Diary Hidup "CACA"

Diary Hidup "CACA"
Episode 46


__ADS_3

Ros wanita tua yang akrab disapa dengan sebutan Eyang putri. Ros duduk bersandar Dia menceritakan kenangan tentang pantai yang mereka kunjungi itu kepada Caca istri dari cucu semata wayangnya. Tempat itu sangat penting bagi Ros, terdapat banyak kenangannya bersama suaminya waktu dulu. Tempat itu adalah tempat favorit keluarga mereka, di pantai itu juga terdapat sebuah villa besar yang digunakan keluarga itu menginap di saat mereka mengunjungi pantai tersebut.


Caca mendengar semua itu dengan sangat terkejut, Ia tidak menyangka bahwa ucapan suaminya adalah benar.


Apa saja yang suamiku miliki yang belum aku tahu. aku tidak menyangka ternyata aku menikah dengan seorang yang pengusaha muda sukses.


"Apa yang pernah ke rumah pohon milik Ardi" Caca merasa penasaran dengan rumah pohon yang didatanginya bersama Ardi.


"Apa kamu sudah melihatnya?" Ros menjawab ucapan Caca dengan pertanyaan.


"Tadi pagi Ardi membawa Caca ke rumah pohon itu."


"Rumah pohon itu adalah tempat favorit Ardi ketika berlibur, tempat ini adalah sejarah bagi keluarga Pratama. Tempat ini dapat mengobati kerinduan terhadap Eyang kakung" mata Ros berkaca-kaca mengingat kenangan bersama suaminya.


Caca sangat terharu mendengar ucapan Ros. Tiba-tiba Ardi menghampiri dan menyeka pembicaraan mereka.


"Apa kalian akan terus di sini atau mengikuti ku ke villa untuk menikmati hidangan yang sangat lezat" ucap Ardi kepada dua wanita yang ada dihadapannya itu.


"Hidangan, siapa yang membuatnya?" tanya Caca pada Ardi.


"Bi Yumi."


"Kebetulan sekali eyang sangat lapar" Ros berdiri dari tempat ia duduk.


"Ayo" Ardi merangkul kedua wanita itu.


Mereka menikmati hidangan yang dibuat oleh Yumi. Setelahnya mereka bersiap untuk kembali pulang ke rumah Ros. Tidak membutuhkan waktu yang lama akhirnya mereka tiba di kediaman Pratama.


***


Kediaman keluarga Pratama.,


Caca tergesa-gesa memakai jilbab itu menuju kamar Ros.


Aku lupa bertanya sesuatu kepada eyang putri.


Caca hanya mondar-mandir di depan kamar Ros itu. Setelah merasa yakin akan menanyakan pertanyaan itu kepada Ros, ia segera mengetuk pintu kamar.


"Masuk" suara seseorang yang terdengar dari dalam kamar itu.

__ADS_1


Caca mendorong dan masuk. Wanita itu tersenyum melihat kehadiran Caca, iya mau minta gadis itu untuk mendekatinya. Caca duduk di tepi ranjang tempat tidur sambil memijat kaki Ros.


"Terima kasih Ca, kaki yang memang terasa sakit. Perjalanan ke pantai itu membuat Eyang sangat lelah" ucap wanita yang berbaring di atas tempat tidur.


"Eyang apa boleh Caca bertanya sesuatu."


Ceklek


Seseorang membuka pintu membuat Caca menghentikan pertanyaannya.


"Sayang aku sejak tadi mencarimu, ternyata kamu ada di sini. Aku sangat lapar" Ardi menerobos masuk dengan memegang perutnya.


"Apa, lapar bukankah tadi itu sudah makan" ia sontak bertanya.


"Aku tidak akan bisa kenyang jika tidak memakan nasi goreng buatanmu" Ardi menarik tangan istrinya.


"Apa kau tidak lihat, apa yang sedang dilakukan istrimu" Ros menyela ucapan cucunya itu selalu tersenyum.


"Eyang, Caca akan segera kembali" ia mengikuti langkah suaminya itu.


Cucuku sangat merepotkan istrinya. Aku akan menghukumnya nanti.


"Man, apa yang kalian lakukan?"


