Diary Ecca

Diary Ecca
Part 26


__ADS_3

...Di Antara Cinta...


"Kok nggak pernah bilang si kan lumayan buat aku ngantuk kalo lagi nggak bisa tidur...hhh..udah setengah jam yang lalu!" Seruku.


"Hhh.. ada-ada aja, ya kamu nggak nanya hhh..setengah jam yang lalu lama juga, kapan masuknya aku kok nggak liat?" Tanya David.


"Jelas nggak liat kamu fokus mainnya" dia hanya tersenyum malu.


"Nggak bilang juga lagi kalo mau kekampusku, tau gitu tadi aku bareng kamu berangkatnya...hhh" ledekku disambut tawa David.


ooOoo


Jarak terkadang membuatnya menjadi asing, membuat seseorang tak percaya akan kekuatan cinta. Silangit yang sama kamu berada, namun belum kamu temukan satu sosok pilihan-Nya.


Bagiku hidup hanya selalu hitam dan putih, kebahagiaan akan selalu berbanding lurus dengan kesedihan. Kita hanya menunggu waktunya bergiliran bukan?. Begitupun dengan kesunyian. Hari ini terasa ramai, mungkin esok kita akan berdialog lagi dengan kesendirian.


Meski dalam keramaian aku masih merasa kesepian, entah kenapa sunyi sepi ku rasa tanpa seseorang yang bisa menemani ku di kesendirian ini, tak terasa sudah semakin jauh aku berjalan sendiri.


Egois ku rasa bila aku mengeluh saja tanpa mau berusaha, entah kenapa goresan pena ku sampai pada titik kosong dimana tinta hitam yang ku tulis diatas kertas putih ternyata telah habis, setiap yang ku tulis sesuai dengan perjalanan hidup dimana hati menangis menjerit menceritakan setiap perjalanan hati yang lirih, meski sang waktu berbicara dengan nada yang lirih sambil di temani sang piano yang terus berbunyi dengan merdunya seperti melodi sendu yang menohok hati.


Jarum jam terus berdetak kencang ke arah sumbu yang tak terbatas dengan penuh ke haluan aku terus bertanya kepada diriku sendiri, hari ini apakah akan lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya atau malah akan memberikan aku kesibukan uang sebenarnya membawaku pada rasa takut untuk memulai perubahan.


"Kan kejutan...hhh" Jawab David.


"Jam berapa mulai acaranya?" Tanyaku.

__ADS_1


"Nanti abis Dzuhur, nggak usah nonton ya nanti aku gerogi lagi...hhh" ujar David.


"Hem dasar, pas banget jam kuliahku cuma sampe jam 1, jadi ada waktu nonton tetanggaku show" ucapku yang membuat kami tertawa, tiba-tiba hpku berdering Deva telfon.


"Ya, kenapa Va?" Tanyaku saat mengangkat telfon dari Deva.


"Kenapa-kenapa, jam berapa ni belum masuk kelas, telat tauk" hal yang menyadarkanku aku ada kelas pagi buru-buru ku tutup telfonnya.


"Ya Allah, aku lupa ada kelas pagi, ok Vid aku ke kelas dulu ya, semangat ya sukses buat show nya daaa.. tenang aja nanti aku kesini lagi bayy" bicaraku sembari berlari buru-buru meninggalkan David, David yang nggak memberi jawaban apa-apa hanya tersenyum heran melihat tingkahku.


Usai jam pertama, aku liat ada SMS masuk dari kak Fikri...


"Dimana ca?" Tanyanya di pesan SMS.


"Aku mau ngasi form buat kemping!" Ujarnya.


"Ok" balas kak Fikri lagi. Nggak lama kemudian kak Fikri dateng, aku nggak sadar kalo dia udah dateng Deva Devi yang heboh sendiri.


"Eh kak Fikri... kak Fikri, udah dulu makannya" ucap Devi berbisik, aku liat kearah kak Fikri dia tersenyum kearah kami.


