
...Dalam Hatiku...
"Kemana ya dia?" rasa khawatir merasuki ku.
"Apa mungkin dia ke rumah neneknya tapi kok tumben enggak bilang ngasih kabarpun enggak".
Tapi tiba-tiba ada Sms masuk dari David. Aku tersenyum seneng banget, panjang umur tu orang baru dipikirin udah nongol, hhh di SMS dia bilang...
"Ati-ati ya, jaga diri jangan ceroboh, jangan macem-macem...jangan lupa sholat!!" Pesannya di SMS.
"Iya tetanggaku yanng baik hati!!" Balasku singkat.
Walupun enggak ketemu langsung aku lega dia hubungi aku walaupun hanya lewat SMS. Sampe di kampus ternyata udah rame banget, segitu semangatnya mereka mau pada kemping, kalo masuk kuliah aja pada telat-telat kalo masalah ginian pada cepet, Deva Devi juga udah sampe dari tadi.
"Lama banget si?" Tanya Devi
"Hhh...maaf" jawabku.
"Ok, kawan-kawan, asalamualaikum warohmatullalhi wabarokatu!!"
"Waalaikum salam warohmatullahi waborkatu"
"Selamat pagi, semua!"
ooOoo
Jarak terkadang membuatnya menjadi asing, membuat seseorang tak percaya akan kekuatan cinta. Silangit yang sama kamu berada, namun belum kamu temukan satu sosok pilihan-Nya.
Bagiku hidup hanya selalu hitam dan putih, kebahagiaan akan selalu berbanding lurus dengan kesedihan. Kita hanya menunggu waktunya bergiliran bukan?. Begitupun dengan kesunyian. Hari ini terasa ramai, mungkin esok kita akan berdialog lagi dengan kesendirian.
__ADS_1
Meski dalam keramaian aku masih merasa kesepian, entah kenapa sunyi sepi ku rasa tanpa seseorang yang bisa menemani ku di kesendirian ini, tak terasa sudah semakin jauh aku berjalan sendiri.
Egois ku rasa bila aku mengeluh saja tanpa mau berusaha, entah kenapa goresan pena ku sampai pada titik kosong dimana tinta hitam yang ku tulis diatas kertas putih ternyata telah habis, setiap yang ku tulis sesuai dengan perjalanan hidup dimana hati menangis menjerit menceritakan setiap perjalanan hati yang lirih, meski sang waktu berbicara dengan nada yang lirih sambil di temani sang piano yang terus berbunyi dengan merdunya seperti melodi sendu yang menohok hati.
Jarum jam terus berdetak kencang ke arah sumbu yang tak terbatas dengan penuh ke haluan aku terus bertanya kepada diriku sendiri, hari ini apakah akan lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya atau malah akan memberikan aku kesibukan uang sebenarnya membawaku pada rasa takut untuk memulai perubahan.
"Pagi!"
"Sebelum kita memulai perjalanan dan kegiatan kita alangkah baiknya mari kita sama-sama memanjatkan do'a agar kegiatan kita dapat berjalan dengan lancar dan membawa manfaat bagi kita"
"Amin!"
"Berdoa, mulai!" suara kak Fikri membimbing kami.
Kami pun mengheningkan cipta memohon doa restu dan ridhoNya.
"Setuju!"
"Baik, silahkan rapihkan barang-barang kalian dan masuk ke bus masing-masing!" Serunya.
Kami bubar, masuk ke bus masing-masing dan kebetulan aku satu bu sama kak Fikri. Seperti yang diharapkan Deva Devi, aku duduk dibagian kanan sederet sama pak supir tepatnya di baris ke-5.
Aku milih duduk dideket jendela biar bisa liat sekeliling, aku duduk sama Deva untung aja tempat duduknya luas, jadi walaupun sama dia nggak begitu sempit, enak juga kalo ngantuk bisa buat bantal hh.
