
...Senja Di Ufuk Timur...
Bagiku hidup hanya selalu hitam dan putih, kebahagiaan akan selalu berbanding lurus dengan kesedihan. Kita hanya menunggu waktunya bergiliran bukan?. Begitupun dengan kesunyian. Hari ini terasa ramai, mungkin esok kita akan berdialog lagi dengan kesendirian.
Meski dalam keramaian aku masih merasa kesepian, entah kenapa sunyi sepi ku rasa tanpa seseorang yang bisa menemani ku di kesendirian ini, tak terasa sudah semakin jauh aku berjalan sendiri.
Egois ku rasa bila aku mengeluh saja tanpa mau berusaha, entah kenapa goresan pena ku sampai pada titik kosong dimana tinta hitam yang ku tulis diatas kertas putih ternyata telah habis, setiap yang ku tulis sesuai dengan perjalanan hidup dimana hati menangis menjerit menceritakan setiap perjalanan hati yang lirih, meski sang waktu berbicara dengan nada yang lirih sambil di temani sang piano yang terus berbunyi dengan merdunya seperti melodi sendu yang menohok hati, jarum jam terus berdetak kencang ke arah sumbu yang tak terbatas.
ooOoo
Hari pertama kegiatan kita bakti sosial di pemukiman warga didekat wisma yang kami tempati. Nyaman si warganya ramah-ramah, aku ikut bagian nanemin pohon-pohon, yang cowok-cowok pada sibuk nyangkulin tanah, buangin sampah, dll. Dan akhirnya selesai juga, jadi rapi dech dusunnya tanamannya jadi tambah, warganya juga keliatan terbantu banget, nggak nyesel dech ikut kemping. Kami dikasih waktu istirahat bersih-bersih (mandi), makan,dll dua jam. Untung kamar mandinya cukup jadi nggak ngantri lama.
"Mandi udah, dandan udah, tinggal makan dech" celoteh Deva.
"Dasar kalo makan aja cepet" jawab Devi.
"Ye...nggak papa donk dari pada nanti aku kelaperan, kamu mau tanggungjawab" ujar Deva.
"Gampang aja, aku anter nanti ke warung, tapi bayar sendiri ya...hhh" ujar Devi.
Aku hanya tersenyum mendengar celotehan mereka dua.
"Kalian makan aja dulu, aku ke mushola dulu waktu Asharnya udah mau abis!" Seruku.
__ADS_1
"Ok, ati-ati ya Ca...titip ya" canda mereka yang aku balas dengan acungan jempol dan bergegas ke mushola.
Langsung aku mengambil air Wudzu keluar dari tempat Wudzu aku berpapasan sama kak Fikr, kemudian dia tersenyum kearahku, "mau sholat?" Tanyanya.
"Iya" jawabku.
"Ya udah, bareng aja aku juga mau solat" ujarnya.
Aku engangguk, kami cuma solat berjamaah berdua, enggak tau yang lain mungkin udah solat dari tadi atau bahkan lupa lagi, agak canggung juga solat cuma berdua sama cowok lagi, baru pertama aku solat cuma berdua sama cowok selain sama ayah. Tapi enggak apalah tambah pahala dari pada solat sendiri.
"Gimana, enggak nyeselkan ikut camping?" Tanya kak Fikri.
Aku jawab dengan anggukan dan senyum, masih malu keinget kejadian di bus.
"Alhamdulillah, nanti abis makan kita ada acara lagi, pergi kampung warga yang tadi, mereka mau nunjukin tradisi mereka!" Ujar kak Fikri.
"Ya, dan dijamin tambah betah ikut kemping" ujarnya.
Kemudian kami trsenyum sembari berjalan menuju kamar masing-masing, sampe di persimpangan jalan antara kamarku dan arah kamar kak Fikri kami saling berpamitan.
Acara kedua dimulai, kami berkumpul dipemukiman warga. Warga sudah mempersiapkan segala hal untuk menyambut kami, kami disuguhi tradisi mereka semacam tarian khas mereka yang penarinya berpasang-pasangan dengan berpakaian khas mereka.
