
...Tanda Cinta Darinya...
"Bener nggak ikut, panitianya Kak Fikri loh" tambahku, tanpa melihat kearahnya dan masih membaca buku ditanganku.
"Hah!" Teriaknya membuatku terkejut dan heran melihatnya.
"Serius? Nggak pake bohong kan?"
"Ya nggak ngapain aku bohong, orang kak Fikri yang nawarin"
"Kalo gitu ayo ikut" tambah Deva tiba-tiba nyambung pembicaraan.
"Tadi katanya nggak mau" ledekku.
"Hem mau dech, daftar sekarang aja yok"
"Loh, mau kemana?" tanyaku karna Deva Devi menarik tanganku.
"Daftar kemping" jawab Devi santai.
"Makanan kalian gimana...nggak-nggak makan dulu tu mubazir udah dibeli dosa tauk" aku tinggal mereka, kembali duduk dan menyuruh mereka duduk kembali yang mereka turuti dengan wajah lesu.
"Nggak usah cemberut, makan dulu sampe abis baru kita nemuin kak Fikri" mendengar ucapanku dengan lahap Deva Devi makan.
Kami mencari kak Fikri tapi tak kunjung ketemu, kebetulan ada teman sekelasnya dan kami mendekatinya.
"Kak, liat kak Fikri nggak?" tanya Deva.
"Fikri udah pergi dari tadi.. dia lagi ngurusin acara seminar di institut"
"Oow gitu, ya udah makasi kak!" seruku.
"Ya sama-sama" heran dan tersenyum aku liat wajah lesu Deva Devi yang tak bisa bertemu dengan kak Fikri, maklumlah kak Fikrikan aktifis jadi wajar kalo dia sibuk.
"Ya udahlah wajahnya nggak usah pada ditekuk gitu, kan masih ada hari besok" ujar ku.
__ADS_1
ooOoo
Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik. Bukan, bukan karena kata sementara itu menyenangkan, hakikatnya, yang singkat tak akan pernah sepadan. Bukan juga karena kata selamanya terdengar mustahil, sejatinya taka ada yang bisa terjadi di bumi, kalau kau bertanya kenapa, sebenarnya aku juga tidak tahu.
Aku bukan perasaan. Aku hanya berada di tubuh seorang perempuan yang tiap langkahnya berhadapan dengan perasaan. Dan sejujurnya tak enak, membosankan, mudah senang, mudah kecewa, mudah sedih, tapi juga mudah memaafkan. Kadang ingin sekali aku hidup di dalam pikirannya, iya dia seorang laki-laki yang dari tadi cuma mendengar, cuma membaca, tapi tak pernah merasa.
Aku tak pernah tau akan arti kata cinta. Tak tau rasanya mencintai dan dicintai, tapi aku yakin cinta itu ada dan akan datang padaku. Aku tak mau mencari, aku hanya akan menunggu cinta yang dikirim olehNya. Karna aku yakin yang sesungguhnya dihadirkan olehNya akan lebih indah tanpa aku mencarinya.
Sampai akhirnya aku melihatnya seorang laki-laki yang sempurna dimataku. Dia sopan, santun, cerdas, aktif dan pengertian. Da kak Fikri seniorku, dekat dengannya aku merasa nyaman dan aku pikir rasa nyaman itu adalah cinta. Ternyata aku salah mengartikan itu, sampai akhirnya David datang dalam kehidupanku. Tetangga baru dan sahabat baru yang mengajarkanku cara menghargai hidup dan menyadarkanku rasa cinta yang sebenarnya.
"Iyaa si, tapikan pengen ketemunya sekarang" aku tersenyum heran dan menggelengkan kepala melihat kekonyolan mereka.
"Ya udah nanti aku coba hubungin dech"
"Hem, bener ya, awas kalo bohong" ancam Devi.
"Iya, tapi nggak janji ya" ledekku sembari berjalan mendahului mereka.
"Ecaaaa" jawab mereka mengejar ku.
