Diary Ecca

Diary Ecca
Part 56


__ADS_3

...Dia Yang Ku Cinta...


Kemudian aku membenarkan selimutnya, dan dia memejamkan matanya, aku berdiri tapi tangan David masih memegang erat tanganku seakan dia menginginkan ku menemaninya disini.


Aku kembali duduk dan ku tatap wajahnya, tanpa sadar air mataku mulai mengucur setelah sekian lama aku menahannya. Dan aku tutup mulutku agar suara tangis ku tak membangunkan David, tapi tangan David semakin erat menggenggam tanganku, apakah dia tau aku menangis, aku mencoba menyekanya dan berusaha menahan kembali tangisku.


Perlahan tangan David mulai lemah menahan tanganku, mungkin dia sudah tidur. Aku melepaskan tanganku dan keluar, kemudian ayah dan ibu ku berdiri dihadapan ku tersenyum kearah ku, dengan haru mereka memelukku. Air mataku kembali menetes dan ku coba mengusapnya untuk tidak menangis lagi.


ooOoo


"Ayo kita sholat dulu!" Ungkap ayahnya David.


Kami mengangguk dan berjalan menuju mushola RS, nenek David yang menjaga David selagi kami sholat.


Dengan khusuk kami bejamaah, dalam doa aku berharap Allah maha mengetahui apa yang ku rasakan dan David rasakan.


Aku pasrahkan semuanya padaNya yang aku minta dari-Nya jika memang harus aku relakan David pergi, bantu aku untuk ikhlas menerimanya dan jangan hilangkan memory nama David dalam hatiku, karena berkat Dia kirimkan David untukku, aku jadi lebih tau bagaimana cara menghargai waktu, bagaimana berbagi, dan bagaimana mencintai.


Ijinkan aku mengenangnya untuk menjadi motivasiku untuk mewujudkan mimpi-mimpinya yang menjadi mimpiku juga, untuk bisa membuat semua orang disekitar kita tersenyum dan bahagia. Karena senyum mereka akan membawa bahagia dalam hati.


Tiga hari berlalu, kondisi David masih sama. Hari ini ayah David yang yang menemaninya dirumah sakit aku ,ayah, ibu dan nenek David diminta untuk pulang ke rumah nenek David, karena sudah 2 hari aku di rumah sakit.


Aku duduk ditaman depan rumah memandangi sekitar rumah dan menikmati bintang-bintang yang menghiasinya. Aku bentuk sudut-sudut bintang dengan tanganku seakan dapat ku bentuk, aku buat lingkaran ku beri mata dan kacamata dengan senyum bibirnya, aku pun tersenyum membayangkan saat aku dan David duduk bedua disini.


"Ko belum tidur to nduk?" Tanya neneknya David.


"Ehh nenek, belum ngantuk nek, duduk sini nek!" Jawabku.

__ADS_1


"Enakkan suasana disini, enggak ada yang berubah sejak jaman muda nenek dulu, cuma bedanya sekarang ada lampu listrik" ujar neneknya David.


"Memang waktu jaman nenek belum ada?" Tanyaku.


"Ya belum, dulu itu adanya cuma sentir, lambu semacam lilin yang kami buat dari bekas botol terus diisi minyak tanah sama kapas yang panjang buat sumbunya, terus oncor yang dari bambu buat dipasang dijalan-jalan" cerita nenek David.


Aku hanya mengangguk-angguk sembari mendengar ucapan nenek.


"Dan kamu tau, kalo kami belajar sampe muka tu hitam kena uap dari sentir itu" pecahlah tawa kami.


"David dulu waktu mendengar cerita nenek ini, dia langsung mencoba belajar pake sentir itu, karena penasaran katanya enggak hitam-hitam dia sampe deket banget, dan kamu tau apa yang terjadi rambut jambulnya kebakar dan setelah itu dia enggak coba-coba lagi" kami tertawa riang, seakan tak ada beban.


"Tapi sekarang, rasanya akan sepi" kata nenek dan tumpahlah air matanya, aku rangkulkan tanganku ke punggung rentanya, mencoba tegar walaupun sakit juga rasanya.