Devi duduk di sebelah kami sama Anton temen satu jurusan kami, cocok banget orang berdua soalnya sama-sama alay dan cerewet juga.
Sepanjang perjalanan di bus pak kondektur muternya mp3 berbau lagu galau-galau semua jadi bikin ngantuk, yang lain si tampaknya menikmati mereka pada ikut nyanyi, mungkin sesuai dengan suasana hati mereka, dari pada bosen aku dengerin mp3 sendiri aja, aku pasang handphone puter dech lagu-lagu yang ceria, sambil liat-liat jalan yang kami lewati.
Tiba-tiba aku denger musik akustik yang di mainin sama David kemarin, aku liat di mp3-ku noveleosnya thanks to your smile noveleos yang unik, tapi perasaan aku nggak pernah otak-atik ni mp3, apalagi nambah lagu kenapa tiba-tiba ada lagu ini.
__ADS_1
Ya sudahlah dengerin aja, aku menghayati setiap alunan petikannya yang membuatku mengingat David waktu bareng-bareng sama dia, ketawa-ketawa Bareng dia, mungkin karna sangking larutnya sampe-sampe aku ketiduran senderan Deva.
Nggak aku lirik si cuma aku rasa-rasa aja males mau buka mata, tapi rasanya kok beda ya agak kerasan enggak seempuk badan Deva biasanya, mungkin Cuma perasaanku.
Aku lanjutin dech tidurku sambil aku peluk tangan Deva yang aku sandari tanpa membuka mata sedikitpun.
"Ca...Ca, bangun udah sampe ni!" Serunya.
Suara samar-samar Deva sedikit coba buka mata melihat kearah bangku depan yang membuatku terbelalak.
Deva Devi ada didepanku terus yang aku pegang ini siapa? segera aku menoleh yang tambah kagetnya ternyata yang dari tadi aku buat bantal itu kak Fikri, hem bisa ngebayanginkan betapa kaget dan malunya aku, tapi dia cuma senyum-senyum liatin aku yang lagi bingung.
Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik. Bukan, bukan karena kata sementara itu menyenangkan, hakikatnya, yang singkat tak akan pernah sepadan.
Bukan juga karena kata selamanya terdengar mustahil, sejatinya taka ada yang bisa terjadi di bumi, kalau kau bertanya kenapa, sebenarnya aku juga tidak tahu.
Aku bukan perasaan. Aku hanya berada di tubuh seorang perempuan yang tiap langkahnya berhadapan dengan perasaan. Dan sejujurnya tak enak, membosankan, mudah senang, mudah kecewa, mudah sedih, tapi juga mudah memaafkan.
Gemericik suara hujan menggertap di dedaunan. Suara runcing berdenting di kalbu, serasa menyebut namaku. Suaramukah itu, kekasih?
Bagaimana mesti menerjemahkan perasaan rindu seperti ini? Jarak, seperti hamparan kuburan tua yang angker dan menakutkan. Menoreh luka yang dalam bagai getar yang datang dan pergi. Kilat dan guruh tak letih sabung menyabung di langit.
Gelap bayangan hutan merasuk mataku seperti hantu. Dan siut angin merintih seperti mendesakkan sejuta tanya yang tak kutahu apa jawabnya, "Apakah kau juga tengah memikirkan diriku saat ini?"
Makin larut aku dalam perjalanan sendiri. Menghitung langkah, di tengah malam berkabut dan jalan lengang sunyi. Mengejar muram sosok rembulan yang larut dalam tarian hujan. Samar pucat parasnya menggigil sendirian. Dan suara itu masih terdengar, menyeru dari kejauhan. Tak henti henti, memangil namaku.
Kau pancarkan kebahagiaanmu dari mata air yang tersembunyi. Seperti ketika laut pasang di bawah tatapan lembut sang matahari mendatangkan kegembiraan yang tak terlukiskan.
ooOoo
__ADS_1