Diary Ecca

Diary Ecca
Part 54


__ADS_3

...Love Is Cinta...


"Makanya kalo tidur tu jangan pules-pules, kamu ketiduran di mobil David, dia juga yang gendong kamu ke kamar!" Ujar ibuku.


"Ibu yang bener, haduh mau di kemanain ni muka malu ibu" jawab ibuku.


"Hhh... kamu ada-ada aja, udah ayo bangun kita sholat ayah udah nunggu tu!" Seru ibuku.


Ibu pergi keluar, aku berlari keteras kamar dan melihat kearah kamar David. Dia ada di luar juga melambaikan tangan kearah ku, lalu aku membalasnya dan langsung masuk dengan ekspresi malu, bisa-bisanya aku tidur sepulas itu sampai di gendong orang enggak tau, Ya Allah aku malu banget jangan lagi-lagi dech.


Di meja makan aku habis-habisan di bully sama ayah dan ibu dengan masalah tadi malem, hem kejadian yang sulit di lupakan dibahas terus lagi sama ibu, hem... mana hari ini libur jadi enggak bisa menyibukkan diri. Tapi udahlah anggap aja semua itu cuma mimpi, tapi gimana kalo ketemu David haduh Tuhan.


ooOoo


Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik. Bukan, bukan karena kata sementara itu menyenangkan, hakikatnya, yang singkat tak akan pernah sepadan.


Bukan juga karena kata selamanya terdengar mustahil, sejatinya taka ada yang bisa terjadi di bumi, kalau kau bertanya kenapa, sebenarnya aku juga tidak tahu.


Aku bukan perasaan. Aku hanya berada di tubuh seorang perempuan yang tiap langkahnya berhadapan dengan perasaan. Dan sejujurnya tak enak, membosankan, mudah senang, mudah kecewa, mudah sedih, tapi juga mudah memaafkan.


"Ca, ikut ayah yok mancing di danau dari pada bosen di rumah!" Seru ayahku.


"Boleh, ayo!" Jawabku.


Ternyata ayah juga libur ngantor, jadi aku bisa sedikit menghilangkan rasa malu kemarin, padahal aku baru berharap ternyata David dan ayahnya juga ikut mancing.


Tambah malu aku.


"Vid, maaf ya tadi malem!" Seruku.


"Iya enggak pa-pa, santai aja" jawab David.


"Lagian kamu enggak bangunin aku si" ujarku.


"Eh aku tu udah coba bangunin kamu... tapi kamu malah tambah pules, yaudah aku gendong aja, dari pada nanti aku tinggal di mobil" ujar David.


"Masa si sekebo itu aku tidur?" Tanyaku.


David hanya tertawa, dan kami melanjutkan jalan kami, heran kenapa aku segitu ngantuknya sampe enggak kebangun dibangunin, padahal enggak biasanya deh.


Hah lupakan masa lalu sekarang fokus mancing walaupun aku cuma nemenin sambil ngemil. Ayah dan juga Ayah David yang mancing, David juga malah asyik ngambil gambar, sesekali dia mengarahkan kameranya kearah ku yang lagi asik makan. Lalu aku pun menyambutnya dengan pose-pose ku yang alay dan membuat dia tersenyum.


"Hey dapet-dapet bantuin berat-berat" kata ayah seketika ayah David membantunya.

__ADS_1


Dan apakah hasilnya.....?????


Ternyata ayah cuma dapet kantong plastik yang terisi banyak air dan membuat kami tertawa terbahak-bahak aku tak bisa menahan rasa geliku melihat ekspresi malu ayah, David tertawa sambil mengambil gambar ku yang sedang asik tertawa dan menahannya untuk tak mengambil gambar ku.


Dan lagi ayah David menarik pancingnya, sepertinya ini hari keberuntungan beliau dapat seekor ikan lele yang lumayan besar, kami sambut dengan tepukan tangan kagum.


Ayah berulah lagi, tapi Alhamdulillah sekarang dia dapat seekor ikan yang lumayan besar dari pada hasil dari ayahnya David. Kami begitu menikmati suasana mancing sampai-sampai lupa waktu udah hampir malam, matahari sudah mengumpat, kami pulang dengan membawa hasil tangkapan yang lumayan bisa buat bakar-bakar.


