
Kriiiiiiiinnnggggg.....
Caca sangat hafal sekali dengan suara itu, suara yang setiap pagi sukses membangunkannya dari tidur.Terkadang ia merasa kesal mendengar bunyinya, suara itu suka sekali membangunkan Caca disaat ia sedang berada di tengah-tengah mimpi indah.
Setelah mematikan alarm disampingnya, Caca bergegas ke kamar mandi meski mata indahnya enggan terbuka. Setelah mandi, tak lama kemudian ia sukses menguncit rambut miliknya yang kini sudah panjang melebihi bahu sambil sedikit bercermin menatap dirinya dan mengenakan hijab sebisanya.
Caca bergegas keluar kamar setelah meraih tas dan kunci mobil yang ada di dalam laci, tak lupa ia mencium pipi ibu kesayangannya. Ibunya menatap gerak gerik anaknya dengan sedikit heran dan juga bahagia dengan sikap yang ditunjukkan Caca itu.
"Aku berangkat ya bu, assalamualaikum" ucapnya dengan riang.
"Loh sarapan dulu ca?" tanyanya kemudian.
"Di toko aja, lagi malas sarapan," jawabnya sambil berlalu.
"Ya sudah wa'alaikum salam, hati- hati ya sayang" hari normal pun kembali.
Mobil Caca melaju dengan kecepatan sedang, ia bergegas menuju tokonya karena memang jarak nya tidak begitu jauh dari rumah tempat ia tinggal sehingga tak butuh waktu lama Caca sudah sampai tepat di depan toko tercintanya.
Caca memarkirkan mobilnya tepat di dimana ia berhenti dan keluar berjalan menuju toko, disana sudah terlihat Nadin yang seperti biasanya menata kue ke tempatnya.
"Duh yang datang pagi tumben ni" ledeknya yang seakan - akan tidak pernah terjadi sesuatu. Caca hanya tersenyum, lalu geleng-geleng kepala.
Nadin sepertinya tidak ingin menanyakan peristiwa kemarin karena takut akan menyinggung perasaan Caca dan menambah kesedihan gadis itu.
...
"Din kita sarapan dulu, kamu pasti belum sarapan" tanyanya singkat.
"Iya Nadin belum sarapan mbk, lagian sudah lama sekali kita tidak sarapan bersama" jawab Nadin sedikit kaget.
"Iya sudah kamu tunggu, mbak akan memesan bubur ayam sama mang asef dulu ya " ucapnya pada Nadin yang hendak berdiri.
...
Caca pun beranjak keluar menuju bubur ayam yang berada tepat disamping toko bakery miliknya.
"Mang buburnya dua ya.." ucap Caca santay.
"Iya neng, makan disini atau antar ke toko" jawab mang Asef si penjual bubur.
"Di antar ke toko saja ya mang" jawabnya.
"Iya neng Caca, di tunggu ya mamang akan racikan buburnya sebentar" jawabnya yang mulai meracik bubur di hadapannya.
__ADS_1
"Iya."
...
Caca pun langsung masuk ke dalam toko dan menungu mang Asef mengantarkan bubur ayamnya. Bubur ayam mang Asef sangat disukai banyak orang, rasanya yang khas membuat bubur mang Asef laku keras dan juga harganya sangat terjangkau untuk semua kaum. Tak heran jika banyak pelanggan yang mengantri untuk mendapatkan bubur ayamnya.
..
Tidak berapa lama kemudiam mang Asef datang dengan membawa dua mangkok bubur ayam ditangannya.
"Ooh iya mang Caca lupa pesan minumnya , teh hangatnya 2 ya mang" pinta Caca pada mang Asef.
"Siap neng, nanti mamang antar tunggu sebentar ya."
"Terima kasih mang asef, huu aroma dari bubur mang Asef sangat mengoda membuat perut ini bertambah lapar mang..."kata Caca melirik ke arah bubur ayam yang dibawa mang Asef.
"Iya neng terima kasih, neng Caca bisa saja" jawabnya seraya pergi dan Caca hanya melemparkan senyuman nya untuk si oenjual bubur ayam.
...
"Din ayo kita sarapan dulu, ntar keburu dingin lagi."
"Iya mbk, ayoo "jawab Nadin.
Mereka pun menikmati bubur ayam mang Asef yang sangat lezat itu.
"Masuk aja mang" seru Caca.
"Ni teh hangat nya" ia menaruh teh hangat di atas meja.
"Terima kasih mang asef" ucapnya dengan melirik mang Asef yang berlalu keluar toko.
...
Tiba tiba suara ponsel Caca berdering menandakan ada pesan whatshap masuk ia ambil ponselnya dan membuka buka pesan yang baru saja diterima itu.