Aku nggak begitu paham tarian apa itu, tapi kalu dilihat dari jenis tari dan sepertinya dramatis yang dibawakan penari, semacam tarian kisah cinta yang ditentang.
__ADS_1
Walaupun sederhana tapi bagus si ternyata sebegitu banyaknya budaya Indonesia sampai di suku-suku kecilpun mereka punya ciri khas sendiri, jadi patut bangga jadi anak Indonesia.
Setelah mereka menyambut kami dengan tarian, mereka juga mengajak kami makan, tapi cara makannya bareng-bareng dan berbaris berhadap-hadapan, karna hidangannya disajikan pada daun pisang yang disambung-sambung jadi panjang banget.
Nggak sepiring-sepiring gitu, berasa gotong royong tapi gotong royongnya ngabisin makanan. Seru si walaupun makanannya sederhana tapi karna makannya rame-rame jadi enak.
Dan selesailah acara hari ini, kami bersalaman dengan warga sebagai wujud ucapan terimakasih kami, berasa lagi lebaran salaman sama orang sekampung.
Kami kembali ke wisma, sebelum masuk kekamar masing-masing kami dikumpulkan di halaman wisma.
"Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatu" suara
kak Fikri yang berdiri di hadapan kami, bersiap memberi arahan karna dia ketua acara ini.
"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh!" Jawab peserta camping.
"Sebelumnya, saya ucapkan terimakasih atas partisipasi temen-temen semua buat acara ini, akhirnya kegiatan-kegiatan kita hari pertama, bisa kita laksanakan dengan lancar. Ok nggak usah lama-lama saya tau kalian pasti capek, hasil dari kegiatan hari ini, jadi sekarang kalian boleh istirahat, dan ingat besok pagi jam setengah lima kita sudah harus berkumpul untuk solat berjamaah, kemudian jam setengah tujuh kita akan melakukan out bown, dikawasan wisata air terjun di bawah sana, siap semuanya!" Ujar kak Fikri panjang lebar menjelaskan detail kegiatan yang akan kita lakukan bersama-sama.
Kesedihan seperti telaga yang hening di dinding ibu. Dinding yang terisak dan mengukir lagi masa kecilku. Seberapa sepinya aku saat itu? Sungguh. Aku tak mengerti, mengapa kubuat dinding itu menangis? Ia sudah seperti rumah bagiku. Tempat aku tidur dan terlelap di malam hari. Tempat aku bermain dengan kesendirianku. Lalu, mengapa aku buat ia menangis?
Ada hal hal yang ingin kulupa dari waktu kecilku sendiri. Detik detik yang tidak berarti. Kemarahan yang perlahan hangus dan lalu mengabu dalam hatiku. Walau kini, ia sudah bukan lagi api. Ia sudah menjadi dingin. Tapi, mengapa luka itu masih saja ada di sana?
Bukankah aku laki laki yang dibesarkan oleh dinding ibuku? Lalu, mengapa aku berpaling daripadanya? Mengapa aku kenakan topeng itu, hanya untuk melihat ia tersenyum? Aku sudah menjadi lelaki yang lain. Lelaki yang bukan kanak kanak yang ia besarkan dulu. Ada banyak topeng yang kini aku kenakan. Salah satunya adalah kesendirian, yang lain adalah amarah.
__ADS_1
Aku tahu, aku telah membuatnya bersedih. Dinding itu telah lama menjelma jadi sebatang pohon dengan kulit yang renta, mengelupas di banyak tempat. Rantingnya mulai merapuh dan daun daunnya yang gugur, berserakan di mana mana. Ia bukan lagi pohon yang dulu biasa aku panjat. Bukan, ia tidak sedang menjadi pohon yang lain. Melainkan diriku. Akulah yang kini berubah. Seperti langit biru yang mendadak kelam. Seperti mendung yang menaungi hati yang tak hentinya menangis. Aku sudah lama sekali tenggelam, mungkin sejak terakhir kali aku terlelap di bawah pohon ibu, yang rindang.
ooOoo