
...Menyimpan Rasa...
"Ya udah bareng aja, tapi kita makan dulu ya laper" sambil menepuk perutnya.
"Hhh.. ok!" jawabku.
Kami berhenti di cafe dekat komplek kami, kami memilih menu yang disodorkan pelayan.
"Mau pesan apa kakak?" Tanya pelayan cafe tersebut.
"Nasi goreng special" serentak aku dan David memilih menu itu dan membuat pelayan terbengong, aku dan David saling pandang dan tertawa.
"Ok, nasi goreng special dua" kata David sembari melihatku.
"Lalu, minumnya apa kak?" Tanya pelayan cafe itu lagi.
"Teh anget, tapi gulanya sedikit". Kata David dan itu juga yang mau aku bilang, tapi karna takut dibilang ikut-ikutan aku pesen jus alpukat aja.
ooOoo
Aku tak pernah tau akan arti kata cinta. Tak tau rasanya mencintai dan dicintai, tapi aku yakin cinta itu ada dan akan datang padaku. Aku tak mau mencari, aku hanya akan menunggu cinta yang dikirim olehNya. Karna aku yakin yang sesungguhnya dihadirkan olehNya akan lebih indah tanpa aku mencarinya, meski sebenarnya aku menyadari setiap cinta yang datang.
Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik. Bukan, bukan karena kata sementara itu menyenangkan, hakikatnya, yang singkat tak akan pernah sepadan.
Bukan juga karena kata selamanya terdengar mustahil, sejatinya taka ada yang bisa terjadi di bumi, kalau kau bertanya kenapa, sebenarnya aku juga tidak tahu.
__ADS_1
Aku bukan perasaan. Aku hanya berada di tubuh seorang perempuan yang tiap langkahnya berhadapan dengan perasaan. Dan sejujurnya tak enak, membosankan, mudah senang, mudah kecewa, mudah sedih, tapi juga mudah memaafkan.
Kesedihan seperti telaga yang hening di dinding ibu. Dinding yang terisak dan mengukir lagi masa kecilku. Seberapa sepinya aku saat itu? Sungguh. Aku tak mengerti, mengapa kubuat dinding itu menangis? Ia sudah seperti rumah bagiku. Tempat aku tidur dan terlelap di malam hari. Tempat aku bermain dengan kesendirianku. Lalu, mengapa aku buat ia menangis?.
Ada hal hal yang ingin kulupa dari waktu kecilku sendiri. Detik detik yang tidak berarti. Kemarahan yang perlahan hangus dan lalu mengabu dalam hatiku. Walau kini, ia sudah bukan lagi api. Ia sudah menjadi dingin. Tapi, mengapa luka itu masih saja ada di sana?.
Bukankah aku laki laki yang dibesarkan oleh dinding ibuku? Lalu, mengapa aku berpaling daripadanya? Mengapa aku kenakan topeng itu, hanya untuk melihat ia tersenyum? Aku sudah menjadi lelaki yang lain. Lelaki yang bukan kanak kanak yang ia besarkan dulu. Ada banyak topeng yang kini aku kenakan. Salah satunya adalah kesendirian, yang lain adalah amarah.
Aku tahu, aku telah membuatnya bersedih. Dinding itu telah lama menjelma jadi sebatang pohon dengan kulit yang renta, mengelupas di banyak tempat. Rantingnya mulai merapuh dan daun daunnya yang gugur, berserakan di mana mana. Ia bukan lagi pohon yang dulu biasa aku panjat. Bukan, ia tidak sedang menjadi pohon yang lain. Melainkan diriku. Akulah yang kini berubah. Seperti langit biru yang mendadak kelam. Seperti mendung yang menaungi hati yang tak hentinya menangis.
Apakah untuk menjadi seorang lelaki, aku harus mengorbankan perasaan perasaanku sendiri? Apakah untuk menjadi seorang lelaki aku harus meninggalkan masa kecilku hanya untuk mendengarkan suara suara orang lain; hardikan, umpatan, cemoohan dan teguran teguran yang seringkali menyakitkan hati.