Dan ibu yang bertugas mengolahnya, aku juga ikut bantuin masak si tapi cuma nyiapin bumbunya kalo masalah olah mengolah ibu jagonya. Dan kami makan hasil pancingan kami dirumah ku, David dan Ayahnya makan malam bersama dirumah ku. Usai makan malam mereka pamit pulang kami mengantar mereka sampai depan rumah.


"Hem kekenyangan ni, masakan ibu Ecca emang luar biasa" Ujar ayahnya David.


"Ah bapak bisa saja!" Seru ibuku.


"Ya sudah terimakasih kami pulang dulu, ayo Vid, assalamualaikum" ujar ayahnya David.


"Waalaikumsalam!"


Mereka berjalan menjauh, ibu dan ayah masuk. Aku masih melihat David yang berjalan ke rumahnya, kemudian dia menoleh kearah ku dan melambaikan tangan, aku membalas dan masuk kedalam.


Keluar keteras kamar, melangkah perlahan ku rebahkan kedua tangan ku, menyambut angin yang meniup tubuhku.


Lalu HP ku berdering, ternyata David aku menoleh kearah kamarnya ternyata dia ada di jendela melihat kearah ku sambil menyuruh ku mengangkat menunjukan Hp-nya, telfonnya, aku jawab telfonnya.


"Kenapa enggak langsung tidur?" Jawab David.


"Kamu juga kenapa enggak langsung tidur?" Tanyaku


"Malah balik nanya... Ca?" Jawab David.


"Hem" ujarku.


"Makasih ya!" Seru David.


"Buat apa?" Tanyaku.


"Buat semuanya, makasih!" Ujar David.


"Iya, sama-sama... cuma makasih doang enggak ada imbalannya ni...hhh!!" Seruku.


"Ooo jadi nolongnya pake pammrih ya..hh!" Ujar David.


"Hhh... makasihnya jangan sama aku tapi sama Allah, karena Dia yang selalu nolong kamu!" Seruku.

__ADS_1


"Aku slalu bersyukur, makasih buat Allah udah ngirim malaikat buat aku, malaikat yang selalu membuatku nyaman!" Ujarnya.


"Siapa?" Tanyaku.


"Anak kecil mau tau aja" jawab David.


"Hem... enak aja!" Seruku.


"Suatu saat kamu pasti tau" mendengar itu aku hanya tersenyum paham.


"Eh, aku besok udah berangkat kerumah nenek" ujar David.


"Ya udah tidur gih, udah malem ngantuk juga aku" jawabku.


"Nanti liburan nyusul ya sama anak-anak (Deva Devi)" ujar David.


"Hem" jawabku singkat.


"Ok, bayyy malem!" Ujar David.


"Ya malem" jawabku.


Kemudian ku tutup telfon dan dia melambaikan tangan kearah ku dan masuk ke kamarnya. Aku masuk dengan senyum-senyum bahagia, baru kali ini aku sebahagia ini berbicara dengan seorang lelaki.


Kemudian aku terbangun mendengar dering HP ku, aku angkat dengan suara sayup karena masih ngantuk ku dengar juga sayup-sayup komat azan subuh.


"Hallo!" Seruku sembari mengangkat telepon


"Bangun, cepet keluar teras!" Ujar David.


"Kenapa si?" Tanyaku.


"Udah cepet, keburu berangkat ni!" Jawab David.


"Ok ok" ujarku.


Kemudian aku berjalan keluar teras kamar, lalu aku lihat kearah jalan ada David yang berdiri di belakang mobilnya melambai kearah ku.


"Udah mau berangkat, ati-ati ya!" ujarku.


Kau pancarkan kebahagiaanmu dari mata air yang tersembunyi. Seperti ketika laut pasang di bawah tatapan lembut sang matahari mendatangkan kegembiraan yang tak terlukiskan. Sepasang lima jari yang terkembang ke empat penjuru samudra saat menghantarkan puja kepada yang maha kuasa. Ia yang memberi kita segala kenikmatan. Ia yang kepadanya kita berpulang dan kembali.


ooOoo

__ADS_1


__ADS_2