
Ardi menatap tajam laki-laki yang berada dihadapannya. Laki-laki itu terlihat begitu tegang. "Man aku selalu mengingatkanmu. Berterus terang lah padanya. Aku tidak ingin kau akan mengecewakannya" kalimat singkat yang diucapkannya dengan nada tinggi.
"Aku akan berusaha pak. Aku takut akan lebih melukainya" ucap laki-laki dihadapannya dengan terbata-bata.
"Apa? Man kau tahu kebohongan adalah hal yang paling menyakitkan. Aku yakin kau paham akan hal tersebut" berdiri dari duduknya.
"Maafkan pak. Sepertinya butuh waktu untuk mengatakan semuanya. Aku sangat mencintainya, tentu saja aku tidak akan mengecewakannya. Aku akan mengatakan segalanya disaat yang tepat" sekilas ia melihat wajah Ardi yang memandangnya dengan tatapan tajam.
"Itu urusanmu. Sekarang siapkan semua data yang akan diperlukan untuk rapat online hari ini. Satu jam lagi aku akan kemari dan memulai rapatnya" dengan bibirnya yang menyeringai ia meninggalkan Man dan menuju keluar rumah untuk menemui istrinya.
"Baik pak."
Ardi mencari sosok istrinya namun ia tak menemukannya, hingga ia berjalan menuju teras rumah. Terlihat bayangan wanita yang tak asing baginya di jendela ruang tamu, wanita itu terlihat sedang memperhatikan sesuatu lewat jendela. Ia segera menemui pemilik bayangan yang ia lihat.
"Aku menemukanmu, permainan semacam apa ini sayang sedari tadi aku mencarimu" Ardi memegang dagu Caca dengan tangan kirinya dan hanya di balas dengan senyuman yang begitu manis hingga membuat Ardi sulit membedakan antara gula dan senyuman istrinya.
" Sayang, ayo lepaskan" kedua tangan Caca menyentuh tangan Ardi yang berada di dagunya.
"Sayang, apa yang kamu lakukan sendirian disini" ikut memperhatikan hal menarik yang dilihat Caca.
"Coba lihat disana, ibu terlihat sangat bahagia. Untuk pertama kalinya aku melihat sebahagia ini" bersandar di pundak suaminya dengan memandang ibunya yang bercanda bersama Nadin dihalaman yang begitu luas depan rumah.
"Iya sayang, ibu terlihat begitu cantik. Aku tak heran dari mana kamu peroleh kecantikan mu" Ardi mulai mengoda istrinya.
"Mama juga begitu cantik. Tapi, anaknya sejelek ini" mencubit hidung suaminya dan berlalu pergi.
Kali ini istriku yang memberi ledekan. Jadi gagal rencana untuk mengodanya.
__ADS_1
Hanya dengan senyuman istrinya yang membuat pagi Ardi begitu bersinar. Ardi langsung terkekeh melihat reaksi istrinya itu. Selang beberapa menit, Ardi kembali menemui laki-laki yang diperintahkan nya untuk menyiapkan semua file rapat.
"Bagaimana Man apa semua telah siap?" ucapnya dengan suara yang pelan.
Man tak menggubris sedikit pun pertanyaan Ardi.
"Man, apa kau mendengar nya?" kata Ardi setengah berteriak.
"Iya pak aku mendengarnya. Maaf pak, apa yang bapak katakan sebelumnya" Man menyugar rambut panjangnya hingga menggaruk kepala yang sama sekali tidak terasa gatal.
"Apakah semuanya telah selesai?" Ardi sedikit membentak membuat laki-laki dihadapannya itu terbata-bata.
"Iya pak, semuanya telah selesai dan rapat akan segera dimulai."
"Baiklah segeralah mulai?" perintah Ardi pada sekretarisnya itu.
.
.
"Sayang, aku mohon hentikan" ucapnya yang membuat Ardi tersentak kaget yang saat itu sedang asyik mencium istrinya.
"Maaf sayang, saat bersamamu aku ingin melakukannya lagi dan lagi" terkekeh dan menghentikan aksi nakalnya.
"Oh begitu. Apakah kau akan membiarkan istrimu ini hanya berada didalam kamar? ayolah sayang, aku ingin sekali menikmati suasana di kota ini.
