Diary Ecca

Diary Ecca
Part 16


__ADS_3

...Asmara & Cinta...


"Aduh... iya-iya maaf-maaf. aku pijit ya"


"Hem... jangan tambah parah dech kalo kamu yang mijit" jawabkku dengan mengindar dari sentuhan Deva.


"Makan yok, laper ni" pungkas Deva.


"Eem dasar, tunggu dong yang punya rumah aja belom nawarin" tangkasku.


"Iya ni,, gendut" ledek Devi, yang membawa senyum kami dan membuat Deva cemberut tak berapa lama David datang.


"Kalian kalo mau makan, makan aja udah di siapin sama nenek, nenek lagi ada perkumpulan sama warga"


"Oow gitu, baik B.G.T si nenek tau aja kalo aku laper" jawab Deva dan dibalas dengan senggolan tangan Devi yang mencoba menghentikan ucapan Deva yang sedikit membuat kami tidak enak.


"Ya udah kalian makan saja, kebetulan aku udah makan tadi biar aku yang nemenin Ecca di sini, iya Ca ni makanan kamu... kata nenek kamu belum boleh jalan, jadi aku bawain kesini makanannya"


"Eem... iya makasi" sembari menerima nampan berisi makanan dari David.


ooOoo

__ADS_1


Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik. Bukan, bukan karena kata sementara itu menyenangkan, hakikatnya, yang singkat tak akan pernah sepadan. Bukan juga karena kata selamanya terdengar mustahil, sejatinya taka ada yang bisa terjadi di bumi, kalau kau bertanya kenapa, sebenarnya aku juga tidak tahu.


Aku bukan perasaan. Aku hanya berada di tubuh seorang perempuan yang tiap langkahnya berhadapan dengan perasaan. Dan sejujurnya tak enak, membosankan, mudah senang, mudah kecewa, mudah sedih, tapi juga mudah memaafkan. Kadang ingin sekali aku hidup di dalam pikirannya, iya dia seorang laki-laki yang dari tadi cuma mendengar, cuma membaca, tapi tak pernah merasa.


"Ya udah Ca kita makan dulu ya, kita tinggal dulu ya Vid" mereka melangkah pergi dengan acara bisik-bisik dan saling cekikikan mereka pasti ngomongin aku.


Apakah hanya sebatas rasa, atau memang hanya sekedar sebagai pengagum rahasia saja. Entahlah beberapa rasa hanya berdiskusi dalam hati dia merenung namun tak ingin di ketahui oleh siapapun, apa aku yang hanya merasa atau firasat ku saja.


"Gimana kakinya udah mendingan" David melangkah mendekati ku dan duduk di kursi dekat ranjang yang langsung berhadapan dengan ku.


"Udah si, nggak terlalu sakit kayak kemarin" jawabku dengan mencoba mengerak-gerakkan kakiku yang masih sedikit nyeri.


Hening beberapa saat dan aku mencoba memecah keheningan itu.


"Makasih ya udah dibawa kesini"


"Hem.. iya sama-sama, selagi kita bisa kan wajib untuk membantu apalagi tetangga" kata-kata yang membuat kami saling tersenyum.


"Kira-kira besok udah boleh buat jalan nggak ya...Bosen kalo harus di kamar terus" David tersenyum mendengar ucapanku.


"Kata nenek tadi si boleh..tapi nggak boleh jauh-jauh dulu"

__ADS_1


"Gitu ya, padahal aku penasaran banget sama tempat favorit kamu, sebagus apa si sampe sefavorit itu" David tertawa geli dengan jawabanku, memang ada yang salah dengan ucapanku.


Menjamah pusat rindu yang gaib, mencumbui perasaan  garib yang sebelumnya tiada dikenal. Waktu yang memetakan segala ingatan purba atas raga kita yang fana, telah tumbuh menjadi kenangan baka atas lebatnya hutan rimba belantara dan sebuah sendang kecil di tengah tengah pulau terpencil yang dikelilingi oleh lembah yang permai dan perbukitan perak yang dulu sekali sering engkau jelajahi.


