
...Aku...
Bagaimanpun juga semua akan terjadi dan setiap hal akan menjadi kisah perjalanan hidup yang penuh dengan fantasi, bersama dengan sosok sahabat yang selalu menemanimu di kala kamu suka maupun duka kita takkan pernah berjalan sendirian selalu ada seseorang di belakang kita entah mereka sebagai sosok penyelamat maupun sosok antagonis.
Ada kebahagiaan yang aku rasa bersama dengan cinta dan juga setiap hal yang aku hayalkan dengan itu aku merasa bahwa Tuhan selalu bersamaku menjaga ku dan juga melindungi ku. Karenanya aku kuat karenanya aku merasa bangga menjadi diriku sendiri, meski aku sadar bahwa setiap manusia tidak ada yang sempurna semuanya mempunyai kelebihan dan juga kelebihannya masing-masing. Aku sadar setiap asa yang aku punya terkadang menjatuhkan diriku sendiri dan juga terkadang semua lelah yang ku perbuat bukan hanya memberi ku bahagia tapi juga memberikan peluang untuk tetap maju dan sukses berkat do'a.
ooOoo
Bukan kisah Romeo dan Juliet yang kisahnya apik tertulis dan juga di filmkan, bukan pula tentang Rama dan Shinta yang termasyhur. Bukan orang kaya, cuma orang biasa, bukan penulis tapi hanya seseorang yang ingin meluapkan setiap perasaan lewat bait kata-kata dan juga goresan tinta yang ku tuangkan bersama hati dan juga perasaan.
"Aku ikut!" Jawab Deva.
"Ya udah, aku nggak ikut ya, ngantuk" ujarku.
"Dasar ***** hhh..ya udah kita keluar dulu" ujarnya.
Sebutan khas ku dari Deva dan Devi, meraka beranjak keluar. Memang pantes si aku disebut ***** (nempel langsung molor), aku paling nggak bisa kalo harus nahan ngantuk, lagian kegiatan hari ini cukup melelahkan.
Enggak perlu nunggu waktu lama langsung pules dech tidurku sampe nggak denger Deva Devi masuk kamar lagi tau-tau udah adzan subuh aja. Sebelum solat berjamaah, aku mandi dulu biar nanti nggak ngantri, jadi tinggal santai-santai.
Para peserta bergegas ke masjid ya walupun nggak semua, masih ada beberapa yang masih tidur pulas dikamar masing-masing dan mengunci diri takut ketahuan panitia, ya itulah manusia.
Kami solat di masjid pemukiman warga, masjid yang tadinya nggak seberapa orang yang menyabanginya, karena adanya kami jadi bisa terisi full sampe ada yang diteras masjid. Kasian, untungnya aku, Deva Devi cepet jadi kebagian didalem.
__ADS_1
Sepulang dari masjid, kami berjalan menuju wisma, berjalan perlahan-lahan menikmati udara desa yang sejuk dan melihat sang surya yang mulai bangun dari tidurnya, karena waktu istirahat masih lama aku, Deva dan Devi pergi ke kebun teh yang ada di samping penginapan kami.
"Wah, enak banget udaranya, sejuk, liat dech pemandangannya bukit-bukit tanaman teh semua, foto-foto yok!" kata Devi, sembari menarik tanganku dan Deva dan kami puasa berpose, di ladang teh.
Mereka asik berfoto, aku berjalan menjauhi mereka melihat-lihat indahnya pemandangan dan udara sejuk banget.
Terlintas bayang David dalam benakku, ingat saat kami berdua berjalan mendaki bukit dan melihat pemandangan yang sangat indah di tempat favoritnya.
Akhir-akhir ini aku sering kepikiran dia, padahal belum tentu dia mikirin aku.
Aku kembali menoleh kearah Deva Devi yang masih asik foto-foto, aku berjalan kearah mereka dan aku mengajak mereka kembali ke wisma. Sampai di seperempat jalan kami kaget karena ada kak Fikri yang berjalan kearah kami. Dengan ekspresi takut kami, takut dia marah karena kami pergi tanpa seizin panitia.
"Kenapa ekspresi kalian tegang?" Tanyanya.
"Kakak kesini, buat marahin kita karena enggak izin dulukan?" jawab Deva.
Kami saling pandang dan mengambil nafas lega.
"Kalo gitu kita jalan bareng aja kak, dari pada kakak sendirian!" pinta Devi.
"Boleh, ayo tapi nanti aja, ini udah hampir jam setengah tujuh waktunya kita pulang!" Seru kak Fikri.
Kami menuruti permintaan kak Fikri, kami berjalan beriringan Deva Devi berjejer dan aku berjejer dengan kak Fikri.
__ADS_1
Sembari berjalan kami mengobrol kesana-kemari, karena mungkin jalan yang agak licin kak fikri terpleset, dan dengan reflek aku memegang bahunya, mungkin kaget dengan sentuhanku kak Fikri memandangiku dengan tatapan yang tajam sembari tersenyum.
Aku melihat sesuatu yang aneh saat dia mandang aku, tapi apa itu aku belum paham, aku membantunya berdiri dan kami melanjutkan perjalanan kami.
Sampai di wisma kami bersiap dengan menggunakan pakaian trening (baju olahraga) untuk memudahkan kami leluasa bergerak.
Kami berjalan ketempat air tejun yang merupakan tempat wisata daerah itu yang tak berada jauh dari wisma kami cuma berjarak 3km.
Di sana kami di bagi kelompok satu kelompoknya berisi 6 orang dan kali ini aku tetep masih kebagian satu kelompok sama Deva Devi dan tambahan dari anak-anak satu jurusan kami. Baguslah jadi bisa lebih kerjasamanya, soalnya udah saling kenal semua.
Kami mulai permainan-permainan yang dijadwalkan panitia. Kami diminta mengumpulkan bendera warna, yang melambangkan kelompok masing-masing dan aku kebagian bendera warna biru ya warna kesukaanku. Tapi cara mengambilnya kami harus melewati jembatan tali yang dibawahnya kolam air, terus terjun flaying fogs, terus panjat tebing dengan ketinggian 10M.
Untung ajah aku suka permainan-permainan yang menantang dan yang pasti nggak takut ketinggian. Kami membagi tugas untuk yang bagian jembatan, flaying fogs dan panjat teping.
Aku dan Devi kebagian panjat tebing karena diantara kelompok kami cuma aku dan Devi yang enggak takut ketinggian, melewati jembatan bagian Citra dan Ganis teman satu jurusan ku dan satu kelompok ku juga dan ini ni yang buat kami ketawa sampai perut kami sakit, Deva nggak bisa buat flaying fogs soalnya berat badannya melebihi batas maksimal jadinya cuma Cika yang bisa main.
"Udah nggak pa-pa, kamu bagian support kami ya,...udah dong nggak usah cemberut gitu" ujarku.
Aku mencoba menghibur Deva karena dia terlihat kecewa nggak bisa ikut andil dalam kegiatan kami, dia pun kembali tertawa menanggapi hiburku.
Dan pertandingan kami dimulai pertama bagian Citra dan Ganis, mereka seperti sudah mahir berjalan di seutas tali dibawah untuk langkah mereka dan seutas lagi untuk berpegangan, cuma butuh waktu 10 menit mereka bisa ngambil 1 bendera biru kami.
Aku dan Devi nggak sabar liatin mereka pengen buru-buru manjat, ya kami berada di stand masing-masing dan Citra berlari dengan kecepatan maksimalnya menyerahkan bendera kami ketangan ku.
__ADS_1
Bukan seseorang yang pandai merangkai kata, hanya saja aku memang seperti itu.
ooOoo