Diary Ecca

Diary Ecca
Part 57


__ADS_3

...Hanya Dia...


Aku pun tersenyum kearahnya dia mencoba membalas senyumanku, dia melepaskan selang oksigen yang ia pakai. Aku mencoba menahannya dan memakaikannya lagi, tapi dia menahanku dan tetap melepasnya.


"Aku masih bisa bernafas tanpa alat ini!" ucapnya dengan lirih, aku tersenyum percaya.


Aku melihat kearah kaca luar dan ku lihat ayah dan nenek David melihat kami dan menganggukkan kepalanya, dan aku pun kembali memandangi David.


"Ca, kamu bisa bantu aku!" Pinta David.


Setiap hal ketika aku menunggumu, waktu berjalan menjadi lebih lambat untukku, malam berjalan lebih lambat, siang berjalan lebih melambat, jam dinding bergerak lebih lambat, usia bertambah lebih lambat, dan saat mana jantung ku berdetak.


ooOoo


Aku berusaha semampu ku, tetapi...


"Apa?" Tanyaku.


"Jangan lupain aku ya!" Ujarnya.


"Enggak akan pernah aku lupain kamu" jawabku.


"Jagan nangis karena aku ya", sesak rasanya aku mendengarnya tak bisa ku tahan lagi air mataku menetes buru-buru aku menghapusnya dan mencoba untuk tersenyum kearahnya dan mengangguk.


"Belum-belum udah nangis, dasar cengeng!" Ujar David, lalu aku cuma tersenyum mendengarnya masih bisa dia bercanda.


"Ca, bisa bantu aku duduk!" Serunya.


"Tap..pikan, emang udah bisa?" Tanyaku, dia mengangguk, lalu aku turuti permintaanya.


"Ca, boleh aku peluk kamu?" Pinta David.

__ADS_1


Aku kaget, melihat kearah kaca kearah ayah dan ibu mereka tersenyum dan mengangguk seakan tau apa yang ada dalam fikiranku.


Aku mengangguk dan meraihnya, aku peluk dia dan sebaliknya dia eratkan pelukakannya. Aku mencoba menahan untuk tidak menangis.


"Makasih Ca, kalo aku pulang nanti, aku akan ceritakan semua tentang kamu sama mama!" Ujar David.


Mendengar itu aku tak bisa menahan tangisku lagi, aku dekap semakin erat dengan air mata yang mulai membasahi bajunya.


"Makasih Ca, Ashadu anla ilaha ilallah wa ashadu anna muhamaddarasulullah"


Akhir ucapnya dan dia lunglai melepaskan dekapannya, aku tau apa yang terjadi aku semakin dekap erat tubuhnya.


Aku baringkan Dia dan ku ubah letak tangannya seperti orang sholat, dan aku mencium keningnya.


Kemudian Dokter dan suster mulai masuk, aku keluar perlahan ku dengar isak tangis keluarga. Ayah dan ibu menghampiriku, seakan tak sadar aku berjalan melalui mereka, berjalan lurus tanpa tau arah tujuanku.


Aku berhenti di depan Mushola yang menyadarkan ku, aku ambil air wudzu dan sholat...


Aku menoleh ke sebelah kanan ku ada David disana. Aku melihatnya memakai baju putih yang bersinar duduk bertasbih, dan tersenyum kearahku.


Terlihat wajahnya bahagianya, dan aku balas dengan senyumku. Aku tersadar aku ada di sebuah ruangan, ruangan rumah sakit ada ibu disamping ku.


"Syukurlah kamu sudah sadar, tadi kamu pingsan di mushola!" Seru ibuku.


"David, bu?" Tanyaku.


"David, sudah pulang, ikhlaskan dia nak agar dia bahagia disana!" jawab ibu ku.


Kemudian aku peluk ibu dengan erat sembari membayangkan pertemuanku dengan David di mimpiku tadi. Walupun hanya mimpi tapi itu seperti nyata aku yakin itu nyata.


