah.


"Ca, aku ke kamar mandi dulu ya kebelet dari tadi, ayo Vi temenin" kata Deva, dengan ekspresi menahan kebeletnya dan menarik tangan Devi.


Devi yang diajak cuma tersenyum sembari melirik ke arah ku, aku jawab dengan anggukan dan senyum melihat mereka pergi tergesa-gesa.


"Capek ya?...ni minum!" suara kak Fikri yang mengagetkan ku, sembari menyodorkan minuman ke arah ku dan duduk disebelah kanan ku.


"Ya lumayan si, tapi seru si jadi enggak kerasa capeknya" jawabku sembari tersenyum kearahnya dan ia pun membalas senyum.


"Alhamdulillah kalo gitu, tahun depan kalo ada acara gini lagi, minat ikut lagi dong (sembari tersenyum ke arah ku)"


"Hhh...gimana ya, tergantung kondisinya si, insyaallah hhh" jawabku.


"Oh Iya, temen-temen solmet kamu mana...?" Tanyanya.

__ADS_1


"Hhh...mereka lagi kekamar kecil" jawabku.


"Oow gitu, laper ya? aku ambilin makan ya sekalian temen-temen kamu aku ambilin" ujar kak Fikri.


"Enggak usah kak nanti aja kami ambil sendiri, lagian belum begitu laper juga kok", kak Fikri hanya tersenyum dan kemudian kembali duduk di sebelah ku.


Deva Devi terlihat udah jalan kearah kami...


"Eh ada kak Fikri" ucap Devi.


Kak Fikri hanya tersenyum...


"Makan yok, laper ni!!" tangkas Deva yang nggak pernah malu ngomong walupun di depan cowok yang dia sukai.


Kami memandang kearah Deva, lalu kak Fikri memandang kearah ku dengan tersenyum.


"Ya udah kalian tunggu disini biar aku ambilin makanan" ujar kak Fikri.


"Iya, makasih kak, baik banget si" kata Deva yang membuat kak Fikri tertawa dan kemudian dia berjalan mengambilkan makan untuk kami.


"Va kamu tu, liat-liat dong kalo minta makan, kan malu sama kak Fikri!!" Seru Devi


"Iya, maaf...kan reflek panggilan perut" ujar Devi.


"Hem kamu tu" jawab Devi


Aku hanya tersenyum melihat Deva yang merasa bersalah tapi tetep ngelucu.


Kemudian kak Fikri datang membawa makanan untuk kami...


"Ni, makannya sama minumnya, aku ikut makan bareng disini enggak ganggu kan?" Tanya kak Fikri.


"Oh, enggak kok kak santai aja!" jawab Devi


Semangat seakan enggak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk makan bersama kak Fikri.


Kami makan bersama sembari bercerita-cerita kesana kemari, tapi sedari tadi kak Fikri selalu memandang ke arah ku membuat aku tidak nyaman.

__ADS_1


Aku pura-pura nggak liat dan menghadap ke arah Deva yang duduk di sebelah kanan ku, membiarkan kak Fikri ngobrol dengan Devi.


Karena merasa tidak nyaman kak Fikri masih melirik ku, kemudian aku pamit pergi...


"Eem aku udah kenyang ni, aku sholat dulu ya nanti kalian nyusul" ujarku.


"Ok...ati-ati ya Ca!" Seru Deva dan Devi.


Aku jawab dengan anggukan, saran dari Deva aku berjalan perlahan agar kak Fikri nggak curiga kalo aku pergi untuk menghindarinya, diam-diam aku melihat ke arah kak Fikri yang ternyata masih melihat ke arah ku.


Aku tersenyum seakan-akan merasa biasa saja dia pun membalas senyumanku.


Kemudian aku pergi ke mushola yang disediakan di tempat wisata itu, aku mengambil air wudzu yang terasa segar saat ku kucurkan ke muka dan bagian tubuhku yang lain rasanya pengen mandi.


Aku masuk mushola yang sepi, hanya aku yang ada di sana, aku sholat dzuhur. Selesai solat aku duduk di teras mushola yang di depannya rindang dengan pepohonan ku pejamkan mataku menikmati setiap udara yang ku hirup.


"Udah selesai sholatnya?" suara yang mengejutkanku.


Lalu aku menengok ke sebelah kiriku kak Fikri ternyata aku tersenyum ke arahnya. Dia berjalan ke arah ku dan duduk di sebelah ku.


"Enak ya udaranya, adem!" Ujarnya.


"Heeem, enak buat tidur...hhh" candaku dan dia pun ikut tertawa.


"Kata temen-temen kamu, kamu ***** ya" kata-kata yang membuatku malu, pasti Deva Devi yang ngasi tau dia, awas aja kalo ketemu.


"Hhh...ya gitu dech, tapi enggak kronis kok pelornya" ucapan yang membuat kami tertawa.


"Ca, ada yang mau aku omongin!" Ujar kak Fikri


"Ngomong aja kak, aku siap dengerin...hhh" aku tertawa dan dia tersenyum.


"Aku suka sama kamu" kata-kata yang membuatku kaget dan melihat ke arah kak Fikri yang memandangiku dengan tajam, karena malu aku memalingkan pandanganku.


"Ooh suka, alhamdulillah aku kan banyak yang suka...hhh" candaku.


"Hem...aku bukan cuma suka, tapi aku cinta sama kamu Ca" aku hanya diam terpaku menatapnya, tak tau harus menanggapi apa atas ucapannya itu.

__ADS_1


Bukan kisah tentang Romeo dan Juliet yang kisahnya apik tertulis serta, bukan pula tentang Rama dan Shinta.


ooOoo


__ADS_2