
Caca membulatkan mata hitam indahnya. Rona kemerahan mewarnai pipinya yang putih lembut. Ardi meraih kedua tangan Caca dan menciumnya tanpa melihat orang yang berada disamping mereka. Tanpa di komando, Nadin dan Man bersorak dan bertepuk tangan dengan kompaknya melihat adegan romantis tersebut. Mereka sangat iri melihat keromantisan suami istri itu. Namun rasa bahagia juga terpancar dari wajah Nadin dan Man. Mereka ikut berbahagia untuk Caca. Untuk pertama kalinya Caca mendapatkan laki-laki yang sangat mencintainya. Meskipun banyak kerikil tajam yang menghalangi rumah tangga suami istri itu, mereka dapat melewatinya dengan sangat bijak dan penuh kasih sayang.
Ardi langsung terkekeh setelah keduanya mendekat ke arah mereka.
"Untuk kesekian kalinya kamu mempermalukan aku, sayang" ucap Caca menekankan kalimatnya karena geram dengan kenakalan Ardi.
Apa yang mereka pikirkan tentang diriku nanti. Aku seperti wanita rendahan seperti yang dikatakan Airin.
"Apa masalahnya, aku mencium istriku. Hanya itu yang aku lakukan!"
"Itu masalah besar. Mencium istri di tempat yang salah itu kesalahan yang sangat besar" Caca mencoba memberi penjelasan kepada suaminya.
"Lalu aku harus mencium dimana. Disini..Disini atau disini?" Ardi mencium pipi, hidung hingga bibir Caca.
"Iiihhhhh.... Bukan itu maksudnya. Harusnya kamu cium aku hanya didalam kamar" Caca menciutkan bibirnya.
"Baiklah kalau begitu. Ayo?"
"Kemana?"
"Ke kamar, terus kemana lagi."
__ADS_1
Man dan Nadin terkekeh melihat keduanya, Caca dan Ardi menghentikan perdebatannya.
Mereka berbincang dan bercanda di taman depan rumah megah tersebut. Ditengah keseruan mereka berempat, tiba-tiba seorang wanita tua menghampiri. Wajahnya yang telah keriput, berjalan pun sudah sangat pelan dan hati-hati. Ardi memandang lekat wanita tua itu.
"Eyang, ada apa kemari. Ini sudah malam sebaiknya eyang putri beristirahat, Karena besok kita akan pergi. Lagi pula cuaca dingin seperti ini tidak baik untuk kesehatan orang yang sudah tua" Ardi membawa eyangnya menduduki sebuah kursi kayu ditaman.
"Kalian pikir aku sudah tua. Aku masih sangat kuat untuk melakukan apapun. Aku sudah terbiasa dengan cuaca dingin seperti ini. Ayo duduk, eyang akan menceritakan sesuatu yang sangat penting pada kalian" mengambil beberapa foto lama yang ia sembunyikan di kantong mantelnya dan mengenggam nya dengan sangat erat.
Ardi sudah terbiasa dengan cerita eyang putri. Sewaktu kecil eyang putri selalu membacakan dongeng kepada Ardi sebelum tidur. Tapi kali ini Ardi begitu penasaran dengan cerita yang akan di sampaikan eyang putrinya. Untuk pertama kalinya wanita tua itu menampakkan kesedihannya di hadapan Ardi.
"Eyang, Apakah eyang akan menceritakan sebuah dongeng seperti Ardi kecil dulu. Ardi sudah tidak ingin mendengarkan dongeng."
"Sssssttttt....." membungkam mulut Ardi.
"Ceritakanlah eyang putri, kami akan mendengarkannya" Caca duduk bersimpuh di samping wanita tua itu.
"Sebenarnya ini adalah masa lalu eyang putri bersama eyang kakungnya Ardi. Semua ini terjadi beberapa puluh tahun yang lalu. Semua ini berawal dari ulang tahun Ardi yang kedua. Aku bersama Eyang Kakung ke kota XX menuju kediaman Amran, papanya Ardi. Hari itu adalah perayaan ulang tahun Ardi sekaligus peresmian perusahaan Ardi yang sekarang ini. Waktu itu........." ia menguras air matanya dengan penyesalan yang luar biasa.
