Diary Ecca

Diary Ecca
Part 51


__ADS_3

...My Heart...


Aku menemukan buku yang ku cari aku duduk dan merangkum beberapa coretan yang penting, aku melihat kearah David lagi sembari tersenyum, dia melihatku dan tersenyum kearah ku, aku melanjutkan rangkuman ku.


Aku melihat kearah David yang sudah duduk dihadapan ku, lalu ia melihatku termenung dengan tangannya menahan dagunya.


Aku kemudian mengikutinya dan meletakkan bolpoinku, kemudian dia salting, mungkin dia merasa malu dan merubah sikapnya kemudian kami tertawa.


"Sudah selesai pak, makasih ya pak!" Ujarku.


"Iya mbak sama-sama" jawab pak petugas perpus.


Kami keluar perpus menuju parkiran, sembari aku mengantar David pulang.


ooOoo


Cinta adalah candu jangan menggebu nanti jadi babu kekal di dalam semu, cinta itu anugrah jangan terlalu marah nanti luka parah nikmati dengan pasrah, cinta juga bisa mendewasakan pergi untuk menyabarkan menjatuhkan untuk menguatkan pelangi setelah hujan. Hujan air mata, ada yang dihempaskan awan sebelum cerah menggeser hitam merata di langit, ada yang harus kau buang sebelum senyum mengasingkan duka yang sakit.


Matahari bersinar di ufuk timur berikan sinarnya yang terang sembari menunggu datangnya sang fajar menyingsing, aku tak tahan melihat cahaya terang yang begitu besar nan indah namun tak pelak cahyanya memberikan tanda tanya terhadap perasaan ku yang berkecamuk antara kebimbangan dan juga ketidak pastian yang membuat aku tak percaya akan indahnya cinta, naluri ku bertanya ada apakah gerangan dengan misteri yang selalu saja timbul dalam kehidupanku yang membuat aku tak mampu melalui setiap proses dalam kehidupanku.


Aku tak gentar namun juga yakin tapi tak pelak hati kecilku pun bertanya apakah aku mampu memenuhi hajat hidupku dengan baik, angin nampak riuh ciruh yang membuat aku kedinginan kemudian aku selimuti badanku dengan jaket tebal yang aku bawa dari rumah. Entahlah aku baru menyadari bahwa ini adalah musim hujan dan sepertinya akan turun hujan lebat, kemudian aku tutup jendela kamarku sembari aku melihat rintikan tetesan air hujan yang tak pelak menetes dan juga membasahi area kebun rumah nenekku.


Semua akan berganti siang akan digantikan malam, begitu pula dengan matahari yang tak akan mungkin bersinar ditengah malam. Apa cuma aku yang terdiam sendiri, sejenak aku berfikir dengan setiap sekenario yang Tuhan buat untuk ku, semuanya ambigu gak jelas, tapi juga membuat aku takut.


Sang waktu berjalan tak pelak kau tak memberikan aku waktu untuk sejenak melupakan egoku, aku tahu semua hal yang aku lakukan dengan sadar ataupun tidak mungkin menyakiti hatimu, bukan sang waktu yang salah bukan kita pula yang harus menafikan setiap hal yang telah terjadi. Lihatlah aku yang disini melawan getirnya hidupku sendiri tanpamu aku lemah melawan pahit getirnya hidupku sendiri.


Setiap hal yang terjadi dalam kehidupan kita nyatanya kayak sebuah dongeng yang terus berkembang dari akar yang satu ke akar lainnya, suka atau gak suka kita cuma bisa menjalankan setiap perjalanan yang udah Tuhan siapkan seperti layaknya Sutradara yang ngasih arahan ke kita, meskipun semua gak mudah setiap rentetan peristiwa yang hadir dalam kehidupan ini kayak sebuah misteri yang terus berjalan.


Ada kalanya kamu tersenyum, dan ada kalanya pula kamu bersedih setiap jalan panjang yang kamu lalui itu gak mudah tiap jalan penuh halangan dan juga rintangan, kamu ingin bahagia tapi semua butuh proses panjang gak instan kayak Indomie, bahkan kamu akan merasa semakin kamu diatas maka akan banyak orang yang akan menjatuhkan kamu.


