Diary Ecca

Diary Ecca
Part 52


__ADS_3

...Melukis Senja...


"Udah enggak ada alasan untuk menyibukan diri" jawabnya.


Lalu, dia tersenyum kearah ku, yang membuatku tak enak hati.


"Kak, maaf ya, aku enggak bermaksud membuat kakak begini, tapi aku enggak mungkin membohongi perasaanku sendiri" ujarku pada kak Fikri.


"Bukan, salah kamu, ini salahku sendiri yang begitu takut jujur, mungkin kalo aku jujur dari dulu jadinya enggak begini, ya mungkin ini udah takdir dari Nya" jawab kak Fikri.


"Kakak masih, mau jadi sahabatku kan?" Tanyaku.


"Enggak ada alasan untuk menolaknya" jawabnya.


Aku tersenyum lega mendengarnya, kami mulai berbincang mengalihkan pembicaraan agar tidak terlalu larut dalam hal yang membuat hati kami sesak.


Disisi lain aku masih merasa bersalah, tapi aku pasrahkan semuanya pada Allah hanya Dia yang tau jalan hidupku, tugas ku hanya menjalankan semampu ku dan berusaha.


ooOoo


Kalau saya adalah ini, yang membuat senyummu, maka dia adalah orang lain yang membuat air matamu jatuh. Jangan marah kepadamu yang sudah membuat lingkungan jadi indah, tentram dan damai siapkan sekarang, kamu ingin siapa yang datang menghiburmu?.


Setiap hal ketika aku menunggumu, waktu berjalan menjadi lebih lambat untukku, malam berjalan lebih lambat, siang berjalan lebih melambat, jam dinding bergerak lebih lambat, usia bertambah lebih lambat, dan saat mana jantung ku berdetak lebih cepat melebihi kecepatan cahaya oleh keinginan bertemu denganmu.


Jarak terkadang membuatnya menjadi asing, membuat seseorang tak percaya akan kekuatan cinta. Silangit yang sama kamu berada, namun belum kamu temukan satu sosok pilihan-Nya.


Bagiku hidup hanya selalu hitam dan putih, kebahagiaan akan selalu berbanding lurus dengan kesedihan. Kita hanya menunggu waktunya bergiliran bukan?. Begitupun dengan kesunyian. Hari ini terasa ramai, mungkin esok kita akan berdialog lagi dengan kesendirian.


Meski dalam keramaian aku masih merasa kesepian, entah kenapa sunyi sepi ku rasa tanpa seseorang yang bisa menemani ku di kesendirian ini, tak terasa sudah semakin jauh aku berjalan sendiri.

__ADS_1


Egois ku rasa bila aku mengeluh saja tanpa mau berusaha, entah kenapa goresan pena ku sampai pada titik kosong dimana tinta hitam yang ku tulis diatas kertas putih ternyata telah habis, setiap yang ku tulis sesuai dengan perjalanan hidup dimana hati menangis menjerit menceritakan setiap perjalanan hati yang lirih, meski sang waktu berbicara dengan nada yang lirih sambil di temani sang piano yang terus berbunyi dengan merdunya seperti melodi sendu yang menohok hati.


Jarum jam terus berdetak kencang ke arah sumbu yang tak terbatas dengan penuh ke haluan aku terus bertanya kepada diriku sendiri, hari ini apakah akan lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya atau malah akan memberikan aku kesibukan uang sebenarnya membawaku pada rasa takut untuk memulai perubahan.


Bukan kisah Romeo dan Juliet yang kisahnya apik tertulis dan juga di filmkan, bukan pula tentang Rama dan Shinta yang termasyhur. Bukan orang kaya, cuma orang biasa, bukan penulis tapi hanya seseorang yang ingin meluapkan setiap perasaan lewat bait kata-kata dan juga goresan tinta yang ku tuangkan bersama hati dan juga perasaan.


