
Senyuman yang indah di bibir Caca, sekarang mulai pudar. Hari demi hari ia lalui dengan perasaan yang resah. Kali ini pikirannya sangat kalut, waktu 3 bulan hanya lah sebentar baginya. Bagi seorang istri yang belum dikaruniai seorang anak hidup terasa sangat singkat.
Sudah lama sekali ia berada didalam rumah untuk menjaga kesehatan tubuhnya, namun tetap saja nihil hasilnya. Sampai detik ini ia belum juga mengandung, berbagai pengobatan alternatif pun telah ia lakukan.
Apakah hanya diriku wanita yang tidak sempurna di dunia ini?
Caca menyandarkan tubuhnya di tembok dinding depan rumahnya. Beberapa hari ini ia sering merenung sendirian.
Betapa beruntungnya wanita diluar sana yang di karunia anak?
"Sudah sangat lama aku tidak ke toko, lebih baik aku kesana untuk mengusir rasa getir ku" ucap Caca dalam hati. Ia segera beranjak pergi dari rumah menuju toko bakery miliknya, dengan menaiki sebuah taksi.
Tidak butuh waktu yang lama akhirnya Caca tiba disana.
Pemandangan luar biasa yang terlihat dari dalam toko yang menerawang lewat kaca. Disana terlihat sepasang kasih yang sedang memadu asmara. Caca segera menghampiri sepasang kekasih itu.
"Apa ini kelakuan yang sering kalian lakukan di tokoku?" kata Caca dengan berteriak.
"Mbak Caca" wanita itu terperanjat kaget lalu berdiri dari pangkuan kekasihnya itu.
"Dan kamu, aku telah memperingatkan kamu berkali-kali. Tidak pantas bagi seorang laki-laki yang telah beristri memadu kasih dengan seorang gadis" Caca menatap tajam wajah laki-laki itu dengan mengangkat jari telunjuknya.
"Mbak, ini urusan Nadin. Mbak Caca jangan ikut campur dengan semua ini."
"Dengar Nadin, aku dapat menerima siapa pun kekasihmu. Tapi aku tidak akan membiarkan menjadi ornag ketiga dari hubungan seseorang. Apa kamu mengerti?" Caca sangat geram dengan kelakuan keduanya.
"Mbak Caca, jangan coba-coba menasehati ku. Lebih baik seperti diriku dari pada menjadi seorang istri yang mandul" ucapan Nadin membuat bulir bening menetes dari pelupuk mata Caca.
"Mbak hanya mengingatkan mu, jika kamu tidak ingin mendengarkannya terserah padamu" ucap Caca lalu meninggalkan tempat itu.
Dasar wanita mandul. Apa kau tau? Kalian adalah penyebab kehancuran hidupku.
Laki-laki itu dengan segera meninggalkan toko bakery milik Caca.
__ADS_1
Pegawai lain disana tidak aneh lagi dengan perubahan sikap Nadin. Nadin kini telah menjadi gadis yang sangat kasar dan bertingkah semaunya. Perubahan Nadin tersebut tentu memiliki alasan tersendiri.
Caca semakin kalut di buatnya, ia mencari ketenangan di toko ternyata kejadian di toko lebih melukai hatinya. Caca pun pergi ke tempat lain di mana ia akan merasa aman karena akan ada pundak yang selalu siap mendengar keluh kesahnya. Caca pergi ke rumah ibunya.
Dengan sergap taksi tersebut menuju alamat yang diucapkan Caca. Selang beberapa waktu Caca tiba dirumahnya.
Aku sangat merindukan suasana di rumahku. Tempat ini selalu membawa kedamaian di dalam hidupku. Betapa bahagia masa kecilku disini, setelah beranjak dewasa semua orang mulai menyakiti ku.
"Assalamualaikum, Bu" Caca mengetuk pintu rumahnya.
"Wa'alaikum salam" sahut seseorang dari dalam rumah. Ia membuka pintu lalu memeluk seseorang dihadapannya.
"Ibu" Caca membalas erat pelukan wanita yang telah melahirkannya itu
"Sayang, ibu sangat merindukanmu! Sudah sangat lama ibu menanti kepulangan mu ke rumah kita."
