
Pukul 23.00
Sebuah mobil berhenti di depan pagar rumah Caca. Seseorang wanita tua membuka pagar yang tidak terkunci.
Seseorang menancap gas mobilnya masuk ke dalam halaman rumah sementara wanita itu menutup pagarnya kembali.
Herda membuka pintu setelah mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya.
"Nak Ardi" ucap Herda setelah melihat seseorang yang keluar dari sana.
"Assalamualaikum Bu" salam Ardi kepada wanita di depan pintu itu.
"Wa'alaikum salam, ayo masuk. Ehh Yumi, kamu juga ikut" sahut Herda.
"Iya Bu, Bu Yumi ingin ikut. Lagian Caca sudah menelpon Ardi akan tinggal disini sama ibu" ucap Ardi pada mertuanya. "Bi, bawa semua barang yang da di garasi" Ardi mengikuti ibu mertuanya.
"Caca di kamar, ia masih tidur" Herda menunjukkan kamarnya. Ardi belum terlalu paham letak kamar Caca.
"Terima kasih Bu, Ardi akan menemuinya" Ardi masuk ke dalam kamar Caca sewaktu ia masing lajang.
Ardi memandangi setiap sudut kamar itu, disana Ardi terasa asing. Untuk pertama kalinya Ardi masuk ke sana. Istrinya terbaring dengan nyaman, Ardi tidak mengganggunya. Dia mencari kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Walaupun tidak seluas kamarku dengan Caca. Tetapi disini sangat nyaman.
Ardi masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
Caca terbangun setelah mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi.
Siapa itu? Bukankah ini jas Ardi.
__ADS_1
Caca menambil jas diatas tempat tidur. Ia berdiri dan mengetuk pintu kamar mandi.
"Sayang, apa kamu didalam?" kata Caca berteriak.
"Iya ini aku, siapkan baju untukku. Aku lupa menyiapkannya" Caca melangkahkan kakinya untuk keluar namun seseorang mengetuk pintu.
"Bu."
"Iya sebentar, Bi Yumi. Bagaimana bibi juga ikut kemari?" ucap Caca setelah membuka pintu.
"Bibi takut dirumah sendirian jadi bibi ikut pak Ardi. Ini pakaiannya Bu" sahutnya lalu memberikan cover yang berisi pakaian.
"Terima kasih Bi."
Aneh, mengapa Bi Yumi pun ikut kemari? Mungkin benar, ia merasa takut. Tapi ini sangat aneh? sudahlah.
Caca menepis pikiran buruknya.
"Tidak Bi, bibi boleh pergi."
"Baik Bu."
Caca menutup pintu kamarnya kembali, lalu menata pakaian yang ada dalam cover ke dalam lemari di sana.
"Sayang, pakaiannya banyak sekali" teriak Caca.
"Bukankah kamu bilang untuk satu minggu" sahut Ardi dari dalam sana.
"Iya, tapi kok kamu bawa bi Yumi segala. Siapa yang akan menjaga rumah kita nanti" ucapnya.
__ADS_1
"Bi Yumi sendiri yang menawarkan diri untuk ikut, aku pikir akan membantu disini. Kenapa sayang? apa kamu tidak menyukainya" jawabnya.
"Tidak, bukan begitu. Kasian kan Bi Yumi harus ikut kemana pun kita pergi."
Caca mempersingkat ucapnya. Dia sangat mengerti bagaimana Ardi. Caca takut Ardi akan memecat Yumi jika Caca menjawab tidak menyukainya.
Selang beberapa waktu Ardi keluar dengan menggunakan handuk.
"Sayang berikan baju ganti ku" Ardi mengibas-ngibaskan rambutnya dengan tangan.
"Ambil ini" Caca memberikan piyama tidur Ardi.
"Kamar ini sangat nyaman" ucap Ardi pada Caca.
"Aku pun merasa begitu, sangat berat bagiku meninggalkan kamar ku ini di waktu itu. Tapi aku sadar, aku sudah menjadi seorang istri. Bagaimana pun kamar ini harus aku tinggalkan" ucap Caca.
"Mengapa kamu tidak membawa kamar ini ke rumah kita" sahut Ardi dengan santainya.
"Kamu pikir kamar ini sebuah boneka yang bisa dipindahkan kemana pun dan kapan pun."
"Maksudnya kamu menata kamar kita seperti ini, Ibu Negara."
"Baiklah. Jika aku masih diizinkan untuk kembali kesana setelah tiga bulan nanti, aku berjanji akan mengubah segalanya."
"Jangan mengatakan hal itu, jika kamu tidak kembali maka aku pun akan disini bersama mu" Ardi membungkam mulut Caca dengan sebuah ciuman.
Kini Ardi memeluknya dengan sangat erat.
"Berjanji lah padaku ibu negara. Jangan pernah mengatakan hal konyol seperti itu" Ardi melempar piyama yang di berikan Caca. Kali ini ia mempererat pelukannya.
__ADS_1
Caca hanya mengangukkan kepalanya.