
...Cinta...
"Aku suka sama kamu" kata-kata yang membuatku kaget dan melihat ke arah kak Fikri yang memandangiku dengan tajam, karena malu aku memalingkan pandanganku.
"Ooh suka, alhamdulillah aku kan banyak yang suka...hhh" candaku.
"Hem...aku bukan cuma suka, tapi aku cinta sama kamu Ca" aku hanya diam terpaku menatapnya, tak tau harus menanggapi apa atas ucapannya itu.
Bukan kisah tentang Romeo dan Juliet yang kisahnya apik tertulis serta, bukan pula tentang Rama dan Shinta.
ooOoo
"Aku enggak tau, kapan rasa ini datang, yang aku tau aku merasakan ini sejak pertama aku liat kamu, ya sejak aku ospek kamu, tanpa kamu tau aku diem-diem selalu memperhatikan kamu, aku cemburu waktu kamu ngobrol sama cowok lain, tapi aku enggak pernah punya keberanian buat ngomong perasaan ini ke kamu aku selalu menyibukan diri biar bisa lupa soal perasaaan ku ini tapi aku malah semakin suka sama kamu, baru akhir-akhir ini aku sadar aku enggak mau tersiksa karena perasaan ini, aku tau kamu kaget, aku enggak minta keputusan lebih dari kamu, aku cuma mau mengungkapkan apa yang aku rasain ini biar aku enggak ada beban lagi... maaf atas kelancangan ku ini" ujarnya panjang lebar.
Aku masih termenung enggak bisa bicara apa-apa lagi, aku bingung harus jawab apa ya Tuhan tolong aku, aku menghela nafas dan menghadapkan wajahku ke arah kak Fikri sembari tersenyum.
Kemudian aku pun berkata padanya...
"Enggak pa-pa kak, aku paham...Makasih untuk rasa itu...tapi maaf kak aku belum bisa ngasih harapan lebih buat kak Fikri, tapi aku salut sama kakak udah bisa mencoba jujur dengan perasaan kakak sendiri dan kita masih bisa jadi temen deket kok" jawabku santai, dan mengulurkan tanganku.
"Makasih Ca, walupun enggak sekarang aku bisa miliki hati kamu, aku akan nunggu sampe kamu bisa menerima aku!" Serunya.
"Kak, jangan gitu, jangan terlalu mencintai seseorang terlalu berlebih, yang harus kak Fikri cintai berlebih itu cuma Dia" sembari menunjukan jemariku ke langit.
"Aku tau Ca, tapi aku enggak bisa secepat itu menghilangkan rasa ini" ujarnya.
"Kakak percaya Allah?" tanyaku dan kemudian dia mengangguk.
"Kalau kak Fikri percaya Dia, berdoalah dan minta petunjuk padanya, kita semua enggak tau apa yang sedang direncanakan Allah untuk kita, tapi kakak harus yakin apapun jalan yang kita alami sekarang itu datangnya dari Allah dan akan pergi karna Allah juga, untuk saat ini aku belum bisa menerima perasaan kakak" ujarku.
Dia hanya menatapku tercengang dengan ekspresi pandangan yang kosong.
__ADS_1
"Ya aku tau, mungkin ada orang lain yang sudah memiliki hatimu" jawabnya sembari tersenyum.
"Hem, enggak bukan gitu" jawabku mengelak.
"Kita percayakan saja sama Dia kak, jodohkan ada ditangan Dia, kalau Dia sudah menakdirkan kita berjodoh kita tak kan bisa mengelak, iya kan?" sambungku sembari tersenyum.
"Iya Ca, makasih udah mau denger perasaan ku, hatiku ternyata enggak salah milih kamu untuk mengisi kekosongannya" ujarnya.
Aku kembali menatapnya dengan malu-malu.
"Eh, udah waktunya kita kumpul kan kak, ke stand lagi yok" ajakku agar tidak terlarut dalam suasana yang sangat tidak membuatku nyaman ini.
