Diary Ecca

Diary Ecca
Part 12


__ADS_3

...Rasa Ini...


Aku hanya bisa tersenyum malu, karna memang mungkin benar katanya aku kurang peka dengan lingkunganku sendiri, haduh betapa malunya aku seakan kartu AS ku sudah di bukanya.


"Iya, kali ya... hhh, eh udah sampai ini kampusku"


"Iya, ya... hhh, sampai kampusku"


"Ooo... boleh juga"


"Ya udah, makasi ya Vid maaf jadi ngrepotin, aku masuk kampus ya" dengan mencoba membuka pintu mobil


"Eh tunggu!" susar David mencegah, aku menoleh kearah David. Dia keluar mobil dan berlari kearah pintu mobil bagianku dan membukakan pintu untukku membantuku ku turun.


ooOoo


Jarak terkadang membuatnya menjadi asing, membuat seseorang tak percaya akan kekuatan cinta. Silangit yang sama kamu berada, namun belum kamu temukan satu sosok pilihan-Nya.


Bagiku hidup hanya selalu hitam dan putih, kebahagiaan akan selalu berbanding lurus dengan kesedihan. Kita hanya menunggu waktunya bergiliran bukan?. Begitupun dengan kesunyian. Hari ini terasa ramai, mungkin esok kita akan berdialog lagi dengan kesendirian.


Awan gelap tersenyum getir, sebongkah pamit menangis pilu, tatkala menghantam hati tak berdosa, begitu kelam, begitu banyak salah paham, nanti apalagi?.


Ku pandangi langit, serdadu di logika mulai meradang, menuntut agar bahagia di kembalikan. Dalam kericuhan yang amat mendalam, jalan mana yang akan dipilih, bertahan atau melepaskan?.


Kalau saja aku mampu sudah aku kejar langkahmu agar kita berjalan berdampingan. Kalau saja aku mampu, sudah ku hiasi hari-hari mu dengan penuh senyuman. Kalau saja aku mampu, sudah ku pastikan aku pantas untuk kau sandingkan.


Aku adalah aku, aku adalah ceria yang bersembunyi di balik sepi. Aku adalah cahaya yang bersembunyi didalam redup, aku adalah amarah yang bersembunyi di bawah tentram. Aku adalah aku yang mencintaimu yang selalu hatimu tutupi.


Faktanya orang-orang yang mendasarkan penghargaan terhadap diri mereka sendiri pada ambisi untuk selalu benar, menghalangi diri mereka sendiri untuk bisa belajar dari kesalahan itu. Ternyata benar adanya bahwa setiap orang selalu pergi, agar tahu bagaimana rasanya pulang kepada pelukan yang jarang sekali kita anggap.


"Aku pernah berharap begitu kuat, mencintai dengan begitu hebat. Lalu kemudian luka sedikit, hatiku pecah".


Pernahkah kamu mengalami apa yang ditulis dikalimat diatas? Jatuh cinta yang begitu hebatnya kepada seseorang, kamu serahkan segala angan-angan tentang kebaikan ditangannya. Kamu cintai dia dengan begitu benar, begitu baik dan begitu tulus.

__ADS_1


Lalu sebuah luka kecil menyentilmu dan kemudian hatimu "pecah". Isinya tumpah, butir-butirnya yang bak pasir jatuh berserakan. Beberapa berhasil kamu kumpulkan, tetapi sebagiannya lagi hilang tak terselamatkan.


Dimatikan perlahan, berkembang dan bertahan sampai tiba waktunya, datang lelah dan marah sengaja ia matikan perlahan. Kita sedang bicara tentang rasa, rasa yang sengaja dimatikan secara perlahan.


"Aku anter sampai kelas kamu ya, kayaknya kamu masih sulit jalan sendiri"


"Tapi kan.. kamu-"


"Yaudah deh nggak pa-pa" putusnya


"Ecca!" suara Deva Devi yang membuat kami serentak menoleh kearah meraka.


"Heey! Kebetulan ada mereka jadi mendingan kamu langsung pulang aja, makasi ya Vid"


"Oh iya kebetulan... ok kalo gitu aku pulang dulu, aama-sama baik-baik ya Ca" dengan mengelus kepalaku.


