
...Senyuman Manis...
Kepala Sekolah membawa risoles dari kantin? Menteri Pendidikan membawa kunci jawaban? Malaikat membawa buah-buahan dari sorga? Pengusaha muda membawa yang harum pewangi? Ahli nujum? Tukang pijit? Tentara? Penari? Atau saya saja yang membawa kata-kata pilihan, saya akan senang mengatakannya dan kamu senang. Jangan nangis, nanti kamu sakit kepala, ada yang perlu saya bantu?.
Albert Einstein melakukan kesalahan kalau ingin benar-benar sama dengan diriku, dia tidak memilihmu menjadi kekasihnya sehingga dia tidak bisa sendirian di kamar dan ingin bertemu denganmu!.
Setiap hal ketika aku menunggumu, waktu berjalan menjadi lebih lambat untukku, malam berjalan lebih lambat, siang berjalan lebih melambat, jam dinding bergerak lebih lambat, usia bertambah lebih lambat, dan saat mana jantung ku berdetak lebih cepat melebihi kecepatan cahaya oleh keinginan bertemu denganmu.
Bait semusim yang tertulis manis tentang kisah kasih aku bersamanya yang duduk di pelataran cinta bersama dengan hati ku yang selalu terngiang-ngiang akan bisikan cintanya yang begitu merdu, tanpa batas waktu yang terungkap tapi tak mampu ku ucapkan dengan kata-kata.
ooOoo
"Nek" ungkapku lirih
"Ecca!.. David nduk" nenek memelukku dengan berlinang air mata aku melihat David dari jendela kaca rumah sakit tempat ia di rawat, sakit sekali rasanya melihat dia terbaring lemah, dengan banyak kabel-kabel yang menempel di tubuhnya dan oksigen untuk membantu pernafasannya.
Aku hanya bisa melihatnya dari kaca, karena belum di perbolehkan mendekatinya selain tim medis.
Aku lihat David mulai sadar dan terbangun kemudian dia melihat kearah ku, sambil berusaha sedikit menebarkan senyumannya dan menggerakkan tangannya sedikit demi sedikit, lalu menyapaku.
Aku pun tersenyum dan menulis di kaca "aku kangen kamu" dia mengangguk dan tersenyum. Ku tulis lagi. "jangan tinggalin aku, kamu harus sehat" dia menganggukan kepalanya lagi perlahan dan kembali menutup matanya mungkin dia masih lemah.
Tak tahan aku melihatnya seperti itu, air mataku terus mengalir.
"David, terkena tumor hati sejak dia SMP" ujar ayahnya David.
Kemudian aku memandang kearah ayahnya David.
David yang menghampiriku....
"Tadinya kondisinya sudah membaik, semenjak dia ketemu kamu dia tambah ceria dan tidak murung lagi, dia jatuh lagi saat mendengar kabar ibunya meninggal dua minggu yang lalu" ujar ayahnya David, lalu aku tersentak kaget.
"Tapi dua minggu yang lalu saya masih sempat pergi bareng David om!" Seruku.
"Ya memang, setelah pergi dengan mu dia mendengar kabar ibunya tiada, dia langsung ke rumah ibunya, setelah usai pemakaman David dilarikan ke rumah sakit dan kondisinya kritis" ujar ayahnya David.
"Dia sempat koma seminggu yang lalu" tambahnya.
__ADS_1
Aku tercengang kaget dan kebingungan...
"Seminggu yang lalu? Sebelum aku berangkat kemping kami masih mengobrol di Danau, dan kami masih sempat bertemu tiba-tiba di kampus ku, dan SMS itu siapa yang menulisnya?" Ujarku.
Aku terdiam karena kebingungan...
"Dan hari sabtu kemarin om yang mengirimkan SMS ke kamu, karena David membuat jam alarm di hpnya yang bertuliskan hal itu dan ada namamu disana, jadi om mengirimkannya padamu.
"Maaf, kami baru memberitahumu sekarang, David melarang kami memberi tau siapapun tentang penyakitnya, tapi melihatnya seperti ini hanya kamu yang dia butuhkan, tolong dia nak!" Seru ayahnya David.