Sembari berjalan kami hanya saling diam, sesekali saling memandang. Aku merasa canggung sepertinya kak Fikri pun merasakan hal yang sama.
Sejak kejadian itu kak Fikri bersikap aneh, seperti menghindar dariku. Aku jadi merasa bersalah tapi aku harus bagaimana, aku enggak bisa berpura-pura suka sama dia, dan enggak mungkin bisa membohongi perasaanku sendiri. Dalam lamunanku aku melihat bayangan David yang selalu ada di fikiranku.
"Ya Allah apa yang sebenarnya engkau rencanakan untukku?" Tanyaku sembari melihat ke atas langit.
"Ya Allah, tunjukkan jalan yang terbaik untuk hidup hamba, ya Allah maafkan hamba karena telah menyakiti hati Hamba mu, tapi apa yang harus hamba lakukan ya Allah tunjukkanlah jalannya untuk hamba, jangan biarkan ia membenci hamba karena hamba tau engkau sangat membenci hal itu, ya Allah tolonglah hamba."
Dengan berlinang air mata, aku tetap berada di masjid hingga tengah malam. Aku mendengar suara akustik yang sering dimainkan David, aku berlari mencari-cari sumber suaranya, berharap David ada disini.
Aku ingin melihatnya, sangat-sangat berharap bisa melihatnya. Aku terus berlari mencari cari suara itu, berlari dan terus berlari dengan berlinang air mata, dengan lirih memanggil-manggil nama David.
Hingga aku lelah dan berhenti duduk lemah di depan wisma tempat ku menginap. Dan suara itu perlahan menghilang.
"Ca, kamu kenapa?" suara kak Fikri, yang berlari ke arahku dan menyodorkan jaketnya padaku, dan menutupkan jaket itu ke badanku, dia khawatir karena melihatku berlinang air mata.
"Ayo kita masuk!" Seru kak Fikri.
Kemudian kak Fikri memapahku masuk ke wisma membawaku kekamar ku.
__ADS_1
"Ca kamu kemana si?!, kenapa, Ca?!" sambut Deva.
Kemudian dia menangis dan memelukku, aku seakan dibungkam aku hanya bisa diam enggak bisa berucap sepatah kata pun saat mereka bertanya padaku.
"Ca kamu kenapa?, kenapa jadi gini si?, kak Fikri, Ecca kenapa?!" tambah Devi.
Devi keluar bersama kak Fikri mungkin ingin bicara sesuatu. Entah apa yang merasuki tubuh dan fikiranku, aku begitu ingin bertemu dengan David.
Aku ingin memeluknya, aku ingin menceritakan segala hal yang aku alami sekarang. Aku bingung apa yang terjadi padaku, Deva masih memelukku dan aku menangis, aku memandangnya dan tersenyum tipis.
"Kamu kenapa Ca?" tanyanya sambil sesenggukan menahan tangis.
"Aku enggak pa-pa Va, aku capek mau tidur" Deva membantu dan mengangguk membaringkan tubuhku, dia tidur di sampingku sembari memelukku.
Kemudian Devi masuk dia juga berbaring di dekatku dan memelukku.
"Ca... aku tau apa yang kamu rasain, menangislah sepuas mu kalau itu membuatmu tenang" ujarnya.
Mendengar ucapan Devi aku kembali mengucurkan air mata dan memegang erat tangan Deva Devi.
"Aku bingung, kenapa cinta membuatku sesakit ini!" Seruku.
"Mungkin sekarang cinta membuatmu sakit, tapi percayalah jika takdir cinta terlah datang dari Allah maka kamu akan merasa bahagia" tambah Devi.
Aku hanya terdiam membenarkan perkataan Devi.
"Besok kita pulang, besok langsung ke rumah kamu ya Ca, aku kangen cup cake ibu kamu" kata Deva.
Yang mengubah suasana sedih kami menjadi buyar karena tawa kami, terimakasih Tuhan kau berikan teman-teman yang selalu mengerti aku.
ooOoo
__ADS_1