Diary Hidup "CACA"

Diary Hidup "CACA"
Episode 52


__ADS_3

Pagi sekali wanita tua itu sudah berada di dapur, ia terburu-buru menyelesaikan semua pekerjaannya. sehingga wanita tua itu menjatuhkan piring yang sedang ia cuci.


"Ada apa bi Yumi?" Caca menghampiri wanita tua itu.


"saya menjatuhkan piring ini, Bu" Yumi menunjuk seseuatu yang ia jatuhkan dan mencoba untuk membersihkannya.


"Jangan terburu-buru, lakukan dengan pelan. nanti tangan bibi terluka" Caca mengingatkan wanita itu sembari duduk di meja makan.


"Iya Bu, semua ini harus cepat diselesaikan" ucap wanita tua itu kepada Caca.


"Tidak perlu, Bibi bisa istirahat jika terasa lelah. Jangan terlalu dipaksakan" jawab Caca yang mengoles coklat di atas sepotong roti tawar.


"Apakah Bibi boleh izin sebentar, Bu?" tanyanya dengan penuh harapan bahwa majikannya itu akan mengizinkan.


"Izin, untuk apa meminta izin. Bibi boleh istirahat" jawabnya.


"Bukan itu maksudnya, Bu? apakah Bibi boleh keluar rumah sebentar. Ada sesuatu hal yang harus Bibi urus, mungkin tidak sebentar tetapi agak sedikit lama Bu. Itu pun jika diizinkan."


"Pergilah! Bibi boleh izin kok Bi. Lagi pula Caca dan Ardi akan pergi hari ini. Caca ingin melihat toko yang di renovasi bersama Ardi, apa Bibi ingin pergi bersama. Kita juga akan temani sampai urusan Bibi selesai, baru deh lihat toko. Bagaimana?"


"Maaf Bu, Bibi pergi sendiri aja yah. Mana mungkin menganggu pak Ardi dan Ibu" ucap wanita tua itu kepada Caca.


"Terserah Bibi deh, Caca nggak akan merasa terganggu."


"Ibu pergi aja sama pak Ardi. Bibi naik ojek aja nanti, lagi pula urusannya memakan waktu yang lama."


"Iya Bi."

__ADS_1


Caca menyantap roti coklat yang telah ia racik sendiri dengan minum segelas susu yang khusus di buatkan Yumi untuk dirinya. Yumi selalu memberikan segelas susu kepada Caca pagi dan malam secara teratur.


Setelah perbincangannya bersama Caca, tidak lama dari situ Yumi bersiap dan pergi keluar rumah.


Urusan penting apa yang dilakukan BI Yumi. Aku merasa orang-orang di sekeliling ku menyimpan banyak sekali teka teki yang harus aku jawab.


Caca melihat langkah yang terburu-buru keluar dari halaman rumahnya. Caca memperhatikannya hingga ia hilang dari pandangan Caca.


"Selamat pagi ibu negara!" suara laki-laki yang ia sebut sebagai suaminya itu terdengar jelas di telingganya.


"Sejak kapan kamu bangun. Eh, kamu udah mandi juga" kata Caca yang melihat laki-laki berdiri disampingnya itu.


"Apa yang kamu lihat? aku perhatikan sejak tadi kamu memperhatikan sesuatu di balik jendela ini" tanyanya kepada Caca.


"Aku melihat Ni Yumi, ia pergi sebentar. Ada urusan di luar, katanya?"


"Entahlah, mungkin dia akan menemui seseorang. Ayo sarapan, Bi Yumi telah menyiapkan sarapan untukmu" Caca mengakhiri obrolannya sembari meraih tangan Ardi dan membawanya ke meja makan.


"Baiklah" Ardi hanya mengikuti istrinya itu.


Setelah sampai di maja makan, Caca menyiapkan sepiring nasi goreng yang telah di masak oleh Yumi. Tidak lupa Caca memberikan telur ceplok di atas nasi goreng itu.


"Ayo cepat habiskan, aku akan menemanimu" ucap Caca yang menyodorkan sepiring nasi goreng kepada Ardi dan duduk disampingnya.


"Sayang, kamu tidak sarapan bersamaku?" Ardi melihat istrinya sekