Diary Ecca

Diary Ecca
Part 25


__ADS_3

...Dilangit Yang Sama Kamu Berada...


Apakah untuk menjadi seorang lelaki, aku harus mengorbankan perasaan perasaanku sendiri? Apakah untuk menjadi seorang lelaki aku harus meninggalkan masa kecilku hanya untuk mendengarkan suara suara orang lain; hardikan, umpatan, cemoohan dan teguran teguran yang seringkali menyakitkan hati.


Aku sudah lama sekali tenggelam, mungkin sejak terakhir kali aku terlelap di bawah pohon ibu. Pohon di mana dulu jadi tempatku bernaung. Pohon itu masih ada di sana, sunyi dan sendiri. Berasa jauh tapi pun dekat. Aku terkadang ingin menyentuhnya, seperti aku menyentuh dinding ibu untuk pertama kali. Tapi aku tahu, aku sudah bukan yang dulu lagi. Dan ibu seperti rumah yang merindukan kehadiranku. Ia ingin aku pulang padanya. Tapi entahlah, apakah besok masih cukup ada waktu untukku untuk menjadi diriku sendiri?.


Aku bukan perasaan. Aku hanya berada di tubuh seorang perempuan yang tiap langkahnya berhadapan dengan perasaan. Dan sejujurnya tak enak, membosankan, mudah senang, mudah kecewa, mudah sedih, tapi juga mudah memaafkan. Beberapa perasaan tak ingin diabadikan, mereka hanya ingin dititipkan.


ooOoo


Usai makan David pamit pulang, tapi karna belum terlalu malem banget aku dan David jalan berdua keluar menuju danau.


"Aduh, malam-malam jalan berdua aja, romantis banget ni mbak Ecca sama mas David" ledek satpam komplek rumahku.


"Bisa aja bapak, mau ikut? Ayo pak, sambil olah raga biar nggak setres...hhh" jawabku sembari tersenyum dan disabut dengan tawa kami.


Nggak tau kenapa walaupun baru kenal David. Kami cepat akrab padahal nggak biasanya aku cepet akrab sama orang apalagi cowok, tapi sama David aku ngerasa ada yang beda. Aku merasa nyaman kalo lagi sama dia kayak udah kenal lama. Nggak ada rasa canggung pokoknya kalo ada dia aku merasa terlindungi banget, sama rasanya waktu sama ayah dan ibu merasa terlindungi. Kami duduk di padang rumput tepi danau bersama menikmati sejuknya semilir angin yang menyabut kami.


"Nyalain mp3 akustik enak ni...nah ginikan tambah romantis ya nggak Ca" dia memutar mp3 akustik yang nggak tau aku noveleosnya apa, tapi lagunya emang enak banget dan bikin ngantuk juga hehe.

__ADS_1


Aku diam-diam liatin dia, dia memejamkan matanya seakan terbawa suasana dan alunan musiknya aku senyum heran. dan mengalihkan pandanganku jauh kearah depan ikut larut dalam suasana yang nyaman. Aku jadi ngantuk. Karna mungkin sangking larutnya saat aku bangun ternyata aku tidur senderan di bahu David, tapi anehnya dia nggak bangunin aku. Rasanya nyaman aku lanjutin aja tidur di bahu dia, damai banget belum pernah aku ngerasain sedamai ini. Apalagi dengan suasana kayak gini.


"Ca, bangun pulang yuk udah jam 9, nanti ibu kamu khawatir lagi, seenak itu ya bantalnya..hhh!!" Seru David.


"Hhhh... maaf, musik kamu bikin ngantuk si" kami berdiri dan beranjak pulang.


"Aku anter sampe depan rumah ya?" tawar David.


"Nggak usah, deket ini..kamu langsung masuk aja udah malem juga, ok! aku pulang ya..daaa" dia hanya tersenyum mengangguk dan melambaikan tangannya membalas lambaian tanganku.


Sampai di depan rumah aku menengok lagi kearah David ternyata dia masih menungguku masuk rumah, dia kembali melambaikan tangan aku sambut dengan senyum dan masuk rumah. Aku masuk rumah tenyata ayah dan ibu sudah tidur, aku cuci muka dan kebiasaan sehat gosok gigi sebelum tidur hhh, abis itu langsung dech tidur pules sampe pagi.


Pagi yang cerah secerah suasana hati ku, hem hari ini aku berangkat pagi tapi nggak pa-pa cuma sampe jam 1 siang. Jadwal kuliah hari ini nggak full, jadi bisa pulang cepet, jadi bisa tidur siang hehe, aku datang ke kampus kayaknya ke pagian dech mungkin karna saking semangatnya. Masih sepi tapi enak si, sepi cuma banyak suara burung yang lagi pada paduan suara sama perewang kampus yang lagi nyapu daun-daun yang gugur.


Kemudian aku tanya sama tukang kebun yang lagi nyapu...


"Pak, bapak denger suara musik nggak?" Spontan bapak itu fokus mencari suara yang aku maksud.


"Oh iya, itu kan tadi ada kelompok pemusik dari luar yang katanya si mau tampil nanti di audit sini, mungkin mereka lagi latian neng" jawabnya.

__ADS_1


"Oow gitu, emang dari mana pak?" Tanyaku.


"Wah, nggak tau juga si neng" jawabnya.


"Ya.. udah makasi ya pak" aku tersenyum sembari berjalan agak cepat mencari sumber suara itu karna penasaran siapa yang memainkan akustik secantik itu suaranya.


Semakin aku melangkah suaranya semakin dekat, aku cari di audit kosong, aku berlari lagi di ruang-ruang nggak ada, diruang musik juga nggak ada, tapi aku nggak nyerah tetep aku cari sampai akhirnya aku terhenti di depan gedung olah raga. Suaranya semakin jelas di sana, sempet curiga si masak main musik di gedung olah raga kayak nggak ada tempat lain. Aku liat pintu gedung terbuka sedikit berlahan aku masuk dan tercengang waktu liat ruang gedung yang berubah dekorasinya kayak dekor pertunjukan teater dan bukan gedung olahraga lagi.


Perlahan aku melangkah dan mencoba mendekati panggung penasaran dengan sesosok laki-laki yang sedang fokus memainkan gitarnya dan mataku terbelalak kagum melihat dia yang bermain akustik secantik itu ternyata David. Aku terpaku melihat dia bermain seindah itu, mungkin saking asiknya dia nggak tau aku memperhatikannya. Dia terus fokus, memainkan akustiknya mungkin terlalu fokus. Setelah musiknya berhenti aku sambut dengan tepuk tanganku yang membuatnya terkejut, ia berdiri dan berjalan menghampiriku.


"Sejak kapan bisa main akustik sebagus itu?" Tanyaku.


"Ach bisa aja, udah lama si..hhh...sejak kapan kamu disini?" Tanya David.


"Kok nggak pernah bilang si kan lumayan buat aku ngantuk kalo lagi nggak bisa tidur...hhh..udah setengah jam yang lalu!" Seruku.


"Hhh.. ada-ada aja, ya kamu nggak nanya hhh..setengah jam yang lalu lama juga, kapan masuknya aku kok nggak liat?" Tanya David.


"Jelas nggak liat kamu fokus mainnya" dia hanya tersenyum malu.

__ADS_1


"Nggak bilang juga lagi kalo mau kekampusku, tau gitu tadi aku bareng kamu berangkatnya...hhh" ledekku disambut tawa David.


ooOoo


__ADS_2