
Sebuah rumah megah dengan nuansa putih nan asri serta desain yang menakjubkan. Mobil yang dikemudikan Man berhenti di halaman rumah megah itu. Mata Caca nanar melihat disekitarnya setelah keluar dari dalam mobil. Dengan wajah yang terkagum ia menyapa bunga-bunga yang bermekaran dengan senyum manisnya. Sementara Ardi membiarkan istrinya itu, ia sangat merindukan tempat ini.
Seorang wanita tua keluar membuka pintu dengan mengangkat sedikit kacamatanya setelah pak Amran mengetuk pintu rumah. Wanita tua itu menatap dengan mata yang berkaca-kaca, setelahnya ia memeluk erat seseorang di hadapannya itu.
"Ibu, kami semua merindukanmu" Amran memeluk erat wanita itu, Caca terkejut melihatnya.
"Menantu kesayanganku" wanita tua itu melepaskan pelukannya dan memeluk wanita disampingnya.
"Ibu,,,," menangis di pelukan ibu mertuanya.
Ardi meraih tangan Caca dan menggandengnya, ia mendekati wanita tua itu.
"Eyang Putri,,,,, ini istri Ardi" menundukkan kepalanya dan mencium tangan wanita itu yang di iringi Caca.
"Airin, dia selalu menceritakan tentang mu padaku" mencium dan memeluk Caca dengan erat.
Mata Caca sedikit berkaca-kaca. Semua mata saling berpandangan. Wanita itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Caca dengan seksama.
"Dia adalah Caca, istriku" pungkas Ardi tak ingin menyakiti perasaan istrinya.
"Ini Caca bu dan ini Herda, ibunya" Ratna memperkenalkan besannya.
Melihat semuanya terlihat tegang, Pak Amran mempersilakan semuanya untuk masuk. Semuanya mengikuti Pak Amran dan wanita itu masuk namun tidak dengan Caca. Ia masih berdiri tegak di tempatnya. Nama Airin tiba-tiba menghantui pikirannya, apalagi raut wajah wanita tua itu sepetinya kecewa.
Airin,,,,, Airin yang ia harapkan bukan aku. sepertinya Airin begitu dekat dengannya. Tapi mengapa ia tak mengenali Airin.
Caca terhanyut di dalam lamunannya. Ardi yang berdiri disampingnya hanya memandang wajah istrinya. Ia mengerti perasaan istrinya.
"Sayang, jangan pikirkan ucapan eyang putri" Ardi menjelaskan.
"Apa Airin pernah kemari?"
"Tidak, aku hanya akan membawa istriku kemari" meyakinkan Caca.
"Lalu."
__ADS_1
"Eyang putri hanya mengira kau adalah Airin. Beberapa tahun lalu ia pernah berbicara dengan Airin melalui telpon. Aku hanya memberi tahu padanya tentang pernikahan. Ia mengira Airin yang menjadi pengantinku" Ardi meraih tangan istrinya dan membawanya masuk.
Itu saja. Sepertinya eyang putri tidak menyukaiku.
Caca berada dibelakang mengikuti langkah kaki suaminya. Mereka beristirahat di ruang keluarga. Rumah semegah itu hanya dihuni oleh beberapa orang saja termasuk Ros yang di panggil Ardi dengan sebutan eyang putri dan dua orang pembantunya. Ardi menarik tangan Caca, membawa istrinya untuk menaiki lantai atas rumah megah itu untuk berganti pakaian dan melihat-lihat bagian rumah itu.
Wah luas sekali rumah ini. Apa eyang putri tidak merasa bosan disini. Mengapa ia tidak tinggal di kota XX bersama mama dan papa. Rumah ini lebih megah dari rumah Ardi. Rumah ini cukup untuk beberapa keluarga.
"Sayang, eyang putri hanya sendirian yah" Caca mengungkapkan rasa penasarannya.
"Iya, tetapi di temani beberapa orang untuk merawatnya."
"Mengapa tidak tinggal bersama mama dan papa ataupun kita" tanganya menghentikan langkah Ardi.
"Ini adalah keinginan eyang putri sendiri, ia merasa dekat dengan eyang Kakung jika berada di rumah ini, lagian ia tidak bisa melakukan perjalanan jauh" Ardi menjawabnya.
