
Ardi mengukir nama dengan begitu indah di batang pohon, tepatnya di bawah nama yang iya ukir beberapa puluh tahun lalu. Iya tidak mengizinkan Caca untuk melihatnya. Ardi ingin membuktikan kepada Caca bahwa pohon ini adalah pohon keberuntungan milik Ardi. Caca pun menyetujuinya, ia ingin membuktikan kebenarannya. Setelah itu Ardi mengajak istrinya untuk menikmati hembusan angin di pinggir pantai.
"Sayang setelah beberapa tahun lagi kita akan membuktikan kebenaran dari pohon keberuntunganku itu" ucap Ardi dengan yakin.
"Tapi rasanya tidak mungkin, semua yang terjadi itu atas izin Allah. Tidak ada pohon keberuntungan atau apapun itu,semua ini hanya kebetulan saja. Kita berada di dunia nyata bukan di negeri dongeng" Caca mencoba untuk menyadarkan suaminya dari alam dongeng tersebut.
"Lihat saja nanti" Ardi tidak menggubris ucapan istrinya.
Mereka memilih tempat yang sedikit menjauh dari keluarganya. Ardi dan Caca memilih duduk di tepian pinggir pantai. Ardi ingin mengatakan sesuatu kepada Caca, hal tersebut mengenai Man. Dia tidak ingin menyimpan apapun kepada istrinya. Namun saat itu, sebelum ia menceritakannya tiba-tiba mama dan ibu mertuanya menghampiri mereka. Ardi pun melupakan perihal yang ingin ia katakan.
"Kalian dari mana, sejak tadi tak terlihat" tanya Ratna.
"Ardi habis dari rumah pohon, ma."
"Apa yang kalian lakukan di rumah pohon, ayo cepat katakan" Ratna mencoba mengungkap yang terjadi.
"Itu loh ma, Ardi nunjukkin pohon keberuntungannya sama Caca. Iya kan sayang" dia memutar tatapannya kearah Ardi untuk seakan memberi ledekan.
"Terus kamu percaya" tanya Ratna pada Caca.
"Jelas Caca sangat percaya ma, tapi Caca percaya kalau itu bohong" Caca terkekeh dan terus memberi ledekan kepada suaminya.
"Tapi Ibu percaya. Tenang saja nak Ardi saat ini ibu berada di pihak mu" Herda menyelah percakapan mertua dan menantu itu.
"Tidak masalah Bu, mereka tidak mempercayainya. Aku dapat mengabulkan semua permintaanku. Kita lihat saja nanti, jika semuanya benar. Kamu menumpuk hutangmu kepadaku" tegas Ardi.
"Hutang" teriak kedua besan itu.
"Ardi keterlaluan, semua milikmu itu juga milik istrimu. Apa kamu dengar itu?" Ratna memarahi Ardi.
"Hutang cinta maksud Ardi ma."
Peramal, detektif, apa iya juga seorang peri yang dapat mengabulkan semua permintaan. sepertinya eyang putri terlalu banyak membacakan dongeng kepada suamiku ini sehingga ia menghayal terlalu jauh.
Ardi tidak meminta mereka untuk mempercayainya. Karena Ardi sendiripun tidak mempercayainya, iya hanya ingin menggoda istrinya itu. Dia merasa mendapat kebahagiaan tersendiri setelah menggoda istrinya.
__ADS_1
Ditengah perbincangan mereka berempat, Amran papanya Ardi menghampiri dengan membawa beberapa botol minuman. Tidak hanya Amran tetapi semuanya pun ikut menghampiri perbincangan seru mereka.
"Mbak Caca tahu enggak ini adalah liburan pertama Nadin. Terima kasih ya Pak Ardi, Nadin sangat bahagia berada disini" gadis itu berkata dengan polosnya.
"Selama ini kemana aja neng" ledek Man kepada Nadin.
"Saya bukan orang berkecukupan seperti anda. untuk makan pun saya harus bekerja dengan sangat keras" Nadine menekankan kalimatnya kepada Man yang selalu membuatnya geram.
"Sampai tua begini, Eyang mana pernah liburan. Paling jauh ya ke rumah Ardi waktueyang kakungnya masih hidup. Itu pun hanya kunjungan bukan liburan."
