
...Senja & Matahari...
"Ini, pacar kakak ya?!, Cantik sekali kalo udah gede nanti aku juga mau cari pacar kayak pacar kakak" ucap anak laki-laki yang bertubuh gendut dengan pipinya yang kayak bakpao, yang disambut dengan sorakan dari teman-temannya.
"Huuuu!!"
"Bisa aja si gembul" jawab David sembari mencubit pipi anak itu.
"Kita ke taman yok, camping!" ajaknya.
"Ayoook!, Bunda (orang tua panti) juga udah nunggu di taman" jawabnya.
"Ok, lest go!" Anak-anak buru-buru mendahului kami dan membawakan barang yang kami bawa.
Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik. Bukan, bukan karena kata sementara itu menyenangkan, hakikatnya, yang singkat tak akan pernah sepadan.
ooOoo
Kesedihan seperti telaga yang hening di dinding ibu, dinding yang terisak dan mengukir lagi masa kecilku. Seberapa sepinya aku saat itu? Sungguh aku tak mengerti, mengapa ku buat dinding itu menangis? Ia sudah seperti rumah bagiku.
Sampai di taman panti, aku terkagum melihat suasana yang asri dengan banyak pepohonan dan sepertinya sudah merencanakannya.
Kemping bersama mereka dengan beralaskan tikar di atas dengan berbagai macam makanan dan rerumputan di tengahnya dan ada panggangan yang sedang di siapkan untuk membakar jagung dan makanan lain.
Aku memandangi seorang ibu tua mungkin sudah berumur 50an sedang sibuk membakar jagung bersama seorang laki-laki yang seumuran dengan David mungkin itu anaknya.
"Eeee!!! nak David sudah datang!" Serunya.
Dan dia menghampiri kami, dan David mencium tangannya aku pun mengikutinya.
"Wah sama siapa tu?" Tanyanya.
"Menurut ibu (sambil tersenyum)" ujar David.
"Hhh... ya ibu paham, ya sudah ayo duduk ibu lanjutkan membakar jagungnya" ujarnya.
Kami duduk bersama anak-anak panti yang sedang asyik bermain dengan mainan yang di bawakan David tadi.
__ADS_1
"Gimana Ca?" Tanya David.
"Hem, asyik juga soalnya baru pertama kali aku ke panti" jawabku.
"Nanti kamu harus sering kesini" dengan nada melemah.
Aku melihat kearahnya, dengan pandangan melemah apakah ini pesannya untukku sebelum dia pergi, Tuhan tolong jangan.
"Iya pasti" jawabku.
Kemudian dia menoleh kearah ku dan tersenyum, tiba-tiba dia memegangi dadanya. Aku langsung mengambil obat di tasnya dan aku buru-buru membantunya untuk meminum obat.
"Udah lega (tanyaku dengan nada bergetar menahan tangis)"
Kemudian dia mengangguk tersenyum dan memegang tangannya. Aku duduk dengan memegang erat tangannya disampingnya sembari memandangi anak-anak panti yang asik bermain.
Diam-diam aku selalu meliriknya, aku enggak bisa selalu melihat dia menahan sakitnya. Tuhan jika kau ijinkan bisakah kau bagi rasa sakit yang dia rasakan kepada ku agar bisa meringankan rasa sakit yang dia rasakan tiap kali sakit itu datang.
"Kak, mainin gitar buat kita dong!" pinta anak perempuan dan disambut setuju oleh anak-anak lain.
"Ok, duduk yang rapi, dan dengarkan baik-baik lagunya jangan pada tidur ya" melirikku seakan menyindirku, karena aku sering tidur kalo denger akustik David.
Aku duduk bersama anak-anak panti memandangi David yang begitu lincah memetikkan jemarinya di senar-senar gitar, sesekali ia melihat kearah ku, lalu aku hanya tersenyum.