Aku sudah lama sekali tenggelam, mungkin sejak terakhir kali aku terlelap di bawah pohon ibu. Pohon di mana dulu jadi tempatku bernaung. Pohon itu masih ada di sana, sunyi dan sendiri. Berasa jauh tapi pun dekat. Aku terkadang ingin menyentuhnya, seperti aku menyentuh dinding ibu untuk pertama kali. Tapi aku tahu, aku sudah bukan yang dulu lagi. Dan ibu seperti rumah yang merindukan kehadiranku. Ia ingin aku pulang padanya. Tapi entahlah, apakah besok masih cukup ada waktu untukku untuk menjadi diriku sendiri?.
Sempet aneh si kenapa selera makan kami bisa sama aku lebih suka teh yang gulanya hanya sedikit dan David juga gitu hem lucu juga si hh.
"Ih GR mungkin cuma kebetulan aja" jawabku.
"Oow jadi kebetulan" ujar David seraya mencandai aku.
"Ya, iya terus apa donk hhh?" Ujarku.
Kemudian pesanan kami datang, sembari makan kami ngobrol panjang lebar nglor-ngidol nggak jelas dari pada sepi.
Selesai makan niatnya mau langsung pulang, tapi David mau ke apotek dulu katanya mau beli vitamin, heran si sampai saat David keluar aku tanya.
__ADS_1
"Harus ya minum vitamin terus? Kamu sakit Vid?" Tanyaku penasaran.
"Hhh, kenapa si sekomplit itu tanyanya hh, nggak papa kok cuma tambah suplemen aja aku kan jarang makan, jadi perlu suplemen" jawab David.
Jarak terkadang membuatnya menjadi asing, membuat seseorang tak percaya akan kekuatan cinta. Silangit yang sama kamu berada, namun belum kamu temukan satu sosok pilihan-Nya.
Bagiku hidup hanya selalu hitam dan putih, kebahagiaan akan selalu berbanding lurus dengan kesedihan. Kita hanya menunggu waktunya bergiliran bukan?. Begitupun dengan kesunyian. Hari ini terasa ramai, mungkin esok kita akan berdialog lagi dengan kesendirian.
Meski dalam keramaian aku masih merasa kesepian, entah kenapa sunyi sepi ku rasa tanpa seseorang yang bisa menemani ku di kesendirian ini, tak terasa sudah semakin jauh aku berjalan sendiri.
Egois ku rasa bila aku mengeluh saja tanpa mau berusaha, entah kenapa goresan pena ku sampai pada titik kosong dimana tinta hitam yang ku tulis diatas kertas putih ternyata telah habis, setiap yang ku tulis sesuai dengan perjalanan hidup dimana hati menangis menjerit menceritakan setiap perjalanan hati yang lirih, meski sang waktu berbicara dengan nada yang lirih sambil di temani sang piano yang terus berbunyi dengan merdunya seperti melodi sendu yang menohok hati.
Jarum jam terus berdetak kencang ke arah sumbu yang tak terbatas dengan penuh ke haluan aku terus bertanya kepada diriku sendiri, hari ini apakah akan lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya atau malah akan memberikan aku kesibukan uang sebenarnya membawaku pada rasa takut untuk memulai perubahan.
"Eem gitu, alhamdulillah dech kalo gitu". Dia hanya tersenyum dan melanjutkan menyetir, sampai juga di rumah.
"Makasih ya Vid!" Seruku.
"Ok, aku langsung pulang ya...daaa". Ku jawab dengan anggukan dan melambaikan tangan melihat dia kearah rumahnya aku langsung masuk rumah.
"Udah pulang, makan dulu sana!" Seru Ibu ku.
"Aku udah makan tadi sama David bu!" Jawabku.
"Loh kok bisa sama David, dia jemput kamu?" Tanya ibuku.
__ADS_1
ooOoo