Diary Ecca

Diary Ecca
Part 48


__ADS_3

...Cintailah Aku...


"Enggak kalo ada kamu" tulisannya yang membuatku kembali tersenyum.


"Aku bosen disini, kita kabur gimana?" Ujarku


"Boleh, tapi kamu harus gendong aku!" Jawabnya.


"Mana kuat aku gendong kamu. Vid cepet sembuh ya, kita ke tempat nenek kamu lagi, kamukan janji mau ngajak aku keliling kampung" ujarku.


"Siap tetangga ku yang baik" tulisnya.


Selama tiga hari berturut-turut aku menemani David yang sedang sakit, aku menyuapinya makan, lalu membacakannya novel kesukaanku dan kami mendengarkan musik akustik yang sering ia mainkan.


"Kemarin aku nyalain mp3, tiba-tiba ada lagu ini kira-kira siapa ya yang ngasih?" ledekku menyindir.


Beberapa perasaan tak ingin diabadikan, mereka hanya ingin dititipkan sementara.


ooOo


Bait semusim yang tertulis manis tentang kisah kasih aku bersamanya yang duduk di pelataran cinta bersama dengan hati ku yang selalu terngiang-ngiang akan bisikan cintanya yang begitu merdu, tanpa batas waktu yang terungkap tapi tak mampu ku ucap.


Bukan seseorang yang pandai merangkai kata, bukan pula seorang cenayang yang mampu mengungkapkan kata-kata, bukan pula sang pendahulu yang mampu mengucapkan kata, dan bukan pula sang pelukis yang mampu menggambar kata-kata.


"Makasih!" Serunya


"Iya sama-sama...Makasih juga kamu sudah memberikan aku perasaan yang enggak pernah aku rasain sebelumnya" ujarku.


Kemudian dia tersenyum seakan paham yang aku maksud.


"Ca!" Panggilannya.


"Hem" jawabku.


"Aku sayang kamu" ujar David.


"Aku juga, jangan pergi lagi ya" pintaku sembari meneteskan air mata.


"Walupun aku pergi nanti, cuma ragaku yang enggak bisa kamu lihat, tapi percayalah aku akan selalu ada di dekat mu kapanpun dan di manapun kamu berada, karena aku hidup dihati kamu" ujarnya.


"Kok kamu ngomongnya gitu, aku yakin kamu pasti sembuh yakinkan diri kamu Vid, aku sayang kamu Vid" ujarku.


Kemudian aku memeluknya dan ia membalas dengan pelukan eratnya sembari berbisik...


"Aku sayang banget sama kamu Ca" ujarnya.


Aku hanya mengangguk dengan air mata, yang tak bisa ku bendung.


Lalu Hp ku berdering ternyata Deva...

__ADS_1


"Kenapa Va?" Jawabku sembari mengangkat telepon.


"Besok kita ujian mendadak, kalau bisa kamu hadir, ini penting banget Ca!" Serunya ditelpon.


"Iyaa insyaallah, makasih ya Va udah ngasih tau aku!" Seruku.


"Iya, salam buat David ya semoga cepet sembuh" ujarnya.


"Iya amin" kemudian aku tutup telfonnya.


"Siapa?" Tanya David.


"Deva" jawabku.


"Kenapa?" Tanyanya.


"Dia cuma ngasih tau kalau besok ada ujian mendadak!" Seruku.


"Ya udah kamu harus berangkat, jangan sia-siakan waktu emasmu Ca, untuk menunjukan prestasi kamu, kamu harus berangkat, kan masih ada nenek yang menemaniku jangan khawatir aku akan sehat!!" Ujar David.


Kemudian aku hanya mengangguk setuju dengan pintanya, sekitar jam 8 malam ayah menjemputku untuk pulang.


"Ayah udah dateng, aku pulang ya baik-baik ya, besok abis ujian aku langsung kesini" ujarku.


Kemudian David mengangguk sembari tersenyum melihatku pergi, berat rasanya meninggalkan dia tapi ujian sudah menantiku.


Aku siap memulai ujian, dan alhamdulillah soalnya tidak terlalu sulit, sehingga aku bisa cepat mengerjakannya, aku berbisik pada Deva Devi.


"Ok, ati-ati ya nanti kita nyusul" jawabnya.


