
...David Ku...
Kemudian aku berjalan keluar teras kamar, lalu aku lihat kearah jalan ada David yang berdiri di belakang mobilnya melambai kearah ku.
"Udah mau berangkat, ati-ati ya!" ujarku.
Kau pancarkan kebahagiaanmu dari mata air yang tersembunyi. Seperti ketika laut pasang di bawah tatapan lembut sang matahari mendatangkan kegembiraan yang tak terlukiskan. Sepasang lima jari yang terkembang ke empat penjuru samudra saat menghantarkan puja kepada yang maha kuasa. Ia yang memberi kita segala kenikmatan. Ia yang kepadanya kita berpulang dan kembali.
ooOoo
Kalau saya adalah ini, yang membuat senyummu, maka dia adalah orang lain yang membuat air matamu jatuh. Jangan marah kepadamu yang sudah membuat lingkungan jadi indah dan tentram.
"Iya, kamu juga ati-ati dirumah, sholat!" Ujar David.
"Iya, aku kan cuma dirumah ada ayah ibu juga, kamu yang harus ekstra hati-hati kan harus nyetir!" Kataku.
"Iyaa, aku berangkat ya... da Assalamualaikum!" Seru David.
"Waalaikun salam!" Jawabku.
Aku tutup telfon dan melambai kearahnya, dia masuk ke mobil dan mobilnya berjalan menjauh. Tuhan lindungilah David ku.
Lalu aku masuk kuliah, karena agak buru-buru beberapa hari ini aku selalu diantar ayah pas ayah juga lagi libur kerja, mungkin setelah urusan kuliah selesai kami akan silaturahmi ke rumah nenek David.
Hari-hari UTS aku jalani dengan tenang, dan akhir-akhir ini kak Fikri makin dekat dengan ku seperti adik kakak. Dia membantuku dalam memahami materi dan saling tukar pikiran, ya sejak kejadian kemping kemarin kami saling memahami dan sering menghabiskan waktu bersama di kampus tapi tetep selalu ada Deva Devi.
Setelah hari-hari padat dengan kuliah akhirnya libur semesteran datang. Ayah ibu sibuk packing buat besok nyusulin David ke rumah neneknya. Tiba-tiba telfon berdering ibu menyela dan bergegas mengangkatnya.
"Assalamualaikum, hallo?... Astaghfirullah... iya-iya kami segera datang!" Jawab ibuku di telpon.
__ADS_1
Melihat ibu yang begitu terkejut bercakap, aku langsung berlari kearahnya.
"Kenapa bu?" Tanyaku.
"Cepat kita bereskan dan segera berangkat David masuk ICU" jawab ibuku.
Aku memandangi ibu dengan wajah terkejut dan air mata ku tumpah. Sepanjang perjalanan aku tak bisa membendung air mata ini, ibu selalu menenangkan ku tapi dimata ku hanya ada bayangan David yang tidur di ranjang rumah sakit dengan banyak kabel di tubuhnya, fikiranku enggak tenang.
Ya Tuhan setidaknya beri aku kesempatan untuk melihat dia tersenyum kearah ku. Sesampainya di depan RS aku langsung berlari ke dalam menuju ruang ICU dan aku lihat ayah dan nenek David sedang berpelukan dengan air mata mengalir di wajah mereka.
Aku berjalan berlahan mendekati mereka air mataku tak bisa ku bendung lagi saat nenek David berlari kearah ku dan memelukku. Aku tau betapa sakitnya perasaan nenek melihat cucu satu-satunya tak berdaya di ruang ICU, dan aku berjalan kearah kaca. Aku melihat tubuh David yang di penuhi dengan kabel-kabel dan alat bantu pernapasan.
Hatiku sangat-sangat sakit melihatnya, tak tahan melihat ketidak berdayaannya aku berlari kearah mushola RS, disanalah aku mencurahkan segala gundahku pada-Nya.
