Diary Hidup "CACA"

Diary Hidup "CACA"
episode 23


__ADS_3

Terik matahari begitu menyengat menambah amarah yang ada pada Ardi.


Ardi dan Man seketarisnya terus mencari Caca.


"Jika istriku tidak di temukan maka kau akan menerima akibatnya Airin" teriak Ardi dengan memukul sandaran kursi mobil.


Man hanya tertunduk tidak berani mengucap kata.


"Man segera hubungi semua sahabat istriku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadanya" perintah Ardi.


"Baik Pak" jawabnya.


Seketika, Man langsung menghubungi semua teman Caca dan tetap sama hasilnya masih nihil. Mereka tidak mengetahui dimana keberadaan Caca.


"Maaf pak Ardi , mereka tak ada yang tahu dimana nona Caca berada"


"Sialan, cepat arahkan mobil ke toko bakery milik istriku" umpatnya yang memerintahkan kepada sekretarisnya itu


"Baik pak."


Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.


Setelah sampai di depan toko Ardi langsung turun membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam toko.


"Sayang, sayang" teriak Ardi sambil berlari kesana kemari di dalam toko hingga ke lantai atas, namun tak kunjung Ardi temukan sosok yang ia cari.


"Maaf pak, mbak Caca tidak ada disini" jelas Nadin.


Ardi tetap berlari kesana kemari mencari Caca tidak menghiraukan perkataan Nadin begitu pun dengan Man mencari di setiap ruang.


"Pak nona Caca tidak ada disini" ucap Man pada Ardi.


Ardi pun terhenti dan keluar dari dalam toko.


Ardi terduduk di depan toko, ia mengeluarkan ponselnya dan langsung menelpon mamanya memberi tahu kegelisahannya.


Bu Ratna langsung menghubungi Bu Herda menanyakan tentang keberadaan Caca dan ternyata Caca tak juga pulang ke rumah tentu membuat Bu Ratna dan Bu Herda merasa khawatir.


Ardi pun menelpon ibu mertuanya.


"Assalamualikum Bu."


"Wa'alaikum salam nak ardi, bagaimana apakah Caca sudah ditemukan" jawab Bu Herda.


"Maaf Bu, Ardi ingin memberitahukan hal itu"


"Iya tadi mama kamu menelpon ibu, sebenarnya apa yang terjadi Ardi" tanya Bu Herda.


"Ceritanya panjang Bu, kalau begitu Ardi akan mencari Caca. Ardi akan menjelaskannya setelah istri Ardi ditemukan. Ibu jangan khawatir percayakan semuanya pada Ardi. Assalamualikum."


"Baiklah, Wa'alaikum salam" ia mengakhiri panggilan itu.


Berkali - kali Ardi menelpon dan mengirim pesan kepada istrinya itu tapi sama sekali tidak ada jawaban, Ardi tidak mengetahui jika ponsel Caca berada di dalam tas yang ada di ruangannya.


Karena melihat Ardi begitu khawatir akhirnya Nadin memberi tahu keberadaan Caca.

__ADS_1


"Pak sebenarnya mbak Caca ada di rumahku" ucap Nadin.


"Harusnya kamu memberitahuku lebih awal, berikan alamatnya" jawab Ardi yang berdiri dari duduknya.


"Ini pak" Nadin memberikan selembar kertas yang telah ia siapkan sedari tadi yang tertulis alamat tempat ia tinggal.


"Terima kasih" Ardi bergegas pergi dan langsung melajukan mobil ke alamat yang di terimanya.


Ardi meninggalkan Man bersama Nadin di toko bakery milik Caca. Tidak begitu lama Ardi pun tiba di alamat tersebut.


Tok tok tok tok


Ardi mengetuk pintu dengan gelisah, keluarlah seorang wanita membuka pintunya dan membuat Ardi begitu bahagia setelah mengetahui bahwa itu adalah istrinya.


Ardi menarik dan membawa wanita itu kepelukannya.


"Sayang aku sangat mengkhawatirkan kamu" ia memeluk istrinya dengan sangat erat.


Caca tak bergeming dari tempatnya berdiri, ia pun tidak membalas pelukan Ardi.


"Sayang, ayo katakan sesuatu" ucapnya lagi.


Melihat istrinya tidak bergeming Ardi langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Mobil pun melaju dengan kencang hingga membuat Caca semakin takut, entah kemana tujuan yang akan di tempuh.


"Aku ingin pulang " teriak tanggisan Caca.


Batin Ardi begitu tersayat-sayat mendengar tangisan istrinya itu.


Akhirnya mobil terhenti di sebuah villa yang indah di pingir pantai namun Caca tidak sempat melihat semuanya karena masih tertidur dengan pulas. Ardi pun mengangkat tubuh Caca memasuki villa tersebut. Ardi masuk ke dalam kamar dan terlihat kamar yang telah di hias seseorang dengan taburan bunga mawar yang membentuk tanda hati di atas tempat tidur untuk menyambut pasangan yang sedang berbulan madu. Ardi yang memerintahkannya untuk memberi kejutan bulan madu untuk istrinya namun hal itu di hancurkan oleh kehadiran Airin di kantor.


"Tidak begitu buruk, rencananya masih bisa aku lanjutkan" pikir Ardi.


Setelah membaringkan istrinya ke tempat tidur Ardi pun mandi untuk membersihkan diri.