Ku balas dengan senyum heran dan terpesona karna baru kali ini ada yang mengelus kepalaku selain Ayah dan Ibu, dan lagi-lagi jantungku berdegup lebih kencang.


Deva Devi menghampiriku dan merangkulku kami berdiri menunggu mobil David pergi.


"Ih apaan si, udah yok bantu aku jalan udah telat ni" kami beranjak menuju kelas.


"Kantin yuk! laper ni" aku hanya bisa tersenyum heran dengan ucapan Deva.


Gitu deh dia paling jago kalo masalah makan.


"Dasar, baru jam segini udah laper, kapan mau kurus tu badan?...heem" ledekku sambil senyum-senyum di sambut dengan tawa lepas kami.


Kami menuruti permintaan nyonya Deva kami jalan kekantin, walaupun mereka Alay, Lebay, Kepo, dan paling heboh, Tapi aku bersyukur punya sahabat sebaik dan seperhatian mereka, mereka yang selalu ada saat aku butuh, saat aku sedih, saat bahagia, tempat aku berbagi. Mereka bagaikan keluarga atau bahkan lebih dari saudara kandung.


Kelas hari ini selesai, waktunya untuk pulang. Matahari juga udah mulai mau tidur, secara udah jam lima sore. Kelasku hari ini emang kebetulan full, cukuplah untuk menambah rasa lelahku selagi nyeri kaki ini belum hilang total.


"Ok! Aku pulang ya tu ayah udah nunggu di depan, aku coba jalan sendiri aja ya biar nggak manja... hhh... makasi ya Va Vi"

__ADS_1


"Ok! Sami-sami nduk..ati-ati ya...daaa" sembari mereka tersenyum, kusambut juga dengan senyuman geli mendengar bahasa khas mereka keluar.


"Daaaa".


Saat mobil Ayah mulai melaju, Aku menengok kearah Deva Devi yang masih berdiri menungguku pergi. Aku melihat kak Fikri menghampiri mereka dan melihat Deva Devi bercakap dengannya, sesekali menunjuk-nunjuk ke arah laju mobil Ayah. Aneh juga si tapi mungkin hanya prasangku saja.


Usai makan malam aku membaringkan tubuhku di kasur, walaupun nggak sehat abis makan langsung tidur, tapi tak apalah sesekali ini rasanya capek banget hari ini. HP ku berdering Devi yang menelfonku.


"Assalamualaikum... kenapa buk Devi?" candaku


"Hhh... waalaikum salam.. Ca tadi kamu di cariin kak Fikri.. "


"Hemm!.. emang kenapa? " kaget ku,


"Ya byasa aja kalik... nggak tau katanya si ada yang mau dia omongin... Ca kayaknya dia mau.."


"Mau apa?" Potongku


"Hhh mau nembak kamu kalik... soalnya akhir-akhir ini kayaknya dia sering nyarin kamu, tanya-tanya kamu, dan diam-diam curi-curi pandang sama kamu... mungkin dia jatuh cinta pada mu"


"Hust! Ngacok dech kalo ngomong.. mungkin ada sesuatu yang lain yang mau dia omongin"


"Lo siapa tau... emang kamu nggak ngrasa aneh ya, bisa dilihat kalik dari cara dia ngomong, mandang kamu dan bahasa tubuhnya juga.. kamu tu nggak peka si"


"Ya mungkin iya... aku juga ngrasa aneh si Vi, akhir-akhir ini kak Fikri tingkahnya aneh, tapi mungkin karena aku juniornya jadi mencoba buat deketin ngasi-ngasi info"


"Ya tuhanku Ecca!... kamu tu kalo masalah mapel si ok! jagonya, tapi kalo masalah ginian, ya Allah oon B.G.T"


"Ya terus aku harus gimana dong, aku juga nggak mau mikirin gituan dulu ach, kamu kan tau aku pengen fokus kuliah dulu aja, capek tau sekolah terus...emang kamu nggak capek?"


"Ya... ok-ok aku setuju, tapi nggak ada salahnya kan sedikit kamu buka hati untuk cowok, lagian aku yakin masalah cowok nggak akan buat kamu down"


"Ya kita lihat aja nanti nunggu takdir cinta dari Allah ... bener nggak..hhh"

__ADS_1


ooOoo


__ADS_2