"Kita sama Din, Ibu juga belum pernah liburan. tenang saja nanti kita akan atur jadwal liburan untuk berdua bersama ibu" Herda pun ikut bicara.
Man merasa tersudutkan. Dia tidak menyangka ucapannya akan menambah kegeraman gadis itu. Dia pun memasang mimik wajah yang begitu sedih untuk menyatakan kekalahannya dalam perbincangan bersama wanita.
Pasal 1, wanita selalu benar dan lelaki selalu salah dimata mereka.
Semuanya tertawa melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan Man. Eyang putri berjalan sedikit menjauh dengan ditemani bik Yumi. Ia ingin mengenang masa-masa ditempat itu.
"Hey Mansyur, mengapa kau begitu lemah dihadapan wanita" Caca terkekeh.
"Apa yang sedang kau pikirkan Man. Lamunan masa kecil terlihat jelas di wajahmu" Ardi menerka.
Man hanya menggelengkan kepalanya dan bergeser sedikit menjauh untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul nantinya yang ia pastikan tidak akan semudah itu dapat menjawabnya.
Akhirnya mereka semua memilih untuk berjalan menyusuri pinggir pantai. Caca sangat heran dengan suasana yang ada di tempat itu. Tempat yang begitu indah tetapi tidak ada satupun orang yang mengunjungi tempat itu kecuali mereka.
"Sayang, mengapa tidak ada yang berlibur di tempat ini. Mana mungkin tempat seindah ini tidak ada peminatnya" tanyanya sembari bermain air.
"Untuk apa orang lain datang kemari. Aku tidak mengizinkannya, tempat ini hanya boleh didatangi oleh orang-orang pilihanku."
"Apa kuasa mu di tempat ini pak direktur, ini bukan kantormu."
"Dengar istriku, aku mampu melakukan apa saja di tempat ini. Aku sendiri yang mendesain tempat ini. Termasuk rumah pohon keberuntunganku itu."
"Ucapan mu seperti pemilik tempat ini" Caca berlari dengan memercikan air ke wajah suaminya.
__ADS_1
"Kita ada pemilik tempat ini sayang" teriak Ardi.
Ardi mengusap percikkan air di wajahnya dan berlari mengejar istrinya.
Herda meneteskan air matanya melihat kebahagiaan di raut wajah putrinya itu. Herda merasa beruntung diberikan menantu seperti Ardi. Kebahagiaan Herda terasa kurang lengkap tanpa kehadiran seorang cucu yang akan bermain di pangkuannya. Ia pun berharap agar caca segera di karuniai seorang putri.
...
Disisi lain Man dan Nadin terlarut dalam sebuah obrolan.
"Apa kamu menyukai tempat ini" tanya Man.
"Aku sangat menyukai semua di tempat ini kecuali dirimu" jawabnya ketus. "Tapi aku sangat heran. Tidak ada uang berkunjung ke tempat ini kecuali kita."
"Tentu saja. Pantai ini milik keluarga pak Ardi. Apa kamu tidak tahu itu."
"Tidak, Mbak Caca beruntung memiliki suami yang kaya raya dan sangat menyayanginya" Nadin mengeluh dihadapan Man.
Man hanya menganggukan kepalanya.
"Aku minta maaf, untuk semua ucapanku hari ini" ucap Man dengan tulus.
"Simpan saja maafmu itu, aku sangat marah saat ini. Apa kau tidak lihat?" Nadin melototi wajah Man.
"Ternyata marahnya wanita lebih menakutkan dari pada hantu" umpatnya.
"Apa, kemarin kamu bilang aku bukan tipeku sekarang kamu bilang aku hantu. Menjauh lah dariku. Jika tidak, aku akan mengutukmu" Nadin mengepal kedua tangannya.
"Baiklah aku akan pergi. Kamu lebih seram dari hantu yang aku bayangkan" Man berlari menjauhi Nadin.
"Apa yang kau katakan. Kembali, aku akan memukulmu" kata Nadin berteriak.
Laki-laki tidak pernah memahami wanita. Sangat egois lihat saja nanti. Aku akan membalasmu setelah ini.
Nadin sangat marah kepada Man. Berkali-kali ia memberikan kutukan kepada lelaki itu.
__ADS_1