
...Angin Sepoi-Sepoi...
Ada hal hal yang ingin ku lupa dari waktu kecilku sendiri. Detik detik yang tidak berarti. Kemarahan yang perlahan hangus dan lalu mengabu dalam hatiku. Walau kini, ia sudah bukan lagi api. Ia sudah menjadi dingin. Tapi, mengapa luka itu masih saja ada di sana?.
Aku tahu, aku telah membuatnya bersedih. Dinding itu telah lama menjelma jadi sebatang pohon dengan kulit yang renta, mengelupas di banyak tempat. Rantingnya mulai merapuh dan daun daunnya yang gugur, berserakan di mana mana. Ia bukan lagi pohon yang dulu biasa aku panjat. Bukan, ia tidak sedang menjadi pohon yang lain. Melainkan diriku. Akulah yang kini berubah. Seperti langit biru yang mendadak kelam. Seperti mendung yang menaungi hati yang tak hentinya menangis.
Aku sudah lama sekali tenggelam, mungkin sejak terakhir kali aku terlelap di bawah pohon ibu. Pohon di mana dulu jadi tempatku bernaung. Pohon itu masih ada di sana, sunyi dan sendiri. Berasa jauh tapi pun dekat. Aku terkadang ingin menyentuhnya, seperti aku menyentuh dinding ibu untuk pertama kali. Tapi aku tahu, aku sudah bukan yang dulu lagi. Dan ibu seperti rumah yang merindukan kehadiranku. Ia ingin aku pulang padanya. Tapi entahlah, apakah besok masih cukup ada waktu untukku untuk menjadi diriku sendiri?.
ooOoo
Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik. Bukan, bukan karena kata sementara itu menyenangkan, hakikatnya, yang singkat tak akan pernah sepadan.
Bukan juga karena kata selamanya terdengar mustahil, sejatinya taka ada yang bisa terjadi di bumi, kalau kau bertanya kenapa, sebenarnya aku juga tidak tahu.
Aku bukan perasaan. Aku hanya berada di tubuh seorang perempuan yang tiap langkahnya berhadapan dengan perasaan. Dan sejujurnya tak enak, membosankan, mudah senang, mudah kecewa, mudah sedih, tapi juga mudah memaafkan. Kadang ingin sekali aku hidup di dalam pikirannya, iya dia seorang laki-laki yang dari tadi cuma mendengar, cuma membaca, tapi tak pernah merasa.
Gunung gunung yang menjulang tinggi di kejauhan seakan menantang untuk ditaklukkan. Langit biru terhampar di atas padang gundul terbentang jauh hingga ke semenanjung yang sebelumnya tak pernah dijamah. Semua yang dulu cuma bagian dari lintasan sejarah, namun kini selamanya telah jadi pengingat akan dirimu. Semua yang dulu pernah mengungkapkan seluruh jejak petilasan dan penaklukanmu. Bentang alam dari seluruh kekayaan yang kini engkau simpan dalam perbendaharaanmu pribadi. Alam liar dari horizon pikiran dan khazanah perasaan yang nyaris tak terselami.
Tidak ada lagi rahasia yang engkau tutupi dari mata kami, selain daripada ceruk ceruk terdalam dari palung palung yang tersembunyi di balik mimpi mimpimu. Sungguh, tiada lagi kebahagiaan yang mampu mewakili perasaan kami saat ini, karena engkau telah mengijinkan kami untuk menjadi saksi mata; hasrat dari hasratmu, kerinduan dari kerinduanmu, cinta dari cintamu.
"Jadi.. karna itu sampe buru-buru mau jalan"
"Iya" jawabku polos, di sambut dengan elusan tangan David ke kepalaku yang membuatku kaget dan memandangnya.
Mungkin dia merasa nggak enak, dia buru-buru menghentikan elusannya.
"Sory-sory, reflek" dengan senyumnya yang terlihat agak canggung dari sikap David.
"Hem... nggak pa-pa" dalam hati si lama juga nggak pa-pa.
__ADS_1
Nggak tau kenapa saat David melakukan itu rasanya hatiku damai, tenang dan nyaman kalo ada didekat dia.