Ayah David menepuk punggungku sembari melihat kearah David, dan pergi menjauhiku. Aku yang masih terbingung, tak percaya dengan kejadian ini jika David sudah masuk rumah sakit sejak 2 minggu yang lalu, lalu siapa yang selalu hadir saat aku butuh dan kenapa dia ada di danau malam itu memainkan akustik favoritnya di ruang musik kampus.
"Ya Allah apa arti semua ini?" Tanyaku dalam benakku.
Aku terus menatap tubuh David yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Nak ayo kita pulang, hari sudah malam, besok kita kesini lagi!" Pinta ayahku.
Kemudian aku memalingkan pandanganku untuk menuruti permintaan ayah, tapi aku kembali memalingkan badanku melihat kearah David, ternyata David terbangun dan melihat kearah ku seakan berkata "jangan pergi" aku tersenyum dan berkata pada ayah.
"Ayah boleh aku disini, ayah dan ibu pulang saja" ayah tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Iya, kamu juga jangan kecapean, ayah bangga sama kamu" ujar ayahku.
Lantas kami berpelukan, dan ayah pergi pulang dengan ibu. Tak lama setelah ayah pulang tim medis memeriksa kondisi David, aku melihatnya dari jendela berharap tak terjadi apa-apa dengan David.
Dokter keluar dan disambut oleh pertanyaan ayahnya David.
"Gimana anak saya dok?" Ujarnya.
"Luar biasa sebuah keajaiban, kondisinya cukup stabil dan bisa dipindah di ruang biasa, kami akan segera mempersiapkannya" kata dokter yang membuat kami bernafas lega.
Kemudian aku melihat kearah David yang ternyata dia melihat kearah ku, aku tulis di kaca "kamu hebat!"
Kemudian dia tersenyum dan aku membalas dengan senyumku.
David dipindahkan diruang biasa ya walaupun masih butuh oksigen untuk membantu pernafasannya, setidaknya kami bisa menemaninya di dalam ruangan tidak di luar ruangan.
__ADS_1
Aku berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya, aku pegang tangannya yang dingin dan dia terbangun tersenyum kearah ku.
"Ca, om dan nenek keluar dulu ya cari makanan, titip David sebentar ya!" Seru ayahnya David.
"Iya om" jawabku.
Aku kembali melihat kearah David...
"Apa sakit?" Tanyaku, ia hanya menggeleng lemah.
"Aku tau kamu pasti akan sembuh, kamu harus kuat!" kataku sembari ku teteskan air mata yang tak bisa ku bendung.
David menatapku dan mencoba menghapus air mataku, seperti ingin mengucap sesuatu.
Aku berinisiatif mengambilkannya kertas dan spidol agar dia bisa menulisnya disana karna aku yakin pasti masih sulit untuknya berbicara.
Kemudian dia mulai menulis dan di perlihatkan kepada ku.
"Cengeng" aku tersenyum ke arahnya, dengan keadaanya seperti ini dia masih sempat becanda.
"Enggak bosen di sini terus?" canda ku.
"Enggak kalo ada kamu" tulisannya yang membuatku kembali tersenyum.
"Aku bosen disini, kita kabur gimana?" Ujarku
"Boleh, tapi kamu harus gendong aku!" Jawabnya.
"Mana kuat aku gendong kamu. Vid cepet sembuh ya, kita ke tempat nenek kamu lagi, kamukan janji mau ngajak aku keliling kampung" ujarku.
"Siap tetangga ku yang baik" tulisnya.
Selama tiga hari berturut-turut aku menemani David yang sedang sakit, aku menyuapinya makan, lalu membacakannya novel kesukaanku dan kami mendengarkan musik akustik yang sering ia mainkan.
"Kemarin aku nyalain mp3, tiba-tiba ada lagu ini kira-kira siapa ya yang ngasih?" ledekku menyindir.
Beberapa perasaan tak ingin diabadikan, mereka hanya ingin dititipkan sementara.
__ADS_1
ooOoo