
...Love You...
Bagaimana mesti menerjemahkan perasaan rindu seperti ini? Jarak, seperti hamparan kuburan tua yang angker dan menakutkan. Menoreh luka yang dalam bagai getar yang datang dan pergi. Kilat dan guruh tak letih sabung menyabung di langit.
Gelap bayangan hutan merasuk mataku seperti hantu. Dan siut angin merintih seperti mendesakkan sejuta tanya yang tak kutahu apa jawabnya, "Apakah kau juga tengah memikirkan diriku saat ini?"
Makin larut aku dalam perjalanan sendiri. Menghitung langkah, di tengah malam berkabut dan jalan lengang sunyi. Mengejar muram sosok rembulan yang larut dalam tarian hujan. Samar pucat parasnya menggigil sendirian. Dan suara itu masih terdengar, menyeru dari kejauhan. Tak henti henti, memangil namaku.
Kau pancarkan kebahagiaanmu dari mata air yang tersembunyi. Seperti ketika laut pasang di bawah tatapan lembut sang matahari mendatangkan kegembiraan yang tak terlukiskan.
ooOoo
Kau pancarkan kebahagiaanmu dari mata air yang tersembunyi. Seperti ketika laut pasang di bawah tatapan lembut sang matahari mendatangkan kegembiraan yang tak terlukiskan. Sepasang lima jari yang terkembang ke empat penjuru samudra saat menghantarkan puja kepada yang maha kuasa. Ia yang memberi kita segala kenikmatan. Ia yang kepadanya kita berpulang.
Menjamah pusat rindu yang gaib, mencumbui perasaan garib yang sebelumnya tiada dikenal. Waktu yang memetakan segala ingatan purba atas raga kita yang fana, telah tumbuh menjadi kenangan baka atas lebatnya hutan rimba belantara dan sebuah sendang kecil di tengah tengah pulau terpencil yang dikelilingi oleh lembah yang permai dan perbukitan perak yang dulu sekali sering engkau jelajahi.
Gunung gunung yang menjulang tinggi di kejauhan seakan menantang untuk ditaklukkan. Langit biru terhampar di atas padang gundul terbentang jauh hingga ke semenanjung yang sebelumnya tak pernah dijamah. Semua yang dulu cuma bagian dari lintasan sejarah, namun kini selamanya telah jadi pengingat akan dirimu. Semua yang dulu pernah mengungkapkan seluruh jejak petilasan dan penaklukanmu. Bentang alam dari seluruh kekayaan yang kini engkau simpan dalam perbendaharaanmu pribadi. Alam liar dari horizon pikiran dan khazanah perasaan yang nyaris tak terselami.
Tidak ada lagi rahasia yang engkau tutupi dari mata kami, selain daripada ceruk ceruk terdalam dari palung palung yang tersembunyi di balik mimpi mimpimu. Sungguh, tiada lagi kebahagiaan yang mampu mewakili perasaan kami saat ini, karena engkau telah mengijinkan kami untuk menjadi saksi mata; hasrat dari hasratmu, kerinduan dari kerinduanmu, cinta dari cintamu.
Bagaimana kami mampu membalas kebaikan hatimu yang sungguh tiada terkira? Sebab hanya tulus kata dari apa yang tak terucap namun telah puas kami saksikan, akan menggenapi seluruh janji dari semua yang telah engkau beri namun tak akan pernah kami miliki. Akan tetapi, sudah cukuplah itu semua bagi kami, karena engkau telah mengijinkan kami mengagumi keelokan panorama dari apa yang selama ini engkau simpan rapat rapat sebagai harta pusaka yang hanya bisa dinikmati oleh sang raja.
"Hem, kok kak Fikri bisa disini sejak kapan?" Tanyaku.
__ADS_1
"Ya sejak kamu tidur, enak banget jadiin bantal orang" jawab Devi.
"Maaf nggak bangunin tadi, abis kamu pules banget tidurnya, tadi Deva minta tukeran tempat duduk katanya pusing jadi dia duduk didepan" jawab kak Fikri.
