
...Travel With You...
"Udah ach,...capek kotor dech, eh tu ada sungai bersihin disana yuk" ajakku.
Kami jalan beriringan menuju sungai kecil itu, sungainya lumayan bagus, airnya bersih banyak bebatuan, ngak terlalu luas si tapi asik buat main air. David mulai lagi nyipratin air ke arahku yang lagi fokus nyuci kaki tanganku, mulai dech kami ciprat-cipratan air lagi.
Bersamanya aku bisa ketawa lepas, sama dia aku nyaman, sama dia aku damai pokoknya sama dia aku seneng banget kayaknya dia juga gitu. David megangin dadanya seperti kesakitan, aku buru-buru deketi dia.
"Vid kenapa?" aku khawatir banget.
"Nggak papa, udah biasa abis minum ini juga sembuh" jawab David santai seolah-olah ingin membuat aku tak mengkhawatirkannya.
Jarak terkadang membuatnya menjadi asing, membuat seseorang tak percaya akan kekuatan cinta. Silangit yang sama kamu berada, namun belum kamu temukan satu sosok pilihan-Nya. Bagiku hidup hanya selalu hitam dan putih, kebahagiaan akan selalu berbanding lurus dengan kesedihan.
ooOoo
Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik. Bukan, bukan karena kata sementara itu menyenangkan, hakikatnya, yang singkat tak akan pernah sepadan.
Bagiku hidup hanya selalu hitam dan putih, kebahagiaan akan selalu berbanding lurus dengan kesedihan. Kita hanya menunggu waktunya bergiliran bukan? Begitupun dengan kesunyian. Hari ini terasa ramai, mungkin esok kita akan berdialog lagi dengan kesendirian.
__ADS_1
Meski dalam keramaian aku masih merasa kesepian, entah kenapa sunyi sepi ku rasa tanpa seseorang yang bisa menemani ku di kesendirian ini, tak terasa sudah semakin jauh aku berjalan sendiri.
Gemericik suara hujan menggertap di dedaunan. Suara runcing berdenting di kalbu, serasa menyebut namaku. Bagaimana mesti menerjemahkan perasaan rindu seperti ini? Jarak, seperti hamparan kuburan tua yang angker dan menakutkan.
Gelap bayangan hutan merasuk mataku seperti hantu. Dan siut angin merintih seperti mendesakkan sejuta tanya yang tak kutahu apa jawabnya, "Apakah kau juga tengah memikirkan diriku saat ini?"
Makin larut aku dalam perjalanan sendiri. Menghitung langkah, di tengah malam berkabut dan jalan lengang sunyi. Mengejar muram sosok rembulan yang larut dalam tarian hujan. Samar pucat parasnya menggigil sendirian dan suara itu masih terdengar, menyeru dari kejauhan.
Kau pancarkan kebahagiaanmu dari mata air yang tersembunyi. Seperti ketika laut pasang di bawah tatapan lembut sang matahari mendatangkan kegembiraan yang tak terlukiskan. Sepasang lima jari yang terkembang ke empat penjuru samudra saat menghantarkan puja kepada yang maha kuasa. Ia yang memberi kita segala kenikmatan. Ia yang kepadanya kita berpulang.
Waktu yang memetakan segala ingatan purba atas raga kita yang fana, telah tumbuh menjadi kenangan baka atas lebatnya hutan rimba belantara dan sebuah sendang kecil di tengah tengah pulau terpencil yang dikelilingi oleh lembah yang permai dan perbukitan perak yang dulu sekali sering engkau jelajahi.
Dia jawab terbata-bata sembari menahan sakit, dan mengacungkan yang katanya vitamin itu.
"Hhh...serius banget wajahnya...nggak papa Ca tenang aja, udah sembuh kan, pulang yok udah sore". Aku mengangguk dengan pelan sembari terus memandanginya yang berjalan mendahuluiku, berfikir apa yang dia sembunyikan dari aku.
Aku bener-bener khawatir, sampe di depan rumah aku terus memandangnya dengan ekspresi kosong sampai dia bilang...
"Hey, kenapa...masih mikirin yang tadi?" Tanyanya. Aku jawab dengan anggukan.
__ADS_1
"Santai aja keles aku nggak papa kok" Ucapan yang membuatku senyum dengan bahasa alaynya.
"Ok, aku masuk ya daaa!!" Seruku.
Dia membalas dengan lambaian tangan, aku berjalan sampe depan pintu melihat dia masih menungguku untuk masuk. Aku hanya tersenyum dan masuk, berjalan masuk entah kenapa aku masih memikirkan kejadian tadi nggak pernah aku sekhawatir ini, ya Tuhan semoga dia baik-baik aja tolong jaga dia buat aku Tuhan. Dan hal itu sukses buat aku nggak bisa tidur. Tengah malam aku enggak bisa tidur, aku ambil air wudzu niat untuk sholat tahajud dalam doa ku aku ucap...
"Ya Allah, Ya Tuhanku apa yang terjadi dengan sahabat hamba David, ya Allah hamba mohon berikan petunjukmu, jika ia sakit sembuhkan ia Ya Allah, jagalah dia untuk hamba ya Allah, entah mengapa hamba sangat-sangat khawatir padanya, Ya Allah jika ia laki-laki yang kau kirimkan untuk hamba dekatkanlah kami, jika ia hanya kau kirim sebagai sahabat karib hamba jangan biarkan perasaan hamba melampaui batas, amin ya robal alamin".
Dengan air mataku yang mengalir dan tak ada hentinya, aku bersender di tembok dan selalu terbayang kejadian tadi sore dadaku terasa sesak, sakit mencoba menahan tangisku, entah apa yang terjadi padaku.
Apa aku benar-benar telah jatuh cinta sedalam itu pada David, hingga aku bisa sesakit ini melihatnya begitu, ya Allah berikan petunjukmu. Aku baru sadar ternyata ketiduran bangun-bangun adzan subuh.
Egois ku rasa bila aku mengeluh saja tanpa mau berusaha, entah kenapa goresan pena ku sampai pada titik kosong dimana tinta hitam yang ku tulis diatas kertas putih ternyata telah habis, setiap yang ku tulis sesuai dengan perjalanan hidup dimana hati menangis menjerit menceritakan setiap perjalanan hati yang lirih, meski sang waktu berbicara dengan nada yang lirih sambil di temani sang piano yang terus berbunyi dengan merdunya seperti melodi sendu yang menohok hati.
Jarum jam terus berdetak kencang ke arah sumbu yang tak terbatas dengan penuh ke haluan aku terus bertanya kepada diriku sendiri, hari ini apakah akan lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya atau malah akan memberikan aku kesibukan uang sebenarnya membawaku pada rasa takut untuk memulai perubahan.
Hari ini free kuliah, ya hari sabtu minggukan jatahnya kita libur, biasanya aku cuma dirumah ngabisin waktu bareng ibu bereksperimen bikin-bikin makanan, tapi hari ini rasanya nggak semangat.
Untuk menghilangkan kegalauanku hasil kemarin, aku cari kesibukan baca novel, baca novel malah tambah ngingetin secara novelnya bertema melo-melo. Aku cari kegiatan lain, aku liat pensil dan buku gambar, karena selain hoby baca novel aku hoby juga yang namanya gambar.
__ADS_1
Aku mulai membuat pola, pola wajah yang terus aku goreskan pensil menuruti naluriku seakan tanganku sudah tau apa yang harus ia gambar, waktu gambarnya selesai aku amati, ternyata gambar hasil coretanku menghasilkan gambar seorang lelaki yang baru ku kenal, ya itu David. Membuatku bingung dan jadi senyum-senyum sendiri, aku beranjak dari dudukku dan melangkah ke jendela, aku lihat kearah rumah David, sepertinya dia pergi soalnya mobilnya nggak ada.
ooOoo