
Canda tawa pun pecah saat ponsel Caca berdering yang membuat pembicaraan mereka menjadi hening.
Setelah ia lihat layar ponsel tertulis nama Ibuku.
Ibu, astagfirullah aku lupa memberi kabar kepadanya. Seharusnya aku menelponnya sejak kemarin.
Ardi pun memberikan isyarat agar Caca segera mengangkat telponnya.
"Assalamualaikum sayang" suara yang terdengar dari seberang telpon.
"Wa'alaikum salam Bu, maaf Bu. Seharusnya Caca yang menelepon Ibu lebih dulu" ucapnya yang terdengar begitu lirih.
"tidak apa-apa sayang, Ibu tahu kamu pasti sibuk mengurus suamimu. Bagaimana keadaan kamu sekarang, maaf Ibu mengganggu kalian. Sebenarnya ibu belum terbiasa tanpa Caca di rumah, ibu merasa kesepian. Dengan sendirinya jari ibu menekan namamu di layar ponsel" ucap ibu.
"Caca sangat bahagia berada di sini. Caca juga sangat merindukan ibu dan suasana di rumah."
"Kamu harus terbiasa di rumah suamimu, layanilah ia dengan baik. Oh iya ca, dimana nak Ardi" tanya ibu.
"Ardi ada di samping Caca Bu, apa ibu mau bicara dengannya" ucap Caca yang mendirikan bola matanya kearah Ardi.
"Tidak, kirim salam saja buat nak Ardi" iya tidak ingin berbicara terlalu banyak karena takut akan mengganggu pengantin baru itu.
"Iya Bu. Salam kembali katanya."
"Ibu tutup dulu ya, assalamualaikum" suara ibu mengakhiri panggilannya.
"Wa'alaikum salam" ucapku menutup panggilan.
**
Caca dan Ardi merasa begitu canggung, namun semakin berjalannya waktu mereka berdua terlihat semakin akrab. Perasaan canggung itu pun perlahan berubah menjadi sebuah kedekatan. kedekatan itulah yang akan merubah segalanya. Telah banyak masa suram yang Caca lewati sebelum menggapai kebahagiaan itu. Ardi adalah laki-laki yang tepat untuk Caca. Kebersamaan mereka menimbulkan benih-benih cinta.
Caca masih merasa tidak yakin dengan kehidupan barunya, iya tidak menyangka jika teman sekelas sekaligus sahabat akrabnya itu akan menjadi suaminya.
Dengan santai Ardi menikmati kue yang telah kusajikan di atas meja sedari tadi, entah sejak kapan Caca sudah berada dipelukkannya, seingat Caca mereka hanya menikmati roti sambil menonton drama percintaan dengan adegan mesra.
"Lepaskan. Aku ingin melihatnya,,,, itu adalah adegan yang paling romantis, semua orang dewasa sangat menyukai adegan seperti itu" Ardi meraih tangan Caca yang menutupi kedua matanya.
Caca terdiam sejenak lalu menutup kedua matanya karena ia tidak ingin melihat adegan panas itu.
Sangat aneh. Semua orang sangat menyukai adegan seperti itu.
"Sayang, aku melupakan sesuatu" Caca hendak berdiri namun terhenti karena Ardi semakin erat memeluknya.
"Tetaplah disini, jangan menghindar dariku" ucap Ardi yang membuat tubuh Caca gemetar.
Ada apa denganku. Caca kendalikan dirimu.
Kedua mata mereka saling bertatapan. Tatapan Ardi yang semula biasa menjadi di liar. Adegan mesra di televisi membuat Ardi kehilangan kendali. Ardi mulai mencium bibir, perlakuan Ardi yang tiba-tiba membuat Caca terkejut namun ia tidak dapat menghindar. Ciuman itu semakin mendalam dan berlangsung cukup lama hingga membuat nafas cacat tersengal.
Tok tok tok tok
Suara ketukan pintu menghentikan ciuman panas yang sedang berlangsung itu.
Wajah Caca bersemu merah. Ardi sangat puas melihat tingkah yang dikeluarkan oleh istrinya.
__ADS_1
"Sayang kamu tunggu disini, biar aku yang membuka pintu" ucap Ardi seakan tak ingin melangkah.
Caca hanya menganggukkan kepalanya dan menutupi semu merah di wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Aku akan memberi pelajaran kepada tamu yang datang. Bisa-bisanya mengganggu disaat seperti ini. Apakah tidak bisa lain waktu datang kemari" Ardi mendengus dengan sangat kesal.
wajah Ardi berubah semakin geram setelah melihat sosok laki-laki yang ada di hadapannya itu. Iya mempersilahkan laki-laki yang ada di hadapannya itu masuk ke ruang tamu.
"Sayang cepat kemari" Ardi berteriak memanggil istrinya.
"Iya" Caca berdiri dari duduknya untuk menghampiri Ardi yang berada di ruang tamu.
"Ini istriku, Caca" Ardi memperkenalkan istrinya kepada laki-laki yang ada di hadapan mereka itu.
"Jadi dia adalah istrimu. Kamu beruntung memilikinya" laki-laki hanya tertunduk tak berani menatap wanita yang berada di samping Ardi.
"Sayang, Yudha ini temanku di masa kecil namun kita terpisah jarak waktu itu. Yudha adalah teman terbaikku sekaligus....." Ardi tidak meneruskan kalimatnya karena Yudha menyela memotong pembicaraannya.
