
...Rotasi...
Ada dua hal yang begitu setia menjadi pendamping dalam hidup, perkenalkan dia bernama tawa dan air mata. Kita tidak akan pernah tahu keadaan seperti apa yang akan kita tempuh dalam hari-hari kedepan. Kita juga tidak akan pernah tahu pertemuan seperti apa yang akan membuat kita bahagia atau malah sebaliknya.
Detik-detik yang selalu berjalan adalah parade dalam mensyukuri anugerah Tuhan. Karena pada hakikatnya, telah menempuh kehidupan saja adalah anugerah terbesar yang sudah juta terima. Keadaan juga memiliki pasang surutnya, kebahagiaan dan kesedihan akan berputar pada porosnya.
Please Never Fall In Love Again.
Aku pernah menjadi tempat selepas bahagia mu habis, yang kau bagi dari deras air mata, yang menampung luka dari buah hasil perbuatan orang lain.
Bunyi di tengah sunyi
Ada yang sempat menutup rapat hatinya dan tidak lagi berniat untuk membuka. Namun, penyusup yang baik akan hadir untuk membenahi setiap luka yang tercipta di masa silam.
Rasaku sempat terdiam beberapa tahun lamanya, sedikitpun aku tidak ingin ada pergerakan yang begitu dominan di dalam hatiku. Aku sempat menutup mati pintu hati ku begitu rapat, apapun perihal cinta tidak akan pernah ku biarkan bisa masuk. Toh banyak kebaikan yang aku rasakan, kehidupan ku menjadi teratur. Hari-hari ku berjalan lancar tanpa ada satupun keadaan yang begitu membebani perasaan, aku tidak begitu khawatir dengan sepi dan kesunyian yang ku rasa. Bagi ku kesunyian adalah hal yang sangat menyenangkan untuk ku kawani, hari-hari ku di isi oleh pertemanan dengan buku dan suara lantunan kicauan burung camar yang merdu.
Menjadi apa adanya tanpa topeng dan basa basi tidak selalu membuat kita banyak teman. Tapi sekali kita mendapatkannya, maka itu kabar gembira. Hanya sahabat sejati yang selalu memahami kita apa adanya. Mereka berbicara kurang berkali-kali, protes sana sini. Benahi yang bukan urusannya, lupa tugas yang utama yaitu urus urusan mu sendiri.
ooOoo
Kau pancarkan kebahagiaanmu dari mata air yang tersembunyi. Seperti ketika laut pasang di bawah tatapan lembut sang matahari mendatangkan kegembiraan yang tak terlukiskan. Sepasang lima jari yang terkembang ke empat penjuru samudra saat menghantarkan puja kepada yang maha kuasa. Ia yang memberi kita segala kenikmatan. Ia yang kepadanya kita berpulang.
Menjamah pusat rindu yang gaib, mencumbui perasaan garib yang sebelumnya tiada dikenal. Waktu yang memetakan segala ingatan purba atas raga kita yang fana, telah tumbuh menjadi kenangan baka atas lebatnya hutan rimba belantara dan sebuah sendang kecil di tengah tengah pulau terpencil yang dikelilingi oleh lembah yang permai dan perbukitan perak yang dulu sekali sering engkau jelajahi.
"Ya, tentu sangat indah, tapi saya sedang mencari suasana damai seperti di persawahan dan kebun milik penduduk desa" Ungkapnya
"Benarkah, kebetulan di dekat sini ada area persawahan penduduk" Ujarnya
"Wahh benarkah, bisakah om mengantarkan saya!" Serunya
"Wah gimana ya, maaf nak David hari ini om nggak bisa, ada urusan yang mendesak, tapi kalu mau biar Ecca yang mengantar, gimana Ca?" tanya ayah yang membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
"Hem" jawabku kaget
"Ya insyaallah yah" Jawabku
"Kok insyaallah, kamu kan libur dari pada bengong di rumah lebih baik jalan-jalan sambil menghirup udara segar luar" Ujarnya
"Kalo tidak bisa tidak pa-pa om, mungkin lain kali bisa" jawab David
"Tidak-tidak Ecca bisa kok, ya kan Ca?" Tanya Ayahku
"Eem, iya yah" jawabku sambil tersenyum ya walaupun agak terpaksa, sebenarnya aku ingin menghabiskan waktu liburku dikamar seharian. Tapi tak apalah itung-itung nambah pahala.
