Diary Ecca

Diary Ecca
Part 50


__ADS_3

...Aku & Kamu...


Kemudian aku bangkit dan berjalan pulang...


Aku keluar keteras kamar melihat kearah kamar David, aku dapati jendelanya terbuka dan aku lihat David sedang berbaring tidur.


Lalu aku hanya tersenyum memandanginya aku berkata dalam hati "kamu sehat Vid" air mataku mengalir mengingat masa-masa saat kami bersama dan tak ku lihat David yang kuat dan David yang sehat.


Aku hela nafas dan tersenyum melihat ke arah David lagi kemudian aku masuk dan membaringkan tubuh ku, tengah malam aku bangun untuk sholat malam.


"Ya Allah, walaupun hamba tau engkau akan mengambil dia dari hamba, tapi hamba mohon ya Allah ijinkan hamba memberikan kebahagiaan untuknya, ijinkan hamba merasakan kebahagiaan dengannya ya Allah, ya Allah hamba ikhlaskan apapun yang ingin engkau kehendaki" ujarku sembari berdo'a.


ooOoo


Cinta adalah candu jangan menggebu nanti jadi babu kekal di dalam semu, cinta itu anugrah jangan terlalu marah nanti luka parah nikmati dengan pasrah, cinta juga bisa mendewasakan pergi untuk menyabarkan menjatuhkan untuk menguatkan pelangi setelah hujan. Hujan air mata, ada yang dihempaskan awan sebelum cerah menggeser hitam merata di langit, ada yang harus kau buang sebelum senyum mengasingkan duka yang sakit.


Matahari bersinar di ufuk timur berikan sinarnya yang terang sembari menunggu datangnya sang fajar menyingsing, aku tak tahan melihat cahaya terang yang begitu besar nan indah namun tak pelak cahyanya memberikan tanda tanya terhadap perasaan ku yang berkecamuk antara kebimbangan dan juga ketidak pastian yang membuat aku tak percaya akan indahnya cinta, naluri ku bertanya ada apakah gerangan dengan misteri yang selalu saja timbul dalam kehidupanku yang membuat aku tak mampu melalui setiap proses dalam kehidupanku.


Ada kalanya kamu tersenyum, dan ada kalanya pula kamu bersedih setiap jalan panjang yang kamu lalui itu gak mudah tiap jalan penuh halangan dan juga rintangan, kamu ingin bahagia tapi semua butuh proses panjang gak instan kayak Indomie, bahkan kamu akan merasa semakin kamu diatas maka akan banyak orang yang akan menjatuhkan kamu.


Bagaimanpun juga semua akan terjadi dan setiap hal akan menjadi kisah perjalanan hidup yang penuh dengan fantasi, bersama dengan sosok sahabat yang selalu menemanimu di kala kamu suka maupun duka kita takkan pernah berjalan sendirian selalu ada seseorang di belakang kita entah mereka sebagai sosok penyelamat maupun sosok antagonis.


Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik. Bukan, bukan karena kata sementara itu menyenangkan, hakikatnya, yang singkat tak akan pernah sepadan. Bukan juga karena kata selamanya terdengar.


Aku bukan perasaan. Aku hanya berada di tubuh seorang perempuan yang tiap langkahnya berhadapan dengan perasaan. Dan sejujurnya tak enak, membosankan, mudah senang, mudah kecewa, mudah sedih, tapi juga mudah memaafkan.


Kemudian aku membaca ayat-ayat Quran, hanya itu yang bisa aku lakukan karena yang aku tau hanya mukjizat Allah yang bisa mengembalikan kesehatan David ku.


Aku pasrahkan semua pada-Nya dan aku akan terus berusaha semampu ku memberi kebahagiaan untuk David.


Hanya itu yang bisa membantunya semangat, aku yakinkan semua pada takdir dan kuasa Allah.


Hari ini aku harus ke kampus pagi-pagi walaupun masuk ke kelasku siang, aku harus ke perpustakaan ada buku yang harus ku cari untuk materi hari ini yang lupa ku cari kemarin, karena terburu-buru ke rumah sakit.