Ia menceritakan setiap detail peristiwa yang dialami mereka saat itu. Tepatnya disaat Ardi berumur dua tahun. Sampai saat ini Eyang putri tak ingin mengunjungi kota XX lagi. Itu alasan utamanya tidak dapat menghadiri pernikahan Ardi, cucu semata wayangnya itu. Semuanya terlihat bersedih mendengar cerita wanita tua dihadapan mereka. Ia ingin memperlihatkan foto seseorang, namun suara Herda menghentikan tangan Ros.
"Nadin, kemarilah ibu membutuhkan bantuanmu" teriak Herda sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Eyang, Nadin permisi dulu" meninggalkan tempat duduknya dan menghampiri Herda.
Eyang putri memberikan dua foto lama kepada Ardi. Semua melihat dengan seksama, Terutama Man, ia adalah orang paling utama yang akan diberi tugas itu oleh Ardi. Ardi mengambil foto di tangan eyang putri dan menyimpannya di dalam dompet.
"Eyang, Ardi berjanji akan menyelesaikan semuanya. Eyang jangan khawatir, Ardi akan menuntaskan permasalahan ini" Ardi memeluk tubuh yang sudah menua itu.
"Eyang, Caca juga akan membantu, semoga kita dapat menebus kesalahan itu" ikut memeluk.
"Saya berjanji akan menemukanya dengan cepat" Man meyakinkan.
Wanita tua itu tertekun di tempatnya. Ia sangat menyesali semuanya. Keegoisan dimasa lalu membuatnya tidak bisa hidup dengan tenang selama bertahun-tahun. Wanita itu pun menceritakan kejadian selanjutnya. Mereka bertiga mendengarkannya dengan seksama. Bahkan Man merekam semuanya hingga selesai. Ia tak ingin melakukan kesalahan nantinya. Karena ia tahu, dirinya lah yang akan melakukan semua itu.
Malam pun semakin larut, Caca terlihat sangat mengantuk hingga mereka memutuskan untuk masuk kedalam rumah untuk tidur. Terlihat keseruan didalam rumah setelah Ardi membuka pintu depan menuju ruang keluarga. Mereka semua mendengarkan cerita bik Yumi dengan nyamannya. Ardi mengantar eyang putri ke kamarnya, sementara Caca dan Man bergabung mendengarkan kisah bik Yumi.
Yumi menceritakan semua pengalaman hidupnya hingga akhirnya ia menemukan rumah Ardi dan meminta pekerjaan kepada laki-laki yang ia sebut bos itu. Yumi adalah wanita tua yang telah lama ditinggalkan anak semata wayangnya karena tidak ingin hidup miskin dan tinggal bersama wanita buta seperti dirinya. Anak perempuan satu-satunya itu meninggalkan Yumi di sebuah rumah kosong. Saat itu Yumi tidak dapat melihat, ia mengalami kebutaan setelah melahirkan putrinya itu. Namun berkat bantuan seseorang dengan pengobatan alternatif, perlahan penglihatannya kembali normal. Ia meninggalkan kotanya guna mencari Yasmin putri yang sangat ia rindukan.
Ia tidak memiliki foto atau ciri-ciri dari Yasmin, hal itu lah yang membuatnya terasa mustahil untuk menemukan anaknya.
"Aku tidak pernah melihatnya. Usianya hampir sama dengan Bu Caca, saya tidak bisa mengenalinya namun ia sangat paham denganku. Yasmin tergiur dengan hidup mewah hingga meninggalkanku seorang diri."
"Bik Yumi yang sabar. Suatu saat Yasmin pasti akan ketemu" Caca menepuk pundaknya.
__ADS_1
"Bener bik, Nadin aja sendirian. Orang tua Nadin meninggal saat Nadin masih kecil, kecelakaan yang menimpa mereka beberapa puluhan tahun lalu membuat Nadin sendirian dan sangat kesepian."
Kasian sekali gadis ini. Man.