Diary Hidup "CACA"

Diary Hidup "CACA"
Episode 27 Tamu


__ADS_3

Pagi sekali Caca dan Ardi telah bersiap untuk pulang. Mobil hitam mengkilap Ardi pun melaju dengan cepat keluar dari halaman villa. Perjalanan panjang pun di tempuh. Matahari pagi menerobos kaca mobil membuat Caca merasa tidak nyaman dengan sinarnya, ia membuka kaca mobil untuk menikmati panas matahari dipagi hari yang menyehatkan itu. Wajah Ardi terlihat senang sekali karena bisa full time beristirahat beberapa hari di villa bersama istrinya.


***


Setelah menempuh perjalanan selama berjam-jam, rasa lelah pun mulai mengerayap di tubuh Caca.


"Berapa lama lagi kita akan sampai" tanya Caca pada Ardi.


"Mungkin 2 sampai 3 jam lagi. Ada apa? Apa kamu membutuhkan sesuatu" jawabnya.


"Perutku terasa sangat lapar" keluhnya.


"Tahan sebentar, mungkin di depan sana ada sesuatu yang bisa dimakan untuk mengganjal perut kamu yang lapar" jawab Ardi.


"Coba lihat disana?" Caca berteriak, matanya tertuju kepada seseorang yang berjualan siomay di pinggir jalan.


"Apa kamu menginginkan siomay itu" tanyanya.


"Iya sayang."


"Baiklah. Tunggu sebentar aku akan membelinya untukmu" serunya.


"Jangan lama ya, aku sudah sangat lapar."


Selang beberapa menit Ardi kembali dengan membawa dua piring siomay di tangannya.


"Ini siomay pesanan istriku, ayo cepat habisi siomay itu" Ardi menyodorkan salah satu piring dihadapan Caca.


"Terima kasih suamiku" Caca meraih piring tersebut dan langsung menyantapnya dengan lahap.


Sepiring siomay cukup untuk mengisi perut Caca yang kosong. Setelah menikmati siomay itu, Mereka pun melanjutkan perjalanannya kembali. Rasa kantuk pun menghampiri Caca. Ia terlelap dengan pulasnya sementara Ardi tetap fokus pada jalannya.


***


3 jam kemudian mobil yang di kendarai Ardi pun memasuki sebuah pagar yang telah dibuka penjaga. Akhirnya mereka sampai di depan rumah setelah perjalanan panjang yang sangat melelahkan.


"Sayang, ayo bangun. Kita telah sampai" Ardi membangunkan Caca yang masih tertidur dengan bersandar di kursi mobil.


"Apa kita telah tiba di rumah" ucap Caca sambil menutup mulut yang menguap.


"Iya sayang, ayo turun" jawabnya.

__ADS_1


"Baiklah" ia membuka pintu mobil.


Ardi berjalan mendekati istrinya yang setengah mengantuk.


"Ayo sini, kamu masih ngantuk ya" gumamnya dengan meraih tangan Caca dan memapanya hingga ke depan pintu utama.


"Iya, habisnya terlalu jauh. Adakah tempat yang lebih jauh dari itu sayang" Caca Masih sempat meledek suaminya.


"Masih ada sayang. Apakah kamu mau kesana sekarang" Ardi membalas ucapan istrinya itu dan meraih gagang pintu.


"Tentu tidak" ia menggelengkan kepalanya dan mempercepat langkah jalannya menuju kamar atas untuk melanjutkan tidur yang terhenti.


Tidak begitu lama Ardi pun mengikutinya. Caca merebahkan tubuh di atas tempat tidur dan melanjutkan tidurnya kembali. Karena perjalanan yang begitu jauh membuat ku sangat lelah.


Berbeda dengan Ardi. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian Ardi menuju ruang kerja yang berdepanan dengan kamar tidur untuk melanjutkan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda.


***


Bel rumah berbunyi membuat Ardi menuruni anak tangga. Suara Man terdengar dengan jelas setelah Ardi membuka pintunya.


"Maaf pak, saya terlambat" laki-laki itu menjelaskan pada Ardi.


"Baiklah lah. Apa semuanya telah terselesaikan" tanyanya lalu berjalan beriringan menuju ruang kerja Ardi.


"Aku ingin wanita itu menjauh dari hidupku dan istriku" ungkap Ardi.


"Tentu, aku tidak akan membiarkan kan dia melakukan hal yang sama lagi" jawabnya.


"Aku ingin kamu mengganti kedua ponsel ini dengan yang baru beserta nomor yang ada di dalamnya. Aku tidak ingin ada yang menganggu" perintahnya sembari memberikan kedua ponsel ke hadapan Man.


"Baik pak, saya akan menggantinya segera" jawabnya cepat.


Man bergegas meninggalkan rumah Ardi. Selang satu jam Man kembali dan membawa 2 ponsel baru di tangganya dan memberikannya pada Ardi.


"Maaf pak, nona tidak terlihat" tanyanya.


"Caca tidur dikamar, aku tidak ingin menganggu tidurnya" jawab Ardi.


"Baiklah pak" laki-laki itu duduk bersandar di sofa yang ada di dalam ruangan itu.


Tet Tot Tet Tot

__ADS_1


Suara bel rumah pun kembali berbunyi. Man keluar membukakan pintu. Wajahnya berubah kesal setelah melihat Yudha berdiri di depan pintu.


"Siapa Man?" tanya Ardi yang berjalan menghampiri mereka.


"Aku Ar" Yudha menyela l.


"Ada keperluan apa kamu datang kemari, bukankah semuanya telah selesai" tanya Man yang diikuti Ardi.


"Maafkan aku. Aku kemari untuk meminta maaf kepadamu, aku akan menjelaskan sesuatu kepadamu. Aku mohon dengarkan aku untuk kali ini saja, setelah itu terserah padamu" Yudha memelas kepada Ardi dengan raut wajahnya yang sangat tulus.


"Bukankah pak Ardi telah memaafkanmu, sedikitpun Pak Ardi tidak pernah membencimu. Sekarang pergilah kamu dari sini" jawab Man.


Ardi pun meninggalkan mereka di depan pintu tanpa mempersilakan Yudha masuk dan menuju kamar atas menemui istrinya agar tidak keluar dan melihat kehadiran Yudha. Dia tidak ingin istrinya terluka karena kehadiran laki-laki itu.


"Kamu urus penghianat satu ini" tegas Ardi pada Man seraya berlalu.


"Biarkan aku bicara dengannya" pinta Yudha.


"Bukankah pak Ardi tidak ingin mendengarnya lagi. Undangan yang di berikan pak Ardi waktu lalu itu karena dia telah memaafkanmu" ucap Man.


"Kau dengar dia hanya ingin membalasku. Dia ingin aku melihat kebersamaannya dengan Caca" teriak Yudha.


"Aku harap kamu mengerti. Tinggalkan tempat ini dan jangan pernah kembali. Apalagi sampai kamu menemui nona Caca seperti waktu lalu kamu datang ke tokonya" tegas Man.


Yudha terkejut dengan ucapan Man.


"Bukan urusanmu, aku tidak ada kepentingan dengan mu" Yudha berlalu dan pergi.


"Aku ingatkan sekali lagi. Jangan coba-coba menemui nona Caca jika tidak ingin kehilangan seragam kamu itu" tegas Man.


Yudha sangat geram mendengar ucapan laki-laki yang ada di balik pintu itu, iya pergi tanpa membalikkan wajahnya.


Kalian egois hanya mementingkan keinginan kalian sendiri. Kalian tidak pernah ingin mendengar penjelasanku, aku lah yang sangat terluka dengan semua ini.


Man tersenyum dengan penuh kemenangan melihat kepergian Yudha. Man sangat kecewa kepada laki-laki itu.


Masih punya nyali rupanya dia datang kemari, dia tidak mendengarkan peringatan yang telah kuberikan. Dasar kau budak cinta.


Ardi memiliki pengaruh yang sangat besar di kotanya itu. Tentu saja dia mampu melakukan apapun. Termasuk untuk menghancurkan kehidupan Airin dan juga Yudha. namun Ardi tidak ingin melakukannya kepada Yudha, walau bagaimanapun Yudha adalah sahabat yang sangat ia sayangi seperti saudaranya sendiri. iya tidak ingin melakukan hal yang akan menghancurkan kehidupan Yudha.


JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE, KOMENTAR DAN VOTE JUGA YA...

__ADS_1


TERIMA KASIH TELAH MENDUKUNG AUTHOR..


__ADS_2