Diary Ecca

Diary Ecca
Part 24


__ADS_3

...Cuma Kamu...


"Oh iya lupa udah malem ya, keasikan ngobrol ni malahan... hhh... ya udah tidur gih Asalamualaikum"


"Walaikum salam" kututup telfonnya dan langsung aku melanjutkan tidurku.


Sampai di kampus Deva Devi tumben banget udah berangkat lebih awal, stanbay di kelas. Buru-buru mereka lari kearahku membuatku heran.


"Pada kenapa si, belom ngerjain tugas? Ni bukunya aku kasih contekan!"


"Ih bukan itu, gimana kamu udah bilang kak Fikri kan, kita ikut kemping?"


"Iya udah, tapi kak Fikri hari ini nggak ada di kampus, katanya besok baru mau nemuin kita!" Jawabku.


"Hemm, serius hemm senengnya jadi besok kita dandan yang cantik dech" ekspresi lebay Deva Devi muncul.


"Ih kalian ini, Cuma mau ketemu kak Fikri aja berlebihan, nggak usah gitu dech, jadilah dirimu sendiri, laki-laki yang suka karna ada apanya dalam dirimu itu nggak akan abadi, jadi cari cowok yang suka kamu apa adanya jangan ada apanya" ceramahku.


ooOoo


Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik. Bukan, bukan karena kata sementara itu menyenangkan, hakikatnya, yang singkat tak akan pernah sepadan. Bukan juga karena kata selamanya terdengar mustahil, sejatinya taka ada yang bisa terjadi di bumi, kalau kau bertanya kenapa, sebenarnya aku juga tidak tahu.


Aku bukan perasaan. Aku hanya berada di tubuh seorang perempuan yang tiap langkahnya berhadapan dengan perasaan. Dan sejujurnya tak enak, membosankan, mudah senang, mudah kecewa, mudah sedih, tapi juga mudah memaafkan.


Sembari berjalan dan duduk. Mereka yang masih berdiri merasa malu karna ceramahku yang sok bener banget, tapi bener juga si ucapanku seseorang yang mencintai karna perubahan dalam diri seseorang itu bukan cinta tapi nafsu dan biasanya hal itu nggak akan mendatangkan bahagia. Banyak buktinya kok, itu si pendapatku.

__ADS_1


Hari ini kelasku full sampe magrib, karna nggak keburu solat dirumah jadi aku solat di kampus. Setelah solat aku pulang, nggak harus nunggu lama Bus atang. Alhamdulillahnya lagi busnya nggak serame biyasanya jadi aku bisa duduk tenang. Sampe di blok rumah aku jalan santai menikmati semilir angin yang malam ini sejuk banget, bulannya juga lagi terang-terangnya sampai di persimpangan aku mampir ke danau dulu, menghilangkan rasa lelah sisa tadi siang. Aku membaringkan tubuhku di padang rumput tepi danau, rasanya indah banget liat langit banyak bintang menghiasinya sampe ngantuk rasanya.


Ternyata udah hampir setengah jam aku disitu, aku bergegas pulang takut ibu mencariku. Di tengah perjalanan aku melihat David sedang menyendiri di taman dekat rumah kami aku menghampirinya.


"Hey! Bengong aja, ntar kesambet lo...hhh" ledekku sembari duduk disampingnya yang membuatnya tersenyum.


"Hem kamu, tumben baru pulang?" Tanyanya.


"Iya ni, hari ini kelas full, kenapa sendirian kesepian ya dirumah?" Tanyaku.


"Hhh... tau aja, iya ni, lagi pengen aja sambil ngambil gambar-gambar suasana malam udaranya juga lumayan bisa bikin hati tenang" Jawabnya.


"Iya si, kalo gitu aku pulang dulu ya bauk mau mandi juga hhh... berani kan disini sendiri!"


"Hem kurangajar" tawa kami pecah.


"Ya udah aku pulang ya, daaa!!" Seruku.


"Ok, daa" aku berjalan pulang ternyata ayah dan ibu mengintip kami dari tadi.


"Heh ayah ibu ngintip-ngintip hhh?" Tanyaku.