"Ardi, sepertinya aku tidak bisa berlama, masih banyak tugas yang harus aku emban. Aku kemari hanya memenuhi undanganmu, maaf aku tidak bisa menghadiri pernikahan mau waktu itu" Yudha berdiri dari tempat duduk. Wajahnya terlihat sangat geram.
"Loohh, kenapa begitu cepat Yud" ucap Ardi dengan memberikan tatapan sinis.
"Maaf lain waktu aku akan mampir kesini lagi" sahut Yudha.
"Baiklah kalau begitu aku antar kedepan, ayo sayang" Ardi merangkul pundak istrinya dan berjalan mengikuti Yudha.
Yudha hanya melirik sekilas.
Bagaimana mungkin aku dapat bertahan lebih lama di sini. Kau keterlaluan Ardi.
"Wa'alaikum salam Yud, hati-hati dan jaga hatimu" melambaikan tangannya. Ucapan Ardi seketika membuat goresan di dalam hati Yudha.
Kepulangan Yudha membuat Caca sedikit merasa nyaman. sejak kedatangannya udah ke rumah itu ia tidak berbicara sedikitpun.
Caca merasa sangat gugup. Dia berniat untuk menceritakan tentang Yudha kepada Ardi. Caca tidak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka. Namun niat tersebut ditepis Caca jauh-jauh, ia tidak ingin ada kerenggangan di antara dua sahabat itu. Caca sangat terkejut mengetahui bahwa sahabat masa kecil Ardi adalah seseorang yang pernah ia cintai dahulu.
Caca berada dalam dilema yang sangat besar. Entah apa yang harus ia katakan, Caca merasa harus berterus terang kepada Ardi agar tidak ada kebohongan di dalam rumah tangga mereka. Caca tidak ingin Ardi mendengarnya dari orang lain. Entah harus mulai dari mana mengatakannya pada Ardi...
"Sayang, , , , Apakah boleh aku mengatakan sesuatu?" ucapku pelan.
"Tentu" sahut Ardi lantang.
"Aku ingin bercerita tentang seseorang di masa laluku" tanyaku.
"Maaf sayang, aku tak ingin mendengar semua itu, sekarang kamu fokus dengan masa depan kita..oke sayang" jawabnya.
"Tapi.." uacapannya terhenti.
Ardi memberikan ciuman di bibir Caca untuk membungkam mulut istrinya.
"Sayang, kamu harus dengar.
"Diamlah,,, Nikmati saja apa yang aku lakukan."
Ardi melanjutkan ciumannya yang tertunda.
__ADS_1
"Sayang, lepaskan" Caca mendorong tubuh Ardi.
"Baiklah, tapi aku sangat lapar. Buatlah sesuatu untukku" Ardi menghentikan ciumannya."
"Apa? sangat lapar! bukankah kamu sudah menghabiskan semua kue" ucap Caca.
"Iya tapi itu tidak menghilangkan rasa lapar ku" keluhnya lagi.
"Baiklah, aku akan memasak untukmu, kamu tunggu di sini" Caca meninggalkan suaminya dan membuat sesuatu di dapur.
***
"Sayang..makan siangnya sudah siap" teriak Caca di dapur.
Sejak kapan dia sudah berdiri disini, aku tak menyadarinya.
"Diamlah jangan berteriak, suaramu jelek di saat seperti itu" ledekan Ardi pada istrinya.
"Apa yang kamu lakukan di sana" Caca mengarahkan jari telunjuknya ke sudut dekat meja makan.
"Sejak tadi aku berada di sana, aku ingin melihat caramu memasak. Kata Papa, Mama sangat cantik saat sedang memasak" jawabnya.
"Lalu apa yang kamu lihat?"
"Seorang istri terlihat sangat cantik saat memasak untuk suaminya" tak henti-hentinya Ardi menggoda Caca.
Caca tak menggubris ucapan suaminya itu. Ia melanjutkan makannya.
"Makanan terlezat yang pernah aku makan" Ardi mengacungkan jari jempolnya.
"Terima kasih sayang, setiap hari aku akan memasak untukmu."
***
Makan siang romantis suami istri itu akhirnya selesai, Caca membereskan meja makan dan mencuci piring yang mereka gunakan.
"Sayang aku tunggu di atas,,sepertinya aku mulai mengantuk.." Ardi naik ke lantai atas meninggalkan Caca yang sibuk di dapur.
"Iya sayang" Caca menjawab ucapan Ardi yang diiringi beberapa keluhan.
Sangat tidak berperasaan. Apakah ia tidak ingin membantuku.
Setelah selesai membersihkan meja makan Caca pun ke kamar atas untuk menyusul Ardi.
Ardi berbaring dan tidur dengan pulas nya di tempat tidur, tak ingin rasanya menganggu tidur siangnya itu.
Caca pun berbaring disebelah Ardi dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Ardi.
Terbayang di benak Caca wajah tamu yang mengagetkannya tadi pagi.
Jangan sampai dia datang kemari. Aku sangat muak melihatnya.
Jangankan untuk bertemu membayangkannya laki-laki itu saja membuat Caca sakit. Caca tak ingin ada orang lain yang merusak kebahagian mereka.
***
__ADS_1