Aku jawab dengan anggukan dan senyuman, ku kumpulkan lembar jawabku dan tergesa-gesa berjalan keluar agar bisa segera aku sampai di rumah sakit.


Sampai di sana aku buru-buru kearah ruangan David tapi aku tercengang melihat beberapa perawat mendorong mayat yang arahnya dari blok kamar David.


Pikiran ku kalut, aku enggak percaya lalu aku lari ke kamar rawat David, aku menangis sejadi-jadinya mungkin karena ku dapati dia enggak ada di ruangannya itu


"Ya tuhan kenapa?" Ujarku dalam benakku.


"Ca" aku menoleh kebelakang, dan membuatku tersenyum lega dan memeluknya ternyata David masih hidup, dia masih ada disini.


"Kamu kenapa? aku udah bisa pulang sekarang!" Ujarnya.


"Alhamdulillah" jawabku.


"Tapi kenapa kamu nangis disini, kamu takut aku mati ya?" Tanyanya.


"Huss...jangan ngomong yang aneh-aneh...ayo kita pulang!" Seruku.


Kemudian aku berjalan keluar bergandengan tangan dengannya, ayah dan nenek David sudah menunggu kami di depan lobi.

__ADS_1


"Besok, aku mau ke rumah nenek Ca, aku mau tinggal di sana untuk sementara waktu" ujar David.


"Oya, bagus dong, tapi sayang aku enggak bisa ikut, ujian ku belum selesai, tapi aku janji selesai ujian nanti aku nyusul deh sama anak-anak" ujarku.


Dia mengangguk setuju...


Sesampainya kami di rumah...


"Udah aku bisa jalan sendiri, kamu pulang aja Ca" ujar David.


"Bener enggak pa-pa?" Tanyaku.


Kemudian dia mengangguk, aku menuruti permintaannya, usai berpamitan dengan ayah dan neneknya aku pulang ke rumah.


Usai makan malam ayah dan ibu sudah menungguku di ruang tamu ada yang ingin mereka bicarakan padaku.


Kemudian aku duduk bergabung dengan mereka...


"Ca, Ayah dan Ibu sekarang tau kenapa akhir-akhir ini kamu sering murung, ternyata kamu memendam rasa ya sama David?" Tanya ayah dan ibuku.


Kemudian aku hanya tersipu malu...


"Sekarang kamu sudah besar, ayah dan ibu akan mendukung apapun yang akan kamu jalani!" Seru ayah dan juga ibuku.


"Karena kami tau kamu sudah paham mana yang baik dan buruk, hanya satu pesan ayah, fikirkan dulu apapun yang akan kamu lakukan agar kamu enggak nyesel di kemudian hari" ujar ayah dan ibuku.


Kemudian aku mengangguk sembari tersenyum dan pindah duduk di antara mereka dan memeluk mereka berdua.


"Makasih ayah, ibu, kalian orang tua yang terbaik!" Seruku.


Kemudian kami saling memeluk haru...


Setelah solat isya aku pergi ke rumah David, karena aku ingin tau keadaannya.


"Assalamualaikum!" Seruku.


"Waalaikumsalam, oh Ecca wah Davidnya sudah tidur Ca, sebentar biar om bangunin!" Ujar ayahnya David.


"Om, jangan enggak usah biar dia istirahat, saya kesini cuma mau tau keadaannya aja kok om, ya udah kalo gitu saya pamit pulang dulu om, permisi!" Seruku.


"Ca" ayah david memanggilku dan mengajakku berjalan ketaman depan rumahnya, kami duduk dan berbincang.


"Ca, apa kamu sayang sama David?" Tanya ayahnya David.


Kemudian aku melihatnya dengan gugup...


"Ya, begitu yang saya rasakan om" jawabku.


"Terimakasih, untuk rasa sayang yang kamu berikan padanya, tapi Ca apa kamu siap menghadapi segala kemungkinan yang mungkin akan terjadi pada David?" Tanya Ayahnya David.

__ADS_1


"Insyaallah om, saya sudah memikirkannya, dan saya yakin jika saya ikhlas menjalaninya Allah akan memberikan yang terbaik untuk saya dan David, apapun yang akan terjadi insyaallah saya akan selalu ada untuk David" jawabku.


ooOoo


__ADS_2