
...Ditempat Yang Indah...
"Ya ditempat inilah dulu saat aku tinggal di sini, tempat aku menghayal, tempat aku meluapkan emosi, tempat ku mengadu... tempat ini yang selalu membuatku rindu akan suasana desa" Aku yang terharu mendengar kata-kata David, seperti ada sesuatu di balik ucapannya. Aku memperhatikannya asik mengambil gambar-gambar dengan kameranya dan sesekali dia mengarahkan bidikannya kearahku yang membuat kami saling tertawa.
"Hem...besok harus pulang, padahal belom puas disini" kataku tak bersemangat.
"Eemm... kapan-kapan kan bisa kesini lagi, lagian kuliah kamu kan sayang ditinggal lama-lama" saran David.
"Kapan bisa kesini lagi, jalannya mungkin aku udah lupa kalo besok-besok"
"Tenang, kan ada aku nanti kalo aku ada perlu kesini aku ajak kamu dech" aku langsung melihatnya adengan ekspresi bahagia.
"Janji ya" dia sambut dengan senyum dan anggukannya.
Nggak terasa udah lama kami di bukit, kabut juga mulai turun menutupi bukit. Kami berjalan turun dengan hati-hati karna jalannya cukup terjal dan licin. Sampai di desa kami melihat banyak anak-anak yang sedang bermain. Permainan khas desa mereka, seperti dakon, lompat tali, dan ular tangga, merasa sepertinya asik bermain dengan mereka.
ooOoo
Aku ikut bermain dengan mereka dan David sibuk mengambil gambar-gambar kami yang sedang bermain bercanda tawa bergurau ria. Kami berjalan meninggalkan mereka melambaikan tangan perpisahan. Tiba-tiba ada anak kecil yang menghampiriku dengan polos dia berkata...
"Kakak, kakak dari kota ya? Kakak artis ya? Cantik sekali kayak di film- film" ucapan yang membuat aku dan David tertawa lepas.
Aku menjawab anak itu "ya kakak artis... kamu mau minta tanda tangan?" yang langsung di sambut anak itu dengan senyum gembira dan anggukannya.
__ADS_1
Dia menyodorkan sepidol menyuruhku menandatangani bajunya, dia berlari sambil berteriak.
"Hey kakak cantik artis... ayo siapa yang mau minta cap tangannya!" Ucapnya yang membuat teman-temannya berlari kearahku dan membawa sepidol mereka masing-masing, meminta tandatanganku yang membuat aku tersenyum haru melihat kepolosan mereka.
David lagi-lagi mengambil gambarku yang sedang dikerumuni anak-anak. Selesai dengan tugasku sebagai artis dadakan dan dengan bangga melihat anak-anak berlari menunjukkan hasil coretanku kepada teman-teman mereka, aku hanya tersenyum dan melihat David yang juga tertawa terbahak-bahak.
"Kakak, aku belum di kasih tandangannya. Boleh minta tanda tangan di sini" ledek David, sembari menujukan tangannya kedadanya.
"Tentu saja, di sini,... yapp sudah... ada lagi" candaku sembari menutup spidol setelah menandatangani di baju David. Kami tawa lepas sembari berjalan ke rumah, sampai di depan rumah kami dihadang Deva Devi dengan ekspresi garang mereka.
"Gitu ya, jalan nggak ngajak-ngajak" Aku dan David saling berpandangan dan tersenyum.
"Low tadikan aku ngajak, katanya kalian ngantuk mau tidur....ya udah" mereka tersenyum karna merasa aku David masuk ke dalam.
Devi Deva menghampiriku dan menarikku berjalan ke taman depan rumah.
"Iya gimana Ca ... pasti so sweet B.G.T" tambah Deva, aku melihat mereka tersenyum dengan heran segitu ngeresnya pikiran mereka.
"Hemm kalian ni mulai dech, orang cuma jalan biasa nggak usah ngeres. Di sapu dulu tu biar bersih" candaku, berdiri sambil tertawa dan meninggalkan mereka.