"Alhamdulillah" kata ayah, kami melanjutkan berkeliling danau sembari ayah mengobrol dengan David.
Lelaki yang baru ku kenal itu, sosok pria dengan tubuh yang tinggi ramping, potongan rambut mandarin dengan kacamata yang membingkai kedua mata coklatnya, yang menurutku cukup sopan dan sepertinya baik. Aku berjalan di belakang mereka sambil melihat-lihat keindahan sekitar danau. Saking asik melihat pesona danau yang indah dan sayang untuk di tinggalkan, sampai aku tak melihat ada lubang di depanku.
"Ya Allah! aww Ayah!" Teriakku sambil menahan sakit karena sepertinya kakiku terkilir.
"Ya Allah Ca! Kok bisa si ati-ati to nduk-nduk" Ayah mengangkatku, di bantu David yang memeriksa kakiku.
"Kamu kesleo, bentar ya tahan sedikit" aku hanya bisa mengangguk dengan ekspresi menahan sakitku, David mencoba memijat kakiku.
"Sudah, mungkin kamu masih sulit berjalan pasti sakit" kata David.
"Ya sakit, tapi mudah-mudahan gak papa" Jawabku
"Aku tuntun sampai rumah ya?" terdengar saura dan raut wajah khawatir David, yang membuat ku sedikit tercengang dan kembali tersadar menggelengkan kepalaku.
"Oohh gak usah kan ada Ayah, makasih, maaf ya kayaknya nanti gak bisa nganterin kamu dech" Ujarku
"Oh, gak pa-pa lain kali kan bisa... ya kan om" Ujarnya
__ADS_1
"Ya donk pasti, ya sudah om pulang dulu kasian Ecca biar langsung di urus ibunya!" Seru Ayahku
"Ya om, ati-ati asalamualaikum" Ujarnya
"Waalaikum salam" jawab Ayah sambil menuntunku pulang, dengan berlahan aku berjalan menahan rasa sakit hasil kesleo tadi.
"Bu!... bu!.. tolong anakmu ini, keseleo dia"
"Ya Allah nak kok bisa to" Ibu berlari kearahku dengan wajah khawatir. Membuatku tersenyum karena raut wajahnya lucu kalo khawatir hhh.
"Sudah biar istirahat dulu di dalam beri minyak gosok kakinya biar nnggak bengkak buk" jawab ayah menghentikan kekhawatiran Ibu.
"Iya pak!...ayo-ayo nduk... haduh-haduh kok bisa to nduk-nduk ada-ada aja kamu ini"
"Namanya juga musibah buk, ya bisa dong kan..."
"Kamu ini udah begini juga masih becanda, ayo ibu urut setelah itu istirahat" kata ibu dengan ekspresi paniknya dan aku menganggukan kepala dan senyumku.
Keesokan harinya aku absen ke kampus soalnya kesleoku masih terlalu sakit untuk digunakan berjalan. Deva Devi datang kerumah untuk melihat keadaanku. Dan yang membuatku kesal dengan mereka, bukannya menengokku dulu malah kedapur cari makanan. Begitulah mereka sudah ku anggap seperti saudara sendiri, orang tuaku juga sudah akrab dengan mereka.
"Ca! Kok bisa si sampe gitu... makanya kalo jalan jangan mikirin kak Fikri, jadi gitu kan"
"Hey!... kamu tu ya Vi sotoi, siapa yang mikirin kak Fikri, kalau kamu mungkin iya .. hem" kata ku membantah dengan senyum dan menggelengkan kepala ku, melihat tingkah Devi.
"Ca, tadi kita ketemu kak Fikri Dia nanyain kamu"
"Ooh gitu" jawabku santai sambil meneruskan melihat majalahku.
"Dia nanyain kamu" tambah Devi dengan nada yang sepertinya kesal.
"Eem..." Gimana lagi memang hanya seperti itu. Jawabku dengan ekspresi datar, "ya mau"
__ADS_1
"Ach Ecca!... santai amat si jawabnya harusnya kan kamu kaget, gembira, seneng, loncat-loncat" jawab Deva dengan gaya alaynya sambil makan cupcake buatan ibuku.
ooOoo