
...Healing...
Gunung gunung yang menjulang tinggi di kejauhan seakan menantang untuk ditaklukkan. Langit biru terhampar di atas padang gundul terbentang jauh hingga ke semenanjung yang sebelumnya tak pernah dijamah. Semua yang dulu cuma bagian dari lintasan sejarah, namun kini selamanya telah jadi pengingat akan dirimu. Semua yang dulu pernah mengungkapkan seluruh jejak petilasan dan penaklukanmu. Bentang alam dari seluruh kekayaan yang kini engkau simpan dalam perbendaharaanmu pribadi. Alam liar dari horizon pikiran dan khazanah perasaan yang nyaris tak terselami.
Tidak ada lagi rahasia yang engkau tutupi dari mata kami, selain daripada ceruk ceruk terdalam dari palung palung yang tersembunyi di balik mimpi mimpimu. Sungguh, tiada lagi kebahagiaan yang mampu mewakili perasaan kami saat ini, karena engkau telah mengijinkan kami untuk menjadi saksi mata; hasrat dari hasratmu, kerinduan dari kerinduanmu, cinta dari cintamu.
Bagaimana kami mampu membalas kebaikan hatimu yang sungguh tiada terkira? Sebab hanya tulus kata dari apa yang tak terucap namun telah puas kami saksikan, akan menggenapi seluruh janji dari semua yang telah engkau beri namun tak akan pernah kami miliki. Akan tetapi, sudah cukuplah itu semua bagi kami, karena engkau telah mengijinkan kami mengagumi keelokan panorama dari apa yang selama ini engkau simpan rapat rapat sebagai harta pusaka yang hanya bisa dinikmati oleh sang raja.
Masalah kemping sebenernya aku paling males kalo harus kegiatan gitu-gitu, pasti rame dan nggak akan bisa tidur kebanyakan kegiatan, tapi nggak ada salahnya si aku ikut.
ooOoo
Gemericik suara hujan menggertap di dedaunan. Suara runcing berdenting di kalbu, serasa menyebut namaku. Suaramukah itu, kekasih?
Bagaimana mesti menerjemahkan perasaan rindu seperti ini? Jarak, seperti hamparan kuburan tua yang angker dan menakutkan. Menoreh luka yang dalam bagai getar yang datang dan pergi. Kilat dan guruh tak letih sabung menyabung di langit.
Gelap bayangan hutan merasuk mataku seperti hantu. Dan siut angin merintih seperti mendesakkan sejuta tanya yang tak kutahu apa jawabnya, "Apakah kau juga tengah memikirkan diriku saat ini?"
Makin larut aku dalam perjalanan sendiri. Menghitung langkah, di tengah malam berkabut dan jalan lengang sunyi. Mengejar muram sosok rembulan yang larut dalam tarian hujan. Samar pucat parasnya menggigil sendirian.
Dan suara itu masih terdengar, menyeru dari kejauhan. Tak henti henti, memangil namaku. Dan kemudian aku menyadari bahwa satu-satunya orang yang ku nanti adalah dirimu seorang meskipun kau bukan milikku, entahlah apa aku yang sedari dulu sudah mencintai namun hanya sekedar pengharapan belaka, aku menyadari diriku tetapi aku selalu mencoba memahami rasa ini, apakah ini cinta? atau hanya sebatas rasa biasa? dan hanya mengagumimu saja di kejauhan?.
Itung-itung nambah liburan lagi, lagian minggu depan kan aku free jadi okelah. Tapi sebenernya mungkin ibu juga nggak mengijinkan aku ikut kegiatan itu, tapi aku coba saja. Aku menemui Ibu yang sedang asik nonton TV dengan Ayah aku duduk di samping mereka.
"Yah, buk.. minggu depan ada kegiatan kemping kampus, aku boleh ikut?" Spontan ayah dan ibu menatapku dengan wajah garang yang membuatku takut.
"Kalo nggak boleh nggak pa-pa kok yah, buk...cuma nanya aja" tambahku dengan ekspresi takut, yang membuat Ayah Ibu saling menatap dan tersenyum pada ku.
