Diary Ecca

Diary Ecca
Part 18


__ADS_3

...Sesuatu Yang Disembunyikan...


"David... kenapa?" suara ku yang cukup membuat David kaget dan gugup cepat menyembunyikan botol obat yang ia pegang.


"Ehmm... nggak-nggak pa-pa" dengan mengantongi kembali obat yang dipegangnya.


"Nggak pa-pa kok minum obat?"


"Nggak, ini cuma vitamin, oh ya kenapa belum tidur?"


"Oh, tadi kebangun nggak bisa tidur lagi, niatnya si mau keluar cari angin"


"Gitu, kalo gitu kebetulan aku juga mau keluar, kayaknya udaranya enak, gimana kalo kita keluar bareng dari pada sendiri-sendiri nanti ilang lagi...hh" Candanya berusaha mengalihkan pembicaraan.


Kami perjalan bersampingan David menuntunku membantuku berjalan. Aku melirik kearahnya dan berfikir apa David menyembunyikan sesuatu, apa dia sakit. Tak tau kenapa rasa khawatir menghampiri relung jiwaku, seakan takut terjadi sesuatu dengan David. Laki-laki yang baru kukenal tapi seakan-akan sudah kenal lebih lama.


ooOoo


Aku tak pernah tau akan arti kata cinta. Tak tau rasanya mencintai dan dicintai, tapi aku yakin cinta itu ada dan akan datang padaku. Aku tak mau mencari, aku hanya akan menunggu cinta yang dikirim olehNya. Karna aku yakin yang sesungguhnya dihadirkan olehNya akan lebih indah tanpa aku mencarinya.


Sepertinya hanya Tuhan yang tahu siapa jodohku, jodoh rahasia ilahi antara takdir dan juga cinta?. Lalu apakah diantara salah satu lelaki tersebut adalah jodohku?.


Semoga dia benar-benar baik-baik saja seperti apa yang ia tunjukkan pada ku. Kami duduk di taman depan rumah nenek David yang tak terlalu lebar tapi cukup mengesankan, di tambah dengan pemandangan langit yang di hiasi dengan bulan dan bintang-bintang yang indah. Seakan ingin menambah kenyamanan kami menikmati keindahan ciptaan Allah.


"Hemm... enak ya suasananya, sunyi, anginnya sepoy-sepoy, nggak kaya di rumah berisik banyak polusi" aku memulai obrolan.


"Ya namanya juga di desa ya begini ini suasananya, kamu suka disini?" Tanya David


"Ya, tentu seneng banget, udah lama juga nggak liburan"

__ADS_1


"Kalo gitu tinggal di sini aja sama aku" sambung David yang membuat aku terkejut dan kami saling memandang.


"Hhhh... nggak usah serius itu kalik, just kidding"


"Hhhh... nggak usah serius itu kalik, just kidding" ucapan yang memecah tawa kami, tiba-tiba aku menguap dan David melihatnya dan ia tersenyum.


"Ngantuk?" aku jawab dengan anggukan.


"Ya udah, kita masuk lagian udaranya juga makin dingin" kami berdiri dan berjalan masuk kerumah. David menuntunku sampai di depan kamarku.


"Bisakan masuk sendiri?" aku jawab dengan anggukan kepalaku.


"Ok, malam, cepet tidur ya" sembari mengelus kepalaku.


Sepertinya sudah menjadi kebiasaan David, aku hanya tersenyum dan masuk kekamar. Aku berjalan dan membaringkan tubuhku sambil membayangkan wajah David saat tadi mengelus kepalaku.


Membuat aku enggan melupakannya dan membuatku senyum-senyum seperti orang gila, hem inikah yang namanya jatuh cinta rasanya indah banget, berlahan tapi pasti aku memejamkan mataku. Ku dengar suara kokokan ayam dan aktivitas penduduk, rasanya baru saja aku terlelap tau-tau udah pagi aja. Aku bangun berjalan menuju kamar kecil. Kemudian ditengah langkahku terhenti mendengar panggilan dari Deva dan Devi.


"Ajaib cepet B.G.T sembuhnya" yang membuatku tersadar ternyata aku berjalan keluar tanpa merasakan sakit di kakiku.