Karena nggak bisa-bisa akhirnya aku tinggal tidur saja. Nggak lama kemudiaan hpku berdering, aku meraba-raba mencari hpku dengan mata setengah terpejam. Kulirik nama di layar ponselku, ternyata kak Fikri. Segera aku angkat, ku jawab dengan nada malas karna sudah setengah tidur dan terbangun karna suara panggilannya.
Gemericik suara hujan menggertap di dedaunan. Suara runcing berdenting di kalbu, serasa menyebut namaku. Suaramukah itu, kekasih?
Bagaimana mesti menerjemahkan perasaan rindu seperti ini? Jarak, seperti hamparan kuburan tua yang angker dan menakutkan. Menoreh luka yang dalam bagai getar yang datang dan pergi. Kilat dan guruh tak letih sabung menyabung di langit.
Gelap bayangan hutan merasuk mataku seperti hantu. Dan siut angin merintih seperti mendesakkan sejuta tanya yang tak kutahu apa jawabnya, "Apakah kau juga tengah memikirkan diriku saat ini?"
Makin larut aku dalam perjalanan sendiri. Menghitung langkah, di tengah malam berkabut dan jalan lengang sunyi. Mengejar muram sosok rembulan yang larut dalam tarian hujan. Samar pucat parasnya menggigil sendirian. Dan suara itu masih terdengar, menyeru dari kejauhan. Tak henti henti, memangil namaku.
Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik. Bukan, bukan karena kata sementara itu menyenangkan, hakikatnya, yang singkat tak akan pernah sepadan, hanya karena semua terlihat biasa saja.
"Assalamualaikum" dengan suara sedikit serak.
"Waalaikum salam, udah tidur ya, maaf ganggu soalnya tadi nggak bisa angkat telfon kamu... lagi ada rapat" ujarnya.
__ADS_1
"Iya kak, nggak pa-pa"
"Ada apa tumben malem-malem telfon"
"Ini kak, tadi aku nyari kakak di kampus nggak ada, aku sama temen-temen mau daftar kemping"
"Alhamdulillah bisa ikut to, ya tadi aku lagi ada acara di institut tapi gimana ya besok aku masih ada acara lagi nggak bisa kekampus"
"Oow gitu ya, ya udah, tapi panitia yang lain ada yang stay di kampuskan kak?" Tanyaku
"Ada si tapi, formulir ada sama aku" jawabnya
"Ya gimana kalo dititipin ke panitia lain kan enak"
"Iya si, tapi gini aja besok kamis dech aku nemuin kamu ya!" Serunya
"Oow gitu, ya udah terserah kakak aja, ya udah kak kayaknya aku mau nerusin tidurku dech ngantuk banget soalnya" ujarku
"Oh iya lupa udah malem ya, keasikan ngobrol ni malahan... hhh... ya udah tidur gih Asalamualaikum"
"Walaikum salam" kututup telfonnya dan langsung aku melanjutkan tidurku.
Sampai di kampus Deva Devi tumben banget udah berangkat lebih awal, stanbay di kelas. Buru-buru mereka lari kearahku membuatku heran.
"Pada kenapa si, belom ngerjain tugas? Ni bukunya aku kasih contekan!"
"Ih bukan itu, gimana kamu udah bilang kak Fikri kan, kita ikut kemping?"
"Iya udah, tapi kak Fikri hari ini nggak ada di kampus, katanya besok baru mau nemuin kita!" Jawabku.
"Hemm, serius heeemmm senengnya jadi besok kita dandan yang cantik dech" ekspresi lebay Deva Devi muncul.
"Ih kalian ini, Cuma mau ketemu kak Fikri aja berlebihan, nggak usah gitu dech, jadilah dirimu sendiri, laki-laki yang suka karna ada apanya dalam dirimu itu nggak akan abadi, jadi cari cowok yang suka kamu apa adanya jangan ada apanya" ceramahku.
ooOoo
__ADS_1