"Hem! gitu, maaf ya kak tadi aku...nggak tau soalnya..maaf" ujarku.
"Iya nggak papa, ya udah ayo turun!" Seru kak Fikri.
Aku hanya mengangguk dan kak Fikri pergi turun, aku langsung melihat kearah Deva Devi dengan wajah cemberut kesal dan mereka malah senyum-senyum meledek.
"Kalian kok nggak bangunin aku si, kan malu ihhh!" Ujarku pada Deva dan Devi.
"Hhhh...low kita kan sahabat yang baik, nggak mau ganggu kamu tidur, lagian dari tadi kita liat kamu nyaman banget ya udah sekalian aja nggak di bangunin...hhh" jawab Devi.
"Iihhh kalian tu ya, nggak lucu tau" jawabku sambil menekuk wajahku karena kesal.
Kemudian aku turun mendahului mereka...
"Ca, tadi aku liat waktu kak Fikri disenderin kamu dia malah senyum-senyum yaman banget...hhh" ujar Devi.
"Emm...udah ach nggak mau denger, bikin malu aja si" ujarku marah.
"Va kamu tau kan apa yang aku pikirkan" kata Devi.
__ADS_1
"Yapz, pikiran kita sama" jawab Deva.
"Hey nggak usah ngeres ya, ayo nggak kebagian kamar nanti", tangkasku menghentikan ledekan mereka, ya Tuhan mau ditaro dimana coba mukaku kalo ketemu kak Fikri lagi, lagian dia juga nggak bangunin aku si.
Pokoknya pasti malu banget kalo ketemu dia lagi, huft tapi dibuat santai aja anggap nggak terjadi apa-apa ok bismilah.
Kami menginap di sebuah wisma dikawasan puncak, aku sekamar sama Deva Devi, secara kita nggak akan bisa lepas kalo ada kegiatan bareng udah jadi tiga serangkai, kemana-mana bareng sampe mau pipis pun kita bareng bertiga.
Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik. Bukan, bukan karena kata sementara itu menyenangkan, hakikatnya, yang singkat tak akan pernah sepadan.
Bukan juga karena kata selamanya terdengar mustahil, sejatinya taka ada yang bisa terjadi di bumi, kalau kau bertanya kenapa, sebenarnya aku juga tidak tahu.
Aku bukan perasaan. Aku hanya berada di tubuh seorang perempuan yang tiap langkahnya berhadapan dengan perasaan. Dan sejujurnya tak enak, membosankan, mudah senang, mudah kecewa, mudah sedih, tapi juga mudah memaafkan.
Jarak terkadang membuatnya menjadi asing, membuat seseorang tak percaya akan kekuatan cinta. Silangit yang sama kamu berada, namun belum kamu temukan satu sosok pilihan-Nya.
Bagiku hidup hanya selalu hitam dan putih, kebahagiaan akan selalu berbanding lurus dengan kesedihan. Kita hanya menunggu waktunya bergiliran bukan?. Begitupun dengan kesunyian. Hari ini terasa ramai, mungkin esok kita akan berdialog lagi dengan kesendirian.
Meski dalam keramaian aku masih merasa kesepian, entah kenapa sunyi sepi ku rasa tanpa seseorang yang bisa menemani ku di kesendirian ini, tak terasa sudah semakin jauh aku berjalan sendiri.
Egois ku rasa bila aku mengeluh saja tanpa mau berusaha, entah kenapa goresan pena ku sampai pada titik kosong dimana tinta hitam yang ku tulis diatas kertas putih ternyata telah habis, setiap yang ku tulis sesuai dengan perjalanan hidup dimana hati menangis menjerit menceritakan setiap perjalanan hati yang lirih, meski sang waktu berbicara dengan nada yang lirih sambil di temani sang piano yang terus berbunyi dengan merdunya seperti melodi sendu yang menohok hati, jarum jam terus berdetak kencang ke arah sumbu yang tak terbatas.
ooOoo
__ADS_1