"Hhhh, ngak Cuma sedikit" kata ibu.


"Eh Ca, David suruh kesini aja makan malem bareng kasian kan nggak ada yang masakin dirumahnya!" Seru ibuku.

__ADS_1


"Boleh, ibu aja yang ngomong aku mau mandi dulu bauk nih, capek juga" jawabku santai sembari berjalan kekamar mengambil handuk dan mandi.


Keluar dari kamar mandi, dari kamar aku mendengar suara ayah mengobrol sepertinya suara David. Aku bergabung dengan mereka, kami makan bersama melihat David yang agaknya malu-malu makan bersama kami.


"Ayo nak David, jangan malu-malu makan saja!!" Ujar Ayahku.


"Ayo, anggap aja rumah sendiri!!" Seru ibuku.


"Iya tante" sesekali aku memergokinya melihat ke arahku yang aku sambut dengan senyumku.


Kesedihan seperti telaga yang hening di dinding ibu. Dinding yang terisak dan mengukir lagi masa kecilku. Seberapa sepinya aku saat itu? Sungguh. Aku tak mengerti, mengapa kubuat dinding itu menangis? Ia sudah seperti rumah bagiku. Tempat aku tidur dan terlelap di malam hari. Tempat aku bermain dengan kesendirianku. Lalu, mengapa aku buat ia menangis?


Ada hal hal yang ingin kulupa dari waktu kecilku sendiri. Detik detik yang tidak berarti. Kemarahan yang perlahan hangus dan lalu mengabu dalam hatiku. Walau kini, ia sudah bukan lagi api. Ia sudah menjadi dingin. Tapi, mengapa luka itu masih saja ada di sana?


Bukankah aku laki laki yang dibesarkan oleh dinding ibuku? Lalu, mengapa aku berpaling daripadanya? Mengapa aku kenakan topeng itu, hanya untuk melihat ia tersenyum? Aku sudah menjadi lelaki yang lain. Lelaki yang bukan kanak kanak yang ia besarkan dulu. Ada banyak topeng yang kini aku kenakan. Salah satunya adalah kesendirian, yang lain adalah amarah.


Aku tahu, aku telah membuatnya bersedih. Dinding itu telah lama menjelma jadi sebatang pohon dengan kulit yang renta, mengelupas di banyak tempat. Rantingnya mulai merapuh dan daun daunnya yang gugur, berserakan di mana mana. Ia bukan lagi pohon yang dulu biasa aku panjat. Bukan, ia tidak sedang menjadi pohon yang lain. Melainkan diriku. Akulah yang kini berubah. Seperti langit biru yang mendadak kelam. Seperti mendung yang menaungi hati yang tak hentinya menangis.


Apakah untuk menjadi seorang lelaki, aku harus mengorbankan perasaan perasaanku sendiri? Apakah untuk menjadi seorang lelaki aku harus meninggalkan masa kecilku hanya untuk mendengarkan suara suara orang lain; hardikan, umpatan, cemoohan dan teguran teguran yang seringkali menyakitkan hati.


Aku sudah lama sekali tenggelam, mungkin sejak terakhir kali aku terlelap di bawah pohon ibu. Pohon di mana dulu jadi tempatku bernaung. Pohon itu masih ada di sana, sunyi dan sendiri. Berasa jauh tapi pun dekat. Aku terkadang ingin menyentuhnya, seperti aku menyentuh dinding ibu untuk pertama kali. Tapi aku tahu, aku sudah bukan yang dulu lagi. Dan ibu seperti rumah yang merindukan kehadiranku. Ia ingin aku pulang padanya. Tapi entahlah, apakah besok masih cukup ada waktu untukku untuk menjadi diriku sendiri?.


Aku bukan perasaan. Aku hanya berada di tubuh seorang perempuan yang tiap langkahnya berhadapan dengan perasaan. Dan sejujurnya tak enak, membosankan, mudah senang, mudah kecewa, mudah sedih, tapi juga mudah memaafkan. Beberapa perasaan tak ingin diabadikan, mereka hanya ingin dititipkan.


ooOoo

__ADS_1


__ADS_2