"Hay ca... Ini aku Ardi teman SMP kamu dulu, apa kamu masih ingat?" pesan dengan nomor yang tak Caca kenal.
"Assalamualaikum Ardi .. Tentu saja aku masih ingat sama kamu. Teman sekaligus sahabat dekatku dimasa putih biru. Mana mungkin aku melupakan semuanya" balas Caca dengan menyantap bubur ayam di hadapannya.
"Maaf, seperti biasa aku selalu lupa mengucapkan salam, wa'alaikum salam gadis kecilku dimasa putih biru" pesannya lagi yang membuat Caca terkekeh. "Apa kamu sedang sibuk Ca" tanyanya.
"Tidak, ada apa Ten ten" nama panggilan Ardi dimasa itu.
__ADS_1
"Panggil Ardi, sekarang aku sudah tampan tidak urakan seperti dulu.. Hehehehhe... Bercanda! apakah aku bisa menelponmu" pesannya lagi.
"Iya boleh silahkan, sekalian reuni."
Tak begitu lama ponselnya berdering dengan nada yang berbeda, itu menandakan panggilan masuk. Nomor yang sama dengan si pengirim pesan tertera di layar ponsel.
"Ca aku akan berbicara serius sama kamu, boleh...?" tanya Ardi.
"Iya boleh Ten ten, bicara lah.." jawab Caca santay.
"Tapi aku serius Ca. Kamu jangan marah yah" tanyanya terus.
"Iya, silakan bicara aja. Ada apa sih? kamu aneh" jawab Caca.
"Ca apa kamu mau menjalin hubungan serius bersamaku. Apakah kamu bersedia menjadi istriku, aku ingin melamar kamu. Karena sejak dulu sampai saat ini aku masih memendam rasa kepadamu. Aku yakin kau lah perempuan yang di takdirkan tuhan untukku dan aku yakin kau lah tulang rusukku yang hilang satu jika kamu setuju aku akan segera melamarmu. Maaf sebelumnya apa kamu sudah ada yang di hati atau kamu sudah ada yang memiliki" Ucap Ardi yang membuat Caca binggung dan gugup.
"Ardi apakah ini benar dirimu. Maafkan aku, aku tau apa yang kamu inginkan dan aku masih sama seperti yang dulu waktu kita masih sering bersama, tapi..." jawab Caca.
"Tapi apa ca... Kamu sudah ada yang memiliki atau kamu sudah ada pilihan yang lain" tanyanya.
"Aku takut gagal dan kecewa kalau harus nunggu lama jika kamu serius dengan ucapanmu dan ada niat. Aku tunggu kamu secepatnya" jawab Caca padanya, Caca pun heran mengapa ia bisa mengatakan seperti itu kepada laki-laki yang pernah menjadi sahabat dekatnya seakan bibir Caca dengan sendirinya menjawab pertanyaaan Ardi.
"Aku akan melamar kamu secepatnya Ca, aku akan kerumahmu" tegas Ardi.
"Aku menunggu mu Ten-ten."
"Aku akan datang secepatnya untuk melamarmu dan menjadikan kamu makmum ku..." jawabnya.
"Aku tunggu kedatanganmu calon imamku...." ucapan terakhir Caca.
"Aku pasti akan datang"jawabnya.
..
..
Caca pun mengakhiri percakapan tersebut, tanpa ia sadari bubur ayam yang di hadapannya sudah habis tak tersisa.
"Mbak siapa yang telpon, apa mbak akan menikah" tanya Nadin.
"Lihat saja nanti Din, drama apa yang di rencanakan Allah selanjutnya. Dia Ardi teman dekatku masa dulu" jawab singkat Caca dengan senyum manis dibibir ya.
Caca dan Nadin pun melanjutkan aktivitas mereka dan ia tak memberi tahu siapa pun tentang lamaran tersebut kecuali Nadin yang saat itu berada disampingnya, Caca akan merahasiakan semuanya sampai Ardi benar-benar datang kerumahnya dengan membawa lamaran.
__ADS_1
Caca tak ingin mengukir kekecewaan lagi, ia hanya berharap Ardi bukan lah laki-laki yang sama dengan mereka yang pernah singgah dalam hidup Caca.
Ardi adalah teman yang baik baginya namun Ardi orang yang berbeda, sifatnya cuek namun dia sosok laki-laki yang bijaksana tidak pernah plin plan dan memegang erat janjinya, entah untuk sekarang ini. Caca sama sekali belum pernah bertemu lagi dengannya setelah perpisahan di SMP mereka dulu. Entah seperti apakah penampilannya saat ini ia pun tidak begitu memikirkannya, bagi caca siapa pun dia yang menerimanya dengan tulus tanpa melihat kekurangannya maka Caca pun akan menerimanya dengan tulus pula.