Kulihat kearah mereka yang melihat kearahku dengan wajah bingung, dan saling menatap kemudian tersenyum dan mengikuti aku masuk ke dalam. Adzan magrib mulai terdengar, aku tercengang di desa banyak orang yang berbondong-bondong untuk pergi ke masjid.
Anak-anak kecil yang berlarian membawa kitab Iqro. Hal yang membuatku ingin ikut kesana, ikut membaur dengan warga, itung-itung untuk perpisahan. Inikan malam terakhir aku disini, besok sudah harus pulang. Aku melihat nenek yang sudah siap dengan mukenanya akan berangkat ke masjid, aku mencegatnya.
__ADS_1
"Nek, mau ke masjid kan?, aku ikut ya tunggu sebentar aku ambil mukenah" disambut dengan senyum dan anggukan nenek, aku berlari ke dalam mengambil mukenah. Karna terlalu terburu-buru takut ditinggal nenek sampe nabrak David yang lagi asik baca buku. Kami saling berpandangan.
"Aduh, maaf-maaf ni bukunya... maaf ya vid" meneruskan lariku David melihatku dengan wajah yang heran.
Aku tercengang saat keluar dari kamar. Aku melihat David sudah siap rapi dengan menggunakan baju koko warna krem dan celana panjang dengan kacamata khasnya yang membuatku terbengong melihatnya. Melihatku terngangah melihatnya David menghampiriku.
"Ca! Plok! (suara tepukan tangan)! Kenapa? Sampe segitunya liatin orang ganteng hhhh.. ayo kita bareng ke masjid.. nenek udah duluan bareng sama ibu-ibu kampung" Aku hanya membalas senyuman malu karena ketahuan bengong karna dia, hem tapi melihat David memakai baju koko yang siap untuk solat, rasanya aku semakin mengaguminya dan baru pertama kali aku liat dia pake baju koko.
Mungkin semenjak disini dia udah pake, tapi karna aku dikamar terus jadi nggak tau. Kami berjalan menuju masjid sembari bergurau berjalan bersama penduduk yang sama-sama mau ke masjid, ada segerombolan anak muda yang menyapa kami, sepertinya teman-teman masa kecil David karna mereka terlihat akrab.
"Asalamualaikum, Vid.. wah sama calonnya ya?!, Cocok banget sama kamu Vid" salah seorang pemuda bertanya, membuat kami tercengang tersenyum dan saling pandang.
"Walaikum salam... ah akang bisa saja" jawab David sembari berjalan berbarengan dengan mereka. Dan aku yang masih terheran-heran dengan pertanyaan mereka. Kami sampai di depan masjid David menunjukan tempat wudzu dan tempat solat wanita.
Aku mengangguk dan berjalan ketempat wudzu. Aku masuk ke dalam masjid dan terheran, begitu banyak warga yang rela berdesak-desakan hingga sampai ke teras masjid untuk solat berjamaah. Pemandangan yang tak pernah aku lihat di kota tempatku tinggal. Warganya juga sangat ramah-ramah, aku duduk di samping nenek David.
"Oow ini calonnya David to bu, cantik cocok untuk David yang ganteng" kata seorang ibu yang sebaya dengan nenek yang membuatku kaget juga.
"Aah iya, ibu bisa saja ya semoga ya bu doakan saja" ucapan nenek yang membuatku tercengang dan tersenyum heran.
Iqkhomat sudah dikumandangkan, kami bergegas berdiri dan melaksanakan solat berjamaah dengan khusuk. Keluar dari masjid ternyata David sudah menunggu aku dan nenek di luar. kami berjalan bersama sembari berbincang-bincang, kemudian nenek berkata.
"Vid tadi, buk Jah bilang katanya kamu sama Ecca cocok...taunya mereka kalian sudah calon" kata nenek sembari tertawa, dan kami sambut dengan senyum pula aku dan David berpandangan dengan wajah malu-malu.
__ADS_1
Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik.
ooOoo