"Aku hanya mencoba untuk mengatakan sesuatu ke padanya. Namun ia tidak ingin mendengarkannya, Apakah itu juga kesalahanku? " ia melemparkan pertanyaan kepada Ardi.


Caca terdiam mencoba untuk mencerna apa yang ia lihat.


"Selesaikan urusan kalian" Ardi merangkul pundak istrinya meninggalkan kedua orang itu.


***


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, ayolah dengarkan aku" ucap Man kepada gadis yang berada di hadapannya.


"Aku tidak ada waktu untuk mendengarkan semua ucapanmu" wanita itu menjawab dengan angkuhnya.


"Apa kamu tidak ingin mendengarkan apa yang akan aku katakan. Aku ingin menceritakan sesuatu yang sangat penting kepadamu."


"Aku bukan wanita tipemu. Jadi aku harap menjauhlah dariku" wanita itu hendak meninggalkan laki-laki di hadapannya.

__ADS_1


"Maafkan aku untuk semua ucapan yang tidak sengaja aku katakan" Man meraih tangan gadis itu.


"Lepaskan aku, aku tidak ingin semua orang melihat kita."


"Nadin kau harus mendengar semuanya, aku harus menjelaskan sesuatu kepadamu. Ini menyangkut hubungan kita" Man membungkam mulut gadis itu dengan tangannya.


"Cepat katakan apa yang hendak kau jelaskan padaku. Aku jenuh dengan hubungan yang dirahasiakan ini" ucap Nadine setelah Man menyingkirkan tangannya.


"Aku ingin memberitahu yang sejujurnya kepada dirimu. Aku tidak ingin menyimpan kebohongan ini lebih lama lagi" Man menutup pintu kamar karena tidak ingin orang lain mendengarnya.


"Cepat katakanlah kebohonganmu itu. Aku tidak ingin kau mengambil kesempatan di dalam kesempitan ku ini" Nadin menatap tajam laki-laki yang berada di hadapannya itu.


"Sebenarnya........" ucapan Man terhenti saat seseorang mengetuk pintu kamar.


"Man, apakah kamu ada di dalam" suara seorang laki-laki terdengar jelas di balik pintu.


Man segera mendorong tubuh gadis itu di atas tempat tidur lalu ia menutupinya dengan selimut. Man segera mematikan lampu dan membuka pintu kamar sedikit.


"Apakah kamu sudah tidur, Man" tanya Amran.


"Iya Pak. Perjalanan hari ini membuatku sangat mengantuk, jika bapak membutuhkan sesuatu. Katakanlah."


"Tidak main kalau begitu lanjutkan saja tidurmu" laki-laki itu meninggalkan kamar yang ditempati Man untuk tidur.


Untung saja Pak Amran tidak melihatnya. Hampir saja aku akan membuat kehebohan di rumah ini. Jika mereka melihatnya di sini, maka aku akan hancur saat ini juga. Pak Ardi tidak akan mengampuni ku.


Man menutup kembali pintu kamar itu dan menguncinya. Iya tidak ingin seseorang menerobos masuk dan melihat kebersamaannya dengan gadis itu.


"Apa kau baik-baik saja?" Man membuka selimut yang didalamnya ada Nadin.


"Kau membuatku terjebak bersamamu di sini. Ayo keluarkan aku, aku ingin tidur ke kamarku" Nadin berteriak dengan memukul dada bidang milik Man.


"Jangan berteriak nanti mereka akan mendengarmu di sini. aku tidak ingin mereka memikirkan apapun tentang ini" Man membungkam mulut gadis itu kembali hingga tubuhnya berada tepat di atas gadis itu.


Nadin tertekun melihat laki-laki yang berada tepat di atas tubuhnya itu. Ia tidak mampu berkata apapun, sebenarnya Nadin sangat mencintai laki-laki itu. Dia tidak memberontak sedikitpun ketika Man berada di atasnya.


Laki-laki ini tidak terlalu buruk, Dia sangat tampan. Apa yang terjadi padaku. Aku sangat mencintainya.


Wajah mereka saling menatap. Terjadi keheningan seketika di antara mereka. Man menatap lekat gadis itu.

__ADS_1


Mengapa gadis ini terlihat begitu menggodaku. aku tidak dapat menahan semua ini lebih lama lagi, ingin rasanya aku memiliki gadis ini saat ini juga.


__ADS_2