"Ya Allah jika memang takdir kami harus kehilangan David, kami ikhlas ya Allah tapi hamba mohon berikanlah kami kekuatan menerima semua ini dan hamba mohon ya Allah hilangkanlah rasa sakit yang ia rasakan sekarang, hilangkan rasa sakitnya ya Allah hilangkan" kataku dalam do'a ku.
Dengan air mata yang terus menetes, membayangkan wajah David hingga aku tertidur dengan posisi duduk. Aku bangun dan berjalan kembali ke ruang ICU, dan berjalan perlahan dengan pandangan kosong.
Sontak aku terkejut dan berkata kepada ayahku...
"Ayah!, David menggerakkan tangannya"
Mereka bangun dari duduknya, dan Ayah David berlari memanggil dokter, dokter masuk. Kami tidak diperbolehkan ikut masuk, kami hanya bisa melihat dari luar dengan harap cemas semoga keajaiban kembali datang untuk David ku.
Dokter keluar dan berkata "kondisinya mulai stabil, tapi belum bisa ditemui banyak orang!"
Dengan menepuk punggung ayah David dan berlalu meninggalkan kami.
Walaupun begitu ungkapan dokter, aku yakin David pasti sembuh, kami bernafas lega akhirnya David melalui masa kritisnya.
__ADS_1
"Maaf ada yang bernama Ecca, tuan David memanggil-manggil nama itu" kata suster yang keluar dari kamar David.
"Ya ada, Ca masuklah!" kata ayah David.
Aku melihat kearah ayah dan ibu, mereka mengangguk. Dan aku melangkah masuk dan berjalan perlahan mendekati David, dengan sebisa mungkin aku menahan untuk tidak menangis dihadapannya.
Sampai didekatnya aku hanya berdiri dan menatapi wajahnya yang masih terpejam, mungkin dia merasa ada seseorang didekatnya perlahan ia mulai membuka matanya.
Kemudian David mulai menoleh kearah ku, dan aku membuka masker yang ku pakai dan tersenyum kearahnya.
Perlahan menebarkan senyumannya, tangannya perlahan terangkat pelan, aku langsung meraihnya dan ku genggam tangannya, lalu ia meletakkan genggaman tanganku kedadanya, hatiku mulai terasa sesak tapi aku mencoba menahan sakit ini menahan untuk tidak menangis.
Kami saling menatap, dia mencoba untuk bicara tapi suaranya samar-samar aku mencoba membaca gerak bibirnya dia berkata apa kabar, aku tersenyum karena memang sudah hampir 3 minggu kami tidak bertemu, dan David enggak pernah ada kabar.
"Aku baik, baik banget, kamu gimana?" Jawabku dengan sura yang mulai bergetar.
Dia menjawab dengan anggukan dan senyumnya, dia mulai berkata lagi...
"Aku capek!" Serunya.
Lalu, aku tersenyum.
"Istirahat ya!" Ujarku.
Kemudian aku membenarkan selimutnya, dan dia memejamkan matanya, aku berdiri tapi tangan David masih memegang erat tanganku seakan dia menginginkan ku menemaninya disini.
Aku kembali duduk dan ku tatap wajahnya, tanpa sadar air mataku mulai mengucur setelah sekian lama aku menahannya. Dan aku tutup mulutku agar suara tangis ku tak membangunkan David, tapi tangan David semakin erat menggenggam tanganku, apakah dia tau aku menangis, aku mencoba menyekanya dan berusaha menahan kembali tangisku.
Perlahan tangan David mulai lemah menahan tanganku, mungkin dia sudah tidur. Aku melepaskan tanganku dan keluar, kemudian ayah dan ibu ku berdiri dihadapan ku tersenyum kearah ku, dengan haru mereka memelukku. Air mataku kembali menetes dan ku coba mengusapnya untuk tidak menangis lagi.
__ADS_1
ooOoo