"Nenek percaya keajaiban?, keajaiban yang manusia buat memang indah tapi keajaiban dari Allah sangat sangat luar biasa, kita yakinkan semua pada-Nya nek, Ecca yakin takdir baik dari Allah akan datang, enggak ada yang mustahil bagi-Nya dan jika jalannya kita harus merelakan David percalah nek walaupun dia pergi ke rumah-Nya yang baru dia akan bahagia dan semakin bahagia kalo melihat kita bisa merelakannya, mungkin raganya enggak bisa kita sentuh lagi, tapi jiwanya masih ada menemani kita" ujarku, aku coba tersenyum dan memeluk nenek.


sekarang ikhlas apapun yang David alami, nenek tidak mau melihatnya menahan rasa sakitnya terus menerus, karena nenek masih punya kamu, ...Ecca maukan jadi cucu nenek?" Tanya nenek David, aku mengangguk dan kembali memeluknya.


Ibu terlihat buru-buru menghampiri kami, serentak kami berdiri menyambutnya.


"Nek!, Ca! ayo cepat kita kerumah sakit, David kritis lagi ayo cepat ayah sudah menunggu didepan!" Seru ibuku.


Lalu kami langsung buru-buru berlari masuk ke mobil, sampai di rumah sakit aku berlari mendahului nenek, ayah dan ibu dengan rasa cemas dan air mata yang terus mengalir, aku tangkap Ayah David yang mondar mandir cemas di depan ruangan David.


"Om, David?" Tanyaku, dia hanya menangis dan memegang ke dua bahu ku dan menundukkan kepalanya mengungkapkan keputus asaannya.


"Om, kita harus kuat apapun yang terjadi, kita harus yakin Allah enggak tidur om!" Seruku.

__ADS_1


Dokter keluar dari kamar David, dengan wajah yang mengekspresikan kepasarah, kemudian kami mendekati dokter itu.


"Hanya keajaiban yang bisa menolongnya, semua sudah kami upayakan tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain!" Ungkap Dokter.


Kemudian dia menepuk punggung ayah David dan berlalu meninggalkan kami.


Aku serasa tak bernyawa tubuhku lemas, lemas sekali lalu aku berjalan perlahan dan duduk dengan pandangan kosong dengan air mata yang mengalir, ibu menghampiriku dan memelukku.


"Kita harus kuat Ca, kita harus beri semangat David, Allah itu enggak tidur!" Seru ibuku.


Aku semakin memeluk erat ibu, setelah Ayah dan nenek David keluar kamar David, aku melihat wajah mereka yang berusaha tegar walaupun aku tau ada banyak air mata yang sudah membludak akan keluar, ayah David menghampiriku.


"Temuilah Dia nak!" Serunya, lalu aku mengangguk dan berjalan masuk ke kamar David.


Aku berhenti sejenak sebelum mendekat, dan aku usap air mataku menghela napas sejenak untuk menenangkan hatiku.


Aku berjalan semakin mendekatinya mencoba menahan air mata ku, aku duduk di sebelahnya ku raih tangannya dan dia mulai membuka matanya.


Aku pun tersenyum kearahnya dia mencoba membalas senyumanku, dia melepaskan selang oksigen yang ia pakai. Aku mencoba menahannya dan memakaikannya lagi, tapi dia menahanku dan tetap melepasnya.


"Aku masih bisa bernafas tanpa alat ini!" ucapnya dengan lirih, aku tersenyum percaya.


Aku melihat kearah kaca luar dan ku lihat ayah dan nenek David melihat kami dan menganggukkan kepalanya, dan aku pun kembali memandangi David.


"Ca, kamu bisa bantu aku!" Pinta David.


Setiap hal ketika aku menunggumu, waktu berjalan menjadi lebih lambat untukku, malam berjalan lebih lambat, siang berjalan lebih melambat, jam dinding bergerak lebih lambat, usia bertambah lebih lambat, dan saat mana jantung ku berdetak.

__ADS_1


ooOoo


__ADS_2