Bait semusim yang tertulis manis tentang kisah kasih aku bersamanya yang duduk di pelataran cinta bersama dengan hati ku yang selalu terngiang-ngiang akan bisikan cintanya yang begitu merdu, tanpa batas waktu yang terungkap tapi tak mampu ku ucap. Aku hanya seseorang yang memujanya di balik kejauhan, aku hanya hanya seseorang yang berusaha keras untuk tetap setia bersamanya meski aku hanya berada di balik kejauhan, jangan tanyakan perasaan ku jika kau tak bisa beralih dari masa lalu yang menghantuimu karena ini sungguh tidak adil.


Gemercik suara hujan yang deras dari tetesan air hingga terdengar kencang, gak cukup satu tapi ribuan genangan air itu menyapu bahuku dan membasahiku, aku hanya terdiam sembari membiarkan setiap genangan air hujan dan juga riuh suara angin berhembus kencang di wajahku. Aku bukan siapa-siapa, aku bukan sang sutradara yang menciptakan perjalanan hidupku yang terdokumentasikan menjadi sebuah film. Meski dalam keramaian aku masih tetap sendiri dan merasa kesepian, seperti hanya ada seekor kunang-kunang yang menemani di kesunyian. Aku hanya aku dan bukan dia, biar ku simpan rasa ini di kejauhan tanpadi terlihat.


Kelas berakhir, aku melihat ada SMS dari David yang bertuliskan...


"Aku udah didepan" tulis David di SMS.


Kemudian aku tersenyum aneh, se on time itu dia nungguin aku.


Aku pamit Deva Devi dan bergegas keluar takut David terlalu lama menungguku.


Dia melihatku dan melambaikan tangan dan akupun begitu, sembari bergegas keluar kampus.


Ternyata benar David sudah didepan dengan mobil Jeep birunya, aku pelankan langkahku mendekatinya ada yang aneh dengan seyumnya.


"Kenapa si, ada yang aneh ya?...enggak, jadi pergi?" Tanyaku.


"jadi dong, yok!" Jawab David.


Aku mengangguk, dan kami masuk ke mobil.


"Mau kemana si?" Tanyaku.

__ADS_1


"Nanti juga kamu tau sendiri" jawab David.


Mobil David berhenti di sebuah panti asuhan.


"Sampe deh, turun yok kita udah ditunggu!" Seru David.


Kami turun dan masuk ke panti itu, ternyata David sudah menyiapkan berbagai macam barang untuk di berikan pada panti itu, ada pakaian, mainan, dan beberapa makanan.


"Kamu sering kesini?" Tanyaku.


"Yaa, bisa dibilang gitu, kadang sama temen-temen sekedar menghibur anak-anak panti, kebetulan ini panti dulu di donatori sama mama aku" ujar David.


Aku hanya mengangguk mengartikan paham, hem enggak nyangka Allah begitu baik, mengijinkan aku mencintai seorang laki-laki yang baik dan selalu berbagi untuk sesamanya. Aku semakin takut untuk kehilangan dia.


"Kak David!" Panggil ku.


Suara anak-anak panti yang berlari kearah kami dan menyalami David, seperti mereka sudah begitu mengenal David.


"Ini, pacar kakak ya?!, Cantik sekali kalo udah gede nanti aku juga mau cari pacar kayak pacar kakak" ucap anak laki-laki yang bertubuh gendut dengan pipinya yang kayak bakpao, yang disambut dengan sorakan dari teman-temannya.


"Huuuu!!"


"Bisa aja si gembul" jawab David sembari mencubit pipi anak itu.


"Kita ke taman yok, camping!" ajaknya.


"Ayoook!, Bunda (orang tua panti) juga udah nunggu di taman" jawabnya.


"Ok, lest go!" Anak-anak buru-buru mendahului kami dan membawakan barang yang kami bawa.

__ADS_1


Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik. Bukan, bukan karena kata sementara itu menyenangkan, hakikatnya, yang singkat tak akan pernah sepadan.


ooOoo


__ADS_2