Gunung gunung yang menjulang tinggi di kejauhan seakan menantang untuk ditaklukkan. Langit biru terhampar di atas padang gundul terbentang jauh hingga ke semenanjung yang sebelumnya tak pernah dijamah. Semua yang dulu cuma bagian dari lintasan sejarah, namun kini selamanya telah jadi pengingat akan dirimu. Semua yang dulu pernah mengungkapkan seluruh jejak petilasan dan penaklukanmu. Bentang alam dari seluruh kekayaan yang kini engkau simpan dalam perbendaharaanmu pribadi. Alam liar dari horizon pikiran dan khazanah perasaan yang nyaris tak terselami.


Tidak ada lagi rahasia yang engkau tutupi dari mata kami, selain daripada ceruk ceruk terdalam dari palung palung yang tersembunyi di balik mimpi mimpimu. Sungguh, tiada lagi kebahagiaan yang mampu mewakili perasaan kami saat ini, karena engkau telah mengijinkan kami untuk menjadi saksi mata; hasrat dari hasratmu, kerinduan dari kerinduanmu, cinta dari cintamu.


Bagaimana kami mampu membalas kebaikan hatimu yang sungguh tiada terkira? Sebab hanya tulus kata dari apa yang tak terucap namun telah puas kami saksikan, akan menggenapi seluruh janji dari semua yang telah engkau beri namun tak akan pernah kami miliki. Akan tetapi, sudah cukuplah itu semua bagi kami, karena engkau telah mengijinkan kami mengagumi keelokan panorama dari apa yang selama ini engkau simpan rapat rapat sebagai harta pusaka yang hanya bisa dinikmati oleh sang raja.


Gelap bayangan hutan merasuk mataku seperti hantu. Dan siut angin merintih seperti mendesakkan sejuta tanya yang tak kutahu apa jawabnya, "Apakah kau juga tengah memikirkan diriku saat ini?"


Makin larut aku dalam perjalanan sendiri. Menghitung langkah, di tengah malam berkabut dan jalan lengang sunyi. Mengejar muram sosok rembulan yang larut dalam tarian hujan. Samar pucat parasnya menggigil sendirian. Dan suara itu masih terdengar, menyeru dari kejauhan. Tak henti henti, memangil namaku. 


Ada hal hal yang ingin ku lupa dari waktu kecilku sendiri. Detik detik yang tidak berarti. Kemarahan yang perlahan hangus dan lalu mengabu dalam hatiku. Walau kini, ia sudah bukan lagi api. Ia sudah menjadi dingin. Tapi, mengapa luka itu masih saja ada di sana?.


Aku tahu, aku telah membuatnya bersedih. Dinding itu telah lama menjelma jadi sebatang pohon dengan kulit yang renta, mengelupas di banyak tempat. Rantingnya mulai merapuh dan daun daunnya yang gugur, berserakan di mana mana. Ia bukan lagi pohon yang dulu biasa aku panjat. Bukan, ia tidak sedang menjadi pohon yang lain. Melainkan diriku. Akulah yang kini berubah. Seperti langit biru yang mendadak kelam. Seperti mendung yang menaungi hati yang tak hentinya menangis.


Aku sudah lama sekali tenggelam, mungkin sejak terakhir kali aku terlelap di bawah pohon ibu. Pohon di mana dulu jadi tempatku bernaung. Pohon itu masih ada di sana, sunyi dan sendiri. Berasa jauh tapi pun dekat. Aku terkadang ingin menyentuhnya, seperti aku menyentuh dinding ibu untuk pertama kali. Tapi aku tahu, aku sudah bukan yang dulu lagi. Dan ibu seperti rumah yang merindukan kehadiranku. Ia ingin aku pulang padanya. Tapi entahlah, apakah besok masih cukup ada waktu untukku untuk menjadi diriku sendiri?.


ooOoo

__ADS_1


__ADS_2