Walupun enggak mungkin perpus jam 7 pagi udah buka, tapi untungnya petugas perpus sudah begitu mengenalku jadi dia bersedia membukakan perpus untukku.

__ADS_1


"Bu, yah, aku berangkat ya ada urusan!" Ujarku.


"Ya hati-hati" jawabnya.


"Assalamualaikum!" Seruku.


"Waalaikumsalam!" Jawabnya.


Aku buru-buru membuka pintu, dan terkejut saat melihat seseorang yang berdiri diteras rumah membelakangi ku, saat ia membalik badan aku tersenyum dan ternyata itu David.


"Pagi banget, mau ketemu ayah masuk aja!" Ujarku.


"Udah ketemu tadi...mau ke kampus ya aku anter ya!" Jawabnya.


"Emang udah bisa nyetir?" Tanyaku.


"Kamu ngeremehin aku, cuma sakit gituan aja enggak akan buat aku gak bisa nyetir" jawabnya dengan gayanya menyilangkan tangan ke depan.


Kemudian aku tersenyum dan mengangguk, kami masuk ke mobil dan mulai berjalan.


"Ca!" Panggilnya.


"Nanti kamu ada acara enggak?" Tanya David.


"Eemm, enggak si, emang kenapa?" Jawabku.


"Nanti ikut aku ya!" Serunya.


"Kemana?" Tanyaku.


"Ya ada dech, besok pulang jam berapa?" Tanya David.


"Ok deh, jam tiga aku selesai kelas" jawabku.


"Ok, nanti aku jemput sekalian berangkat" ujar David.

__ADS_1


Aku tersenyum dan mengangguk, kami sampai di kampus biasa masih sepi. Serasa mahasiswa paling rajin sepagi ini udah dikampus.


"Ca, masih sepagi ini, sepi pula kamu ngapain?...hhh... Rajin amat!" Ujar David.


"Jelas donk aku kan mahasiswa teladan, hhh, aku mau ke perpus dulu kemarin lupa mau cari buku" jawabku


"Aku ikut ya, nggak pa-pakan?" Tanyanya.


"Ya enggak papa si, tapi kamu enggak langsung pulang aja?" Tanyaku.


"Enggak deh nanti aja, aku mau nemenin kamu dulu bolehkan?" Ujar David.


"Hemm (mengangguk) ya udah ayok" jawabku.


Kami berjalan ke perpus yang letaknya ada di ujung jalan dekat dengan gedung kantor fakultas. Aku seperti pemandu yang menceritakan setiap gedung yang kami temui, dan sampailah di perpus, bapak petugas perpus yang sudah agak tua dengan baju khas dinasnya menyapa kami, ia sudah datang lebih awal karena permintaanku, ya bapak ini memang paling baik dari pada petugas perpus lainnya.


"Pagi pak, maaf ya ngrepotin" ujarku.


"Ya mba Ecca ndak papa, sudah tugas saya kok, loh sepertinya saya baru melihat mas ini, mahasiswa baru atau pacarnya mba Ecca" gurau petugas perpus.


"Ah bapak bisa aja, ini temen saya pak...namanya David" ujarku.


"Oh temen" dia tersenyum meledek.


Kami masuk dan mulai mencari buku, aku melirik kearah David yang sedang memilah-milah rak novel aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku.


Aku menemukan buku yang ku cari aku duduk dan merangkum beberapa coretan yang penting, aku melihat kearah David lagi sembari tersenyum, dia melihatku dan tersenyum kearah ku, aku melanjutkan rangkuman ku.


Aku melihat kearah David yang sudah duduk dihadapan ku, lalu ia melihatku termenung dengan tangannya menahan dagunya.


Aku kemudian mengikutinya dan meletakkan bolpoinku, kemudian dia salting, mungkin dia merasa malu dan merubah sikapnya kemudian kami tertawa.


"Sudah selesai pak, makasih ya pak!" Ujarku.


"Iya mbak sama-sama" jawab pak petugas perpus.

__ADS_1


Kami keluar perpus menuju parkiran, sembari aku mengantar David pulang.


ooOoo


__ADS_2