Setelah prosesi pemakaman semua orang pulang, hanya aku yang masih menemani dirumah terakhir David.

__ADS_1


"Makasih buat semuanya, tetanggaku yang baik, aku janji akan tersenyum apapun yang terjadi seperti yang kamu minta, dan aku janji akan membuat senyum orang lain, makasih aku sayang kamu" ujarku.


Lalu aku pun berdiri dan berjalan meninggalkan makam David, di tengah langkahku aku berhenti dan menoleh kearah makam David, ada dia disana ada David. Dia memakai baju putih yang besinar wajahnya pun bersinar, ia tersenyum dan melambaikan tangannya, aku balas sapaannya dan meneruskan langkahku.


Tidak terasa udah hampir tiga minggu David pergi dan aku pun merasa dia masih ada disini. Aku berjalan keteras kamar, melihat kearah kamar David membayangkan waktu dia juga berdiri disana sibuk mengarahkan kameranya kearah ku, melambaikan tangannya kearah ku, tanpa sadar aku melambai-lambaikan tanganku kearah kamarnya aku tersadar dan menghentikannya ibu memanggilku.


"Om?, ada apa malam-malam kesini?" Tanyaku.


"Besok, om akan pulang ke Bandung, ini ada kunci kamar David, David berpesan untuk menyerahkan kunci ini untuk mu, ada yang tidak sempat ia tunjukkan padamu, nanti ada penjaga rumah yang akan tinggal disana, ya sudah itu saja, om permisi dulu!" Ujar ayahnya David.


"Ya om, hati-hati!" Seruku.


Aku antar sampai depan rumah dan masuk, lalu aku pandangi kunci itu yang kembali mengingatkan aku dengan David rasa penasaranku datang sampai-sampai aku tak bisa tidur.


Aku keluar duduk di depan teras menikmati heningnya malam, membayangkan indah saat masa-masa bersama David, lalu air mataku mulai menetes hingga aku larut kedalamnya.


Kemudian aku pun terbangun dengan suara mobil, ternyata aku ketiduran diteras kamar, dengan selimut yang sudah membalutku, tanpa menghiraukan siapa yang menyelimutiku.


Aku berdiri dan melihat kearah rumah David, nenek melihat kearahku tersenyum dan melambaikan tangannya, aku membalasnya dan dia berlalu masuk ke mobil dan pergi menjauh.


Aku baru ingat pesan ayah David tadi malam setelah mandi dan sarapan, aku keluar menuju rumah David. Dengan rasa was-was apa yang akan David tunjukkan padaku. Penjaga rumah David mempersilahkanku untuk masuk dan menunjukkan kamar David, aku ragu membukanya karna memang aku belum pernah masuk ke kamar David sebelumnya.


Aku hela nafas sejenak perlahan aku mulai membukanya, tanpa menoleh arah depan aku langsung menutup pintu dari dalam dan aku tercengang tak bisa berkata apa-apa saat ku arahkan pandanganku ke setiap sudut kamar David, yang penuh dengan foto-foto ku dan foto bersamanya yang ia cetak besar ia tempel tepat didepan pandangan arah bangun tidurnya.


Foto-foto yang tak pernah ku sadari kapan ia mengabilnya, foto saat aku tidur dibahunya, saat aku tertawa, aku membaca, aku hujan-hujanan, aku bicara, aku bermain dengan anak-anak kampung nenek.


Aku mengalihkan pandanganku ke kamera yang sering ia bawa, dan aku pun meraihnya duduk meja proyeknya lalu aku buka hasil jepretannya dan disana masih banyak sekali foto-fotoku.


Dadaku semakin sesak, dan air mataku tak bisa ku bendung lagi. Aku letakkan kamera itu dan ku raih laptop nya, yang bertuliskan namaku disana. Kemudian aku nyalakan dan aku penasaran saat aku lihat ada nama setiap baitnya yang membuatku semakin sakit.


ooOoo

__ADS_1


__ADS_2