Jarak terkadang membuatnya menjadi asing, membuat seseorang tak percaya akan kekuatan cinta. Silangit yang sama kamu berada, namun belum kamu temukan satu sosok pilihan-Nya.


"Ok, aku pulang ya (memegang kepalaku) daaa!" Ujarnya

__ADS_1


Kemudian aku mengangguk dan tersenyum, aku tunggu dia berjalan hingga mobilnya tak kulihat lagi.


Aku berjalan kearah taman, aku melihat kak Fikri duduk sendiri sembari membaca buku di taman. Lalu aku mendekatinya.


"Sendirian aja?" Tanyaku


Kemudian aku duduk di dekatnya, membuatnya terkejut dan melepaskan handpone yang terpasang ditelinganya.


"Eh, iya, kamu juga sendiri aja, pagi banget ada kelas pagi?" Tanyanya.


"Hhhh... enggak si tadi ada urusan sebentar, jadi berangkat pagi" jawabku.


"Eem gitu" ujarnya.


"Lagi dengerin apa si, boleh ikutan?" Tanyaku.


"Boleh" jawabnya.


Dia memasangkan earphone ketelingaku, lagu yang dia perdengarkan untukku lagunya Donita yang noveleosnya menanti sebuah jawaban.


Aku berpaling dan meresapi lagunya, sepertinya lagu yang mengungkapkan isi hati kak Fikri, aku sedikit merasa bersalah enggak bisa memberikan hatiku untuk dia.


Aku tak tau kenapa aku yang dulu begitu mendambakan hal ini sekarang jauh berbeda, hatiku malah terisi dengan laki-laki yang baru ku kenal.


Tapi apapun itu aku yakin semua ini jalan Allah. Aku melirik kearah kak Fikri menangkapi dia sedang memandangiku, dan berpaling karena ketahuan, aku tersenyum menanggapinya.


"Kakak suka lagu ini?" Tanyaku.


Kemudian aku melepas earphone dan ku pasangkan ketelinganya, aku putarkan lagu bintang kecil yang ternyata ada di mp3nya, dan melepas tawa kami.


"Kamu lucu juga ya!" Ujarnya.


Aku hanya tersenyum.

__ADS_1


"Ca, sampai saat ini perasaan ku ke kamu enggak berubah" ujar kak Fikri.


Aku terdiam dan melihat kearahnya, bingung harus ku jawab apa.


"Ca, beruntungnya dia yang bisa memilikimu!" Seru kak Fikri.


Aku tambah gugup...


"Hem (menghela nafasnya), aku enggak beruntung bisa mendapatkan cinta kamu" ujarnya.


"Kakak harusnya bersyukur, manusia itu beruntung bisa merasakan cinta. Walupun tak bisa memiliki cinta dari orang lain" sanggahku.


"Aku, semakin kagum sama kamu Ca" ujarnya.


Aku hanya tersenyum kearahnya, dan mengalihkan pembicaraan,


"Tumben enggak sibuk ngisi acara, biasanya kan jadi orang sibuk" ujarku.


"Udah enggak ada alasan untuk menyibukan diri" jawabnya.


Lalu, dia tersenyum kearah ku, yang membuatku tak enak hati.


"Kak, maaf ya, aku enggak bermaksud membuat kakak begini, tapi aku enggak mungkin membohongi perasaanku sendiri" ujarku pada kak Fikri.


"Bukan, salah kamu, ini salahku sendiri yang begitu takut jujur, mungkin kalo aku jujur dari dulu jadinya enggak begini, ya mungkin ini udah takdir dari Nya" jawab kak Fikri.


"Kakak masih, mau jadi sahabatku kan?" Tanyaku.


"Enggak ada alasan untuk menolaknya" jawabnya.


Aku tersenyum lega mendengarnya, kami mulai berbincang mengalihkan pembicaraan agar tidak terlalu larut dalam hal yang membuat hati kami sesak.


Disisi lain aku masih merasa bersalah, tapi aku pasrahkan semuanya pada Allah hanya Dia yang tau jalan hidupku, tugas ku hanya menjalankan semampu ku dan berusaha.

__ADS_1


ooOoo


__ADS_2