"Boleh-boleh, asal jaga diri baik-baik jangan macem-macem dan jangan lupa solat" menghela nafas legaku nggak nyangka bakal diijinin.
"Ok!" aku langsung memeluk dan mencium mereka dan kembali kekamar.
__ADS_1
Bersiap pergi kekampus, aku sedikit tergesa-gesa karna bangun kesiangan.
"Bu aku berangkat ya, udah telat ni" berlari keluar sambil memakai sepatu.
"Sarapan dulu, bareng sama ayah aja berangkatnya"
"Nggak-nggak, sarapan di kampus aja, ok bu Asalamualaikum" mencium tangan dan kening ibu kemudian cepat-cepat lari ke jalan raya.
Menunggu bus nggak perlu waktu lama bus datang. Sampai di kampus aku cepat-cepat lari kekelas karna memang waktunya udah mepet takut telat, sampe-sampe nabrak cowok yang lagi bawa buku tumpukan banyak banget .
"Ya Allah... aduh maaf ya mas, maaf banget buru-buru soalnya aku bantuin beresin deh" celotehku tanpa melihat siapa orangnya.
Saat aku selesai membereskan bukunya aku terbengong sebentar ternyata dia kak Fikri. Kami lekas berdiri dia hanya tersenyum melihatku.
"Eh kak Fikri, maaf ya kak-" nggak sengaja melihat jam yang membuatku gugup karna aku telat, ku lanjutkan lariku.
"Maaf ya kak.. aku buru-buru, permisi" dia hanya memperhatikanku berlari.
"Tumben telat biasanya subuh udah dateng" ledek Devi yang dibarengi dengan tawa Deva Devi.
Aku perhatikan saja mereka dan mereka diam karna takut melihatku terus memandangi mereka dengan serius.
"Kantin yok!" kata Deva kebiasaannya, langsung kami turuti aku dan Devi duduk menunggu Deva yang memesan makanan.
"Vi, ada kegitan kemping sabtu depan mau ikut nggak?" tanyaku santai.
"Nggak ach, malez paling banyak kegiatan yang membosankan"
"Bener nggak ikut, panitianya Kak Fikri loh" tambahku, tanpa melihat kearahnya dan masih membaca buku ditanganku.
"Hah!" Teriaknya membuatku terkejut dan heran melihatnya.
__ADS_1
"Serius? Nggak pake bohong kan?"
"Ya nggak ngapain aku bohong, orang kak Fikri yang nawarin"
"Kalo gitu ayo ikut" tambah Deva tiba-tiba nyambung pembicaraan.
"Tadi katanya nggak mau" ledekku.
"Hem mau dech, daftar sekarang aja yok"
"Loh, mau kemana?" tanyaku karna Deva Devi menarik tanganku.
"Daftar kemping" jawab Devi santai.
"Makanan kalian gimana...nggak-nggak makan dulu tu mubazir udah dibeli dosa tauk" aku tinggal mereka, kembali duduk dan menyuruh mereka duduk kembali yang mereka turuti dengan wajah lesu.
"Nggak usah cemberut, makan dulu sampe abis baru kita nemuin kak Fikri" mendengar ucapanku dengan lahap Deva Devi makan.
Kami mencari kak Fikri tapi tak kunjung ketemu, kebetulan ada teman sekelasnya dan kami mendekatinya.
"Kak, liat kak Fikri nggak?" tanya Deva.
"Fikri udah pergi dari tadi.. dia lagi ngurusin acara seminar di institut"
"Oow gitu, ya udah makasi kak!" seruku.
"Ya sama-sama" heran dan tersenyum aku liat wajah lesu Deva Devi yang tak bisa bertemu dengan kak Fikri, maklumlah kak Fikrikan aktifis jadi wajar kalo dia sibuk.
"Ya udahlah wajahnya nggak usah pada ditekuk gitu, kan masih ada hari besok" ujar ku.
ooOoo
__ADS_1