Matanya masih memperhatikan pemandangan alam yang asri sekitar rumah lewat jendela kaca di lantai atas rumah itu. Dari atas sana ia mempu melihat semuanya. Caca terlihat begitu bahagia, matanya terus memandang keadaan sekitar.
Caca menyesap minuman yang telah disajikan Ardi di atas meja yang berada hadapannya. Senyuman manis terukir indah menghiasi wajah cantik dan polosnya.Ia masih saja tidak percaya dengan semua yang baru saja dikatakan eyang putri kepadanya. Dan Ardi hanya menatapnya dengan mesra.
"Sayang apa yang kamu pikirkan" Ardi memegang wajah istrinya dengan kedua tangannya.
"Iya, aku ingin bersama keluargaku yang lengkap di tanah kelahiran ku" ardi mengenang masa kecilnya.
"Selama itu, apakah tidak akan menganggu pekerjaanmu disana?"
"Aku telah menjadwal kan semuanya lewat online, jadi aku masih bisa tetap bekerja. Man telah mengatur semuanya" Ardi menjelaskan pada Caca yang di balas Caca dengan sebuah anggukan.
Ardi dan Caca berbicara dan bercanda dengan begitu lamanya. Ia melupakan semua orang yang berada di lantai bawah. Mereka hanya asyik dengan berduaan di balkon.
Jika hanya untuk mengobrol selama ini tidak perlu datang kemari. Apa suami tampan ku ini, tidak ingin menunjukkan sesuatu yang indah di tempat ini.
"Sayang, ayo kebawah mereka pasti telah menunggu kita" menarik tangan suaminya.
Akhirnya mereka menuntaskan pembicaraannya dan menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Di ruang keluarga mereka berbincang dengan suara yang sangat keras hingga terdengar oleh Ardi dan Caca.
__ADS_1
"Yang di tunggu udah datang" Nadin melirik Caca.
Mereka berdua hanya saling menatap.
"Sayang kemari, eyang putri ingin memberikan sesuatu" menepuk tempat disebelahnya untuk mengisyaratkan Caca untuk duduk disampingnya. Caca segera mendekatinya.
"Caca, Eyang putri tidak bisa menghadiri pernikahan kalian waktu lalu, ini adalah gelang turun temurun milik keluarga kita. Aku telah berjanji akan memberikannya kepada menantu rumah ini" memasangkan sebuah gelang emas di pergelangan tangan Caca.
"Terima kasih eyang putri" air matanya menetes dan memeluk wanita dihadapannya itu.
Ternyata eyang putri sangat baik. Ia tak seperti yang aku pikirkan.
"Jangan menangis, kau memang pantai memakainya. Ayo hapus air matamu. Wanita cantik tidak diizinkan untuk menangis" eyang putri mengoda Caca sembari menghapus air mata yang mengalir di pipi Caca.
Caca sangat menyukai gelang pemberian eyang putri. Berkali-kali ia menatap gelang itu hingga mengabadikannya.
Herda sangat bahagia, putri semata wayangnya beruntung mendapatkan keluarga sebaik ini. Sementara Nadin menikmati pemandangan itu dengan seksama.
Mbak Caca sangat beruntung. Semoga kelak Nadin mendapatkan keluarga sebaik keluarga pak Ardi. Andaikan Nadin di posisi mbak Caca.
Mata Man tertuju dengan pemandangan dihadapannya itu. Nadin yang melihatnya merubah arah pandangnya.
Apa yang pria itu lihat. Menyebalkan. Nadin.
Apa yang ia pikirkan. Wanita aneh. Terkadang marah dan terkadang tersenyum sendiri. Jangan-jangan, merinding sendiri memikirkannya. Man.
Seorang pelayan menghampiri mereka.
"Makanannya sudah siap eyang putri" menundukkan kepalanya.
"Tepat sekali, aku sangat lapar" Ardi menarik tangan istrinya menuju ruang dapur.
"Ardi, apa kau melupakan wanita yang sudah tua ini" ucapnya yang membuat langkah Ardi terhenti dan merangkul eyang putri dan istrinya. "Apakah ini sudah benar."
__ADS_1
Mereka tertawa.
Semua menikmati makanan yang telah disajikan pelayan rumah itu. Semua terlihat hening, tidak ada yang berbicara di saat makan berlangsung.