"Baiklah. Aku akan membawamu menikmati kota ini. Apakah kau ingin ikut bersamaku?" berlutut dihadapan Caca dengan tangan kakanya dinaikan ke atas seperti seorang pangeran yang hendak meminang seorang putri.
"Baiklah" meraih tangan suaminya dan menyatukan tangan mereka. Keromantisan seperti ini lah yang sering dilakukan Ardi untuk mengoda istrinya.
Semuanya telah bersiap. Mereka melanjutkan sebuah perjalanan yang tidak begitu melelahkan karena letaknya tidak terlalu jauh dari kediaman eyangnya itu. Akhirnya mereka tiba disebuah pantai yang terlihat begitu indah. Ini bukan untuk pertama kalinya. Karena Caca sudah pernah menikmati suasana pantai sebelumnya bersama Ardi. Namun kali ini sedikit berbeda dengan suasana yang berbeda pula. Kali ini mereka mengunjungi pantai yang biasa Ardi datangi ketika waktu dulu tempat di dijadikan kenangan bagi Ardi. Disini lah ia selalu melepaskan beban berat di pundaknya.
__ADS_1
Tidak jauh dari sana ada sebuah pohon besar yang di atasnya ada sebuah rumah kecil. Tepatnya itu disebut sebagai rumah pohon. Sedikit aneh, namun tak ada yang aneh bagi Caca. Ia tahu suaminya akan melakukan apapun sesuai dengan keinginannya.
Semua keluarga menikmati suasana pantainya, sementara Ardi membawa istrinya mendekati rumah pohon itu. Ardi ingin menunjukkan sesuatu kepada istrinya.
"Sayang, kemari ikuti aku?" meraih tangan istrinya dan menaiki sebuah tangga yang tidak terlalu tinggi.
Caca mengikuti setiap langkah suaminya.
"Sayang, ada apa membawaku kemari. Bersama mereka kan lebih asyik" ucapnya pada Ardi.
"Kamu ingin tahu bukan. Sejak kapan aku menyukaimu" mengusap sebuah tulisan kotor yang ada di batang pohon.
"Apa yang kamu lakukan sayang" memperhatikan gerak gerik yang dilakukan suaminya.
"Taarraaaaaa" dengan riang ia melentangkan kedua tangan untuk memperlihatkan ukiran nama yang tertulis di batang pohon.
"Sayang, kamu......" ia memeluk erat suaminya itu dengan meneteskan air mata bahagia.
Sekarang aku mengerti mengapa ia memilih tempat ini untuk berlibur.
"Kenapa sayang. Apa kamu tidak menyukainya" membalas pelukan istrinya dengan erat.
"Bagaimana aku tidak menyukainya. Kau begitu sempurna mengukir namaku di batang pohon itu" tak hentinya memandang nama (Ardi 💗 Caca) yang diukir dengan begitu indah di batang rumah pohon itu.
"Aku membuatnya beberapa tahun silam. Namun aku tahu kamu mencintai sahabatku. Sejak itu aku tak mengharapkan mu lagi, bagiku kebahagianmu adalah kebahagianku juga, namun setelah kesalahpahaman yang dilakukan Airin aku merasa berhak membuatmu bahagia. Aku sangat percaya ini adalah pohon cinta keberuntungan yang dianugerahkan Tuhan untukku."
"Selama itu kau mencintaiku sayang" tertekun memperhatikan setiap ucapan suaminya.
"Iya sayang, aku akan mengukir dua nama lagi disini, tapi berjanji untuk tidak melihatnya. Aku akan buktikan kepada mu bahwa ini adalah pohon keberuntungan" mencari sesuatu untuk menggoreskan dua nama di batang pohon itu.
"Baiklah, aku ingin melihat keberuntungan dari pohon ini" Caca terkekeh tak percaya dengan pohon tua yang ada dihadapannya.
__ADS_1
Sayang kamu sangat aneh. Mana ada pohon yang seperti itu. Ini pohon tua biasa, semua yang terjadi adalah suratan yang telah digariskan sang pencipta. Kita buktikan saja nanti. Hihihihi