"Caca pun begitu Bu."
"Tidak Bu, Caca sendiri. Ardi di kantor, Caca sengaja datang sendirian kemari" Caca langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa instruksi ia segera membuka kamar lamanya.
Tempat itu masih sama seperti saat ia pergi. Setelah menikah ia belum pernah ke rumah ibunya. Ini adalah pertama kalinya ia kesana setelah menikah, kali ini sedikit berbeda. Caca merasa canggung dengan kamarnya sendiri.
Bagaimana jika dalam waktu tiga bulan aku tidak juga mengandung. Apa mungkin aku akan kembali ke kamar ini kembali?
Caca menyentuh setiap bagian tempat tidurnya, lalu meneteskan air matanya.
Air mata yang sama namun kesedihan yang berbeda. Ujian seperti apakah ini tuhan? Kau beri aku suami yang sempurna, namun diri ku lah yang tidak sempurna.
"Caca, ada apa ini" ucap Herda.
"Caca hanya mengingat tempat ini Bu" ia mengusap air matanya.
"Ia sayang, ibu pun sering begitu dikala masuk kedalam kamar ini. Bayangan putri kecil ibu selalu ada di dalam kamar ini" Herda membelai wajah anaknya itu.
__ADS_1
"Caca pun begitu Bu" ucapnya.
Namun ada kesedihan lain yang mengusik hatinya yang tidak ia ceritakan pada Herda. Kini tangisan kecil Caca menggelegar tak terbendung kan. Ia memeluk erat wanita yang ia sebut ibu itu.
"Caca bukan istri yang sempurna Bu, Ini sangat tidak adil. Apa salah Caca sehingga tuhan tidak ingin menitipkan seseorang anak untukku?" ia terus menangis.
"Tuhan sangat adil. Semua butuh proses, kamu yang sabar. Rencana Tuhan lebih indah dari pada rencananya kita, bukankah itu yang selalu kamu katakan. Sudah lah jangan menangis lagi, mungkin suatu saat nanti kalian akan memilikinya" Herda menenangkan putrinya walaupun ia sendiripun sangat bersedih.
"Tapi Bu, bagaimana jika dalam waktu tiga bulan Caca tidak juga hamil" ucap Caca.
"Tiga bulan. Ada apa dengan waktu tiga bulan itu?" berkali-kali Herda mengulangi ucapan itu.
"Mama akan menikahkan Ardi kembali" Caca menangis tersenduh mengucapkan kalimatnya.
"Bagaimana mungkin, apa yang ada dalam pikiran Ratna. Dia juga seorang istri dan seorang ibu, seharusnya ia mengerti dengan keadaan saat ini."
"Tidak Bu, ini salah Caca. Caca yang mandul, benar yang dikatakan mereka."
"Apa kamu dan Ardi telah memeriksakannya?"
"Ia Bu, tapi hasilnya akan keluar minggu depan."
"Kalau begitu belum di pastikan. Jangan bersedih, itu hanya kata mereka. Ibu sangat yakin kalian akan memiliki buah hati nanti" itu lah paling tepat diucapkannya pada saat itu.
Caca hanya mengangukkan kepalanya.
Jika ia berani menikahkan Ardi. Maka aku sendiri yang akan membawa anakku pergi dari sana. Keterlaluan kamu ratna, apa yang kau ucapkan itu. Lihat saja nanti kamu akan menyesal jika sampai itu terjadi.
Caca merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur lamanya. Herda pun mengikutinya, ia berbaring disamping putri yang sangat dirindukannya. Kini Caca mulai tertidur di pelukan ibunya itu. Perasaannya mulai membaik setelah mencurahkan semua yang ia pendam sendirian.
Herda menatap wajah anaknya itu, ia menangis seketika mengingat ucaoan Caca barusan.
Apa yang akan terjadi nanti, bagaimana jika Ardi menyetujui permintaan ibunya. Apa yang akan terjadi pada putriku? putri ku yang malang. Penderitaan silih berganti menghampirinya, harusnya sekarang ia sangat bahagia. Tuhan kabulkan lah setiap doa yang terucap dari bibir anakku ini.
__ADS_1