"Kok berhenti makannya, makan aja dulu nggak baik nunda-nunda makan" sarannya ke Deva ya karna cuma dia yang lagi asik makan, kak Fikri duduk di sebelahku sembari menyodorkan formulir kepada kami.


"Ni formnya... diisi yang lengkap, pengumpulannya nanti pas kita mau berangkat" kami jawab dengan anggukan.


"Oh... iya besok jangan lupa bawa jaket yang tebel, soalnya kita kemping ke puncak"

__ADS_1


"Wah puncak, enak dong, deket kebun teh kan" ceplos Devi.


Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik. Bukan, bukan karena kata sementara itu menyenangkan, hakikatnya, yang singkat tak akan pernah sepadan.


Bukan juga karena kata selamanya terdengar mustahil, sejatinya taka ada yang bisa terjadi di bumi, kalau kau bertanya kenapa, sebenarnya aku juga tidak tahu.


Aku bukan perasaan. Aku hanya berada di tubuh seorang perempuan yang tiap langkahnya berhadapan dengan perasaan. Dan sejujurnya tak enak, membosankan, mudah senang, mudah kecewa, mudah sedih, tapi juga mudah memaafkan.


Kadang ingin sekali aku hidup di dalam pikirannya, iya dia seorang laki-laki yang dari tadi cuma mendengar, cuma membaca, tapi tak pernah merasa.


Gemericik suara hujan menggertap di dedaunan. Suara runcing berdenting di kalbu, serasa menyebut namaku. Suara mu kah itu, kekasih?


Bagaimana mesti menerjemahkan perasaan rindu seperti ini? Jarak, seperti hamparan kuburan tua yang angker dan menakutkan. Menoreh luka yang dalam bagai getar yang datang dan pergi. Kilat dan guruh tak letih sabung menyabung di langit.


Gelap bayangan hutan merasuk mataku seperti hantu. Dan siut angin merintih seperti mendesakkan sejuta tanya yang tak kutahu apa jawabnya, "Apakah kau juga tengah memikirkan diriku saat ini?"


Makin larut aku dalam perjalanan sendiri. Menghitung langkah, di tengah malam berkabut dan jalan lengang sunyi. Mengejar muram sosok rembulan yang larut dalam tarian hujan. Samar pucat parasnya menggigil sendirian.


Dan suara itu masih terdengar, menyeru dari kejauhan. Tak henti henti, memangil namaku. 


Kau pancarkan kebahagiaanmu dari mata air yang tersembunyi. Seperti ketika laut pasang di bawah tatapan lembut sang matahari mendatangkan kegembiraan yang tak terlukiskan. Sepasang lima jari yang terkembang ke empat penjuru samudra saat menghantarkan puja kepada yang maha kuasa. Ia yang memberi kita segala kenikmatan. Ia yang kepadanya kita berpulang.


Menjamah pusat rindu yang gaib, mencumbui perasaan  garib yang sebelumnya tiada dikenal. Waktu yang memetakan segala ingatan purba atas raga kita yang fana, telah tumbuh menjadi kenangan baka atas lebatnya hutan rimba belantara dan sebuah sendang kecil di tengah tengah pulau terpencil yang dikelilingi oleh lembah yang permai dan perbukitan perak yang dulu sekali sering engkau jelajahi.


Gunung gunung yang menjulang tinggi di kejauhan seakan menantang untuk ditaklukkan. Langit biru terhampar di atas padang gundul terbentang jauh hingga ke semenanjung yang sebelumnya tak pernah dijamah. Semua yang dulu cuma bagian dari lintasan sejarah, namun kini selamanya telah jadi pengingat akan dirimu. Semua yang dulu pernah mengungkapkan seluruh jejak petilasan dan penaklukanmu. Bentang alam dari seluruh kekayaan yang kini engkau simpan dalam perbendaharaanmu pribadi. Alam liar dari horizon pikiran dan khazanah perasaan yang nyaris tak terselami. Tidak ada lagi rahasia yang engkau tutupi dari mata kami, selain daripada ceruk ceruk terdalam dari palung palung yang tersembunyi di balik mimpi-mimpimu.

__ADS_1


ooOoo


__ADS_2