Tuhan tolong sembuhkan dia begitu tegakah engkau harus membuatnya pergi dari kami. Melihat anak-anak panti yang begitu nyaman melihat David dan begitu gembira ia datang kesini, haruskah tawa mereka pudar karena tak bisa melihat sosok yang selalu menghibur dan berbagi pada mereka.
Tak kuasa aku menahan sesak dada ini menahan tangis, aku berdiri dan berlari sejauh mungkin dari pandangan mereka, lalu aku masuk ke dalam kamar mandi dan di sana aku luapkan semua sesak hatiku, aku keluarkan semua air mataku.
Ya Tuhan kuatkan aku, aku tak tahu harus seperti ini, kuatkan aku Tuhan kuatkan aku untuk tersenyum di depan dia (David).
"Ca! Kamu enggak apa-apa kan?" suara David diluar.
"Enggak aku cuma kebelet aja, kamu jangan disitu dong malu tauk!" Seruku.
"Oh ok ok... kirain kenapa, jangan lama-lama ya" ujar David.
"ok!" Jawabku.
__ADS_1
Aku mencoba menutupi suara getarku, buru-buru ku basuh muka ku untuk menghilangkan jejak tangisku. Aku menghela nafas dan keluar kembali bergabung dengan mereka, anak-anak menyambut ku dan menarik ku mengajak ku bermain dengan mereka.
Aku mengikuti permintaan mereka, kami tertawa riang bermain sana sini senang rasanya melihat tawa lepas mereka. David yang asik mengambil gambar kami yang asik bermain.
Enggak terasa udah hampir magrib, lalu kami berpamitan untuk pulang dan anak-anak mengantar kami sampai depan panti, lalu ada seorang anak berjalan menghampiri kami.
"Besok kesini lagi ya kak!" Ujarnya
"Ya pasti dong!. Tos dulu dong!, yeah pinter... ok daa semuanya kakak pulang dulu ya" ujarku dan juga David kepada anak-anak panti.
Lalu mereka melambaikan tangan menunggu kami berjalan menjauhi mereka.
"Hem seneng ya, ngeliat mereka ketawa tanpa beban" kataku.
"Iya, aku liat kamu nyaman banget sama mereka" ujar David.
"Hhh... kebetulan aku suka sama anak-anak abis mereka lucu si" jawabku.
"Syukur deh, seminggu sekali aku sempetin dateng kesana, menghibur mereka ya sekedar berbagi kebahagiaan" ujar David.
"Baik juga tetanggaku ini... hhh" kataku yang membuat kami tertawa.
"Ca...Ca bangun ayo kita subuhan!"
Mendengar ucapan itu aku langsung terbangun, ternyata aku udah ada di dalam kamar dan ibu duduk di samping ku.
"Kok, aku ada disini, bukanya tadi malem?" Kataku kebingungan.
"Makanya kalo tidur tu jangan pules-pules, kamu ketiduran di mobil David, dia juga yang gendong kamu ke kamar!" Ujar ibuku.
"Ibu yang bener, haduh mau di kemanain ni muka malu ibu" jawab ibuku.
"Hhh... kamu ada-ada aja, udah ayo bangun kita sholat ayah udah nunggu tu!" Seru ibuku.
Ibu pergi keluar, aku berlari keteras kamar dan melihat kearah kamar David. Dia ada di luar juga melambaikan tangan kearah ku, lalu aku membalasnya dan langsung masuk dengan ekspresi malu, bisa-bisanya aku tidur sepulas itu sampai di gendong orang enggak tau, Ya Allah aku malu banget jangan lagi-lagi dech.
Di meja makan aku habis-habisan di bully sama ayah dan ibu dengan masalah tadi malem, hem kejadian yang sulit di lupakan dibahas terus lagi sama ibu, hem... mana hari ini libur jadi enggak bisa menyibukkan diri. Tapi udahlah anggap aja semua itu cuma mimpi, tapi gimana kalo ketemu David haduh Tuhan.
__ADS_1
ooOoo