"Ya udah dimakan tu, aku tinggal nggak pa-pakan" aku tersenyum dan mengangguk sembari melihatnya pergi.
Nggak tau kenapa rasanya aku nggak mau dia pergi, hem hal yang aneh dan membuatku senyum-senyum sendiri.
Tiba-tiba hp ku berdering, panggilan dari Ibu.
"Assalamualaikum, iya bu?"
"Waalaikum salam, gimana nak seneng di sana, sampe nggak ngabarin ibu, kakinya udah di pijit"
"Hhh... bukannya nggak mau ngabarin bu, sinyalnya disini susah ini aja alhamdulillah bisa masuk, udah di pijit alhamdulillah juga udah mendingan, tapi belom boleh buat jalan jauh dulu bu, jadi dari kemari di kamar terus nggak keluar-keluar"
"Alhamdulillah kalo gitu, ya sudah nurut saja, nggak usah mikirin kuliah dulu biar Ayah mu yang urus"
"Oh ya tadi ada cowok nyariin kamu"
"Hem, siapa bu?"
"Siapa ya tadi namanya... ooh ya Fikri, siapa dia? Pacar kamu?" Tanya ibuku
"Hemmm... bukan-bukan, itu senior aku bu, kenapa dia kerumah?"
"Katanya si, ada hal yang mau di sampaikan kekamu, dia udah coba hubungi hp kamu katanya nggak bisa dihubungi makanya dia kesini, kayaknya penting banget"
"Eem, mungkin masalah kampus bu"
"Iya mungkin, tapi benerkan bukan pacar kamu"
__ADS_1
"Ih ibu, iya bukan... nggak percaya?"
"Hemm, iya sayang ibu percaya, ya sudah istirahat baik-baik di sana ya, salam untuk David dan neneknya sampaikan terimakasih dari Ayah Ibu ya nduk"
"Iya bu"
"Ya sudah, Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" ku tutup hp ku dengan ekspresi penasaran ada hal sepenting apa sampai kak Fikri mencari aku, nggak biasanya dia gitu.
Aku mencoba menghubunginya tapi sinyal di sini tak mendukung, akhirnya aku putuskan untuk menghubunginya besok. Aku juga sudah merasa ngantuk, ku tunggu Deva Devi yang nggak masuk-masuk kamar aku tidur duluan aja. Tengah malam aku terbangun dan sulit tidur lagi, pelan-pelan aku bangun berniat untuk keluar kamar mencari udara segar diluar sepertinya nyaman.
Berlahan tapi pasti aku keluar kamar diam-diam takut mengganggu Deva Devi yang sudah pulas tertidur. Aku sampai diruang tengah melihat David yang memegangi dadanya seperti menahan rasa sakit dan tangan satunya berusaha membuka obat dan segera meminumnya. Aku hanya melihat dari jauh berusaha ingin cepat menghampirinya tapi kakiku belum bisa terlalu cepat melangkah.
"David... kenapa?" suara ku yang cukup membuat David kaget dan gugup cepat menyembunyikan botol obat yang ia pegang.
"Ehmm... nggak-nggak pa-pa" dengan mengantongi kembali obat yang dipegangnya.
"Nggak pa-pa kok minum obat?"
"Nggak, ini cuma vitamin, oh ya kenapa belum tidur?"
"Oh, tadi kebangun nggak bisa tidur lagi, niatnya si mau keluar cari angin"
"Gitu, kalo gitu kebetulan aku juga mau keluar, kayaknya udaranya enak, gimana kalo kita keluar bareng dari pada sendiri-sendiri nanti ilang lagi...hh" Candanya berusaha mengalihkan pembicaraan.
Kami perjalan bersampingan David menuntunku membantuku berjalan. Aku melirik kearahnya dan berfikir apa David menyembunyikan sesuatu, apa dia sakit. Tak tau kenapa rasa khawatir menghampiri relung jiwaku, seakan takut terjadi sesuatu dengan David. Laki-laki yang baru kukenal tapi seakan-akan sudah kenal lebih lama.
ooOoo
__ADS_1