"Hem, iya nggak sakit lagi, heemmm alhamdulillah akhirnya yes" aku bertingkah aneh dan membuat Deva Devi bengong melihatku.


Mereka saling berpandangan dan kembali melihatku, karna malu buru-buru aku masuk kamar mandi menyadari itu yang mau kulakukan tadi. Akhirnya sembuh juga jadi bisa pergi jalan-jalan.


"Alhamdulillah, sudah pulih sini perbannya nenek nyrimbeti perbannya...biar nggak lepas (menghalangi) seneng to udah sembuh... jadi bisa jalan-jalan liat keliling kampung" aku jawab dengan senyuman dan langsung ku peluk tubuh nenek.


"Makasih ya nek" ucapku manja seperti berbicara dengan nenekku sendiri.


"Iya nduk, sama-sama ya sudah ayo kita sarapan dulu setelah itu kalian bisa jalan-jalan" kami sambut dengan gembira, kami makan bersama sembari bercanda ria di meja makan.

__ADS_1


Setelah makan Deva Devi masuk kekamar katanya mau tidur, ngantuk. Maklum mungkin tadi malam mereka tidur terlalu larut, tapi akukan pengen keluar masak sendirian ah mereka menyebalkan, giliran aku udah sembuh malah pada malas-malasan. Aku keluar duduk di depan teras rumah. David datang menghampiriku.


"Udah siap?" ucapan yang membuatku bingung.


"Siap? Siap apanya?" dia malah senyum, emang ada yang salah dengan ekspresiku.


"Udah siap jalan?, kalo belom siap... ya udah besok lagi aja" hal yang membuatku ingat dengan janji David yang akan membawaku ketampat favoritnya. Langsung aku berdiri dan menganggukan gembira dengan ekspresi yang berbinar-binar, David tertawa geli sembari mengelus kepalaku.


Kami berjalan melewati jalan-jalan setapak dan area persawahan dengan canda tawa kami sembari menikmati perjalanan dan keindahan suasana pegunungan, menaiki bukit yang sepertinya sering dijajahi orang karna banyak jalan setapak yang ada di sana.


"Yapp, sampai... ini-ni tempat favoritku... gimana Ca?" Aku yang samar-samar mendengar pertanyaan David, yang tak kunjung ku jawab.


Keren banget, terpesona aku dengan keindahan pemandangan dan panorama desa yang dapat kulihat dari atas bukit yang membuat mataku terngangah lebar.


"Ca? segitu kagumnya sampe nggak denger suaraku" tambah David yang membuatku langsung menyadarkan diri dan menoleh kearahnya.


"Eem... apa, ya ini bagus banget"


"Ya ditempat inilah dulu saat aku tinggal di sini, tempat aku menghayal, tempat aku meluapkan emosi, tempat ku mengadu... tempat ini yang selalu membuatku rindu akan suasana desa" Aku yang terharu mendengar kata-kata David, seperti ada sesuatu di balik ucapannya. Aku memperhatikannya asik mengambil gambar-gambar dengan kameranya dan sesekali dia mengarahkan bidikannya kearahku yang membuat kami saling tertawa.


"Hem...besok harus pulang, padahal belom puas disini" kataku tak bersemangat.


"Eemm... kapan-kapan kan bisa kesini lagi, lagian kuliah kamu kan sayang ditinggal lama-lama" saran David.


"Kapan bisa kesini lagi, jalannya mungkin aku udah lupa kalo besok-besok"


"Tenang, kan ada aku nanti kalo aku ada perlu kesini aku ajak kamu dech" aku langsung melihatnya adengan ekspresi bahagia.


"Janji ya" dia sambut dengan senyum dan anggukannya.

__ADS_1


Nggak terasa udah lama kami di bukit, kabut juga mulai turun menutupi bukit. Kami berjalan turun dengan hati-hati karna jalannya cukup terjal dan licin. Sampai di desa kami melihat banyak anak-anak yang sedang bermain. Permainan khas desa mereka, seperti dakon, lompat tali, dan ular tangga, merasa sepertinya asik bermain dengan mereka.


ooOoo


__ADS_2