Tidak begitu lama Ardi pun keluar dari dalam kamar mandi dan melihat istrinya yang telah terbangun.


"Sayang, kamu sudah bangun" ucap Ardi seakan- akan tidak ada yang terjadi.


Caca pun terdiam dan tak menjawab ucapan Ardi.


"Ayo cepat mandi" Ardi menarik dan membawa istrinya ke dalam kamar mandi.


"Lepaskan aku, aku bisa melakukannya sendiri" akhirnya Ardi pun melepaskannya dan keluar.


"Cepat sayang, aku menunggumu" teriak Ardi dari balik pintu setelah seseorang membanting pintu kamar mandi itu.


Setelah beberapa menit, Caca pun keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan handuk. Untuk pertama kalinya Ardi melihat lekuk tubuh mulus milik istrinya.


"Aku melupakan baju ganti mu."


"Lalu bagaimana, apa aku akan terus memakai handuk ini" jawab Caca kesal dan hampir menangis mengenang kejadian di kantor.


Ardi berlari kehadapannya dan berlutut.

__ADS_1


"Sayang, aku meminta maaf kepadamu" Ardi berlutut di hadapan istrinya, ia melingkarkan kedua tangannya di tubuh Caca.


"Berdiri lah, seorang direktur sepertimu tidak pantas seperti ini. Aku membencimu, kamu tidak pernah menyayangi ku, aku hanya alat yang kamu pergunakan untuk membalas Airin" jawaban yang keluar dari mulut Caca seperti tamparan bagi Ardi.


"Akan aku jelaskan. Apa kamu tidak melihat yang kulakukan padamu, apa kata - kata lebih berarti dari pada tindakan. Apa kamu tidak merasakannya sayang, saat ini dan seterusnya hanya kamu yang aku sayangi" Ardi berdiri dan merangkul tubuh munggil istrinya.


Caca pun menanggis.


"Lalu bagaimana dengan Airin" ucap Caca yang terisak tangis.


"Dia tidak akan ada di dalam kehidupan kita lagi sayang, aku berjanji padamu. Dia adalah masa laluku dan kamu adalah masa depanku, aku akan selalu menjaga pernikahan kita ini. Istriku maafkan lah semua kesalahanku" Ardi memohon di hadapan istrinya setelah ia membawa istrinya duduk di atas tempat tidur.


Caca membenamkan wajahnya di dalam pelukan suaminya itu, saat itu Caca sangat percaya dengan ucapan Ardi dan mencairkan hatinya yang beku.


Seketika ardi membalikan tubuh istrinya yang hanya berbalut handuk dan ia kini berada diatasnya.


"Sayang, apa kah boleh aku melakukannya" ucapnya dengan mencium kening Caca.


Caca hanya menganggukkan kepalanya.


Ardi pun memulainya dengan sebuah kecupan kecil hingga memagut bibir bagian atas Caca yang membuat Ardi bertambah bergairah, Caca terbuai manis dengan sentuhan lembut Ardi. Aksi Ardi semakin liar, tangannya yang lepas berhasil melepaskan handuk yang membalut tubuh istrinya. Belahan dada Caca terlihat sangat jelas dan menggoda, sementara tangan Ardi bergerilya turun menuju dua gundukan kenyal disana. Caca sedikit menahan rasa sakitnya setelah sesuatu memasuki bagian sensitifnya hingga terjadi hubungan yang telah lama diinginkan Ardi itu. Ardi melakukannya berkali-kali hingga membuat istrinya itu kelelahan, rencana bulan madu yang di rencanakan Ardi pun berhasil. Keduanya merasa bahagia dan merasakan pernikahan yang utuh dengan hubungan keduanya.


"Sayang, ayo hentikan. Aku sangat lapar?" ucap Caca dengan menjauhkan wajah Ardi yang masih menciumnya.


"Maaf, tunggu sebentar" Ardi keluar dari kamar unt mengambil sesuatu.


Ardi kembali dengan membawa sepiring nasi dan segelas jus di tangannya.


"Dari mana kamu mendapatkannya, siapa yang menyiapkan semuanya ini" tanya Caca.


"Aku telah menyuruh seseorang untuk menyiapkannya, kemari lah" Ardi menyodorkan sesendok nasi di hadapan istrinya.


"Sayang, aku bisa makan sendiri."


"Hari ini, aku akan memanjakan istriku ini" Ardi terlihat begitu bahagia yang membuat Caca tidak menolaknya.


"Baiklah."


"Ayo cepat habiskan semuanya. Apa ingin melihat suamimu ini terus merasa bersalah, karena membuat istrinya kelaparan"


"Iya sayang" Caca makan dengan sangat lahap.


"Senyummu lebih aku butuhkan saat ini" ucapan Ardi.


"Gombal" Caca mencubit hidung suaminya.


"Kamu tidak mengetahui, betapa risaunya hati ini saat kamu pergi. Dunia ku seakan terhenti. Jangan lakukan itu lagi sayang."


"Jangan memberi goresan luka yang membuat aku sulit menyembuhkannya" jawab Caca membalas ucapan Ardi.


"Aku tidak akan pernah memberikan goresan sedikit pun kepada istriku" ucapnya.


Caca hanya tersenyum dengan ucapan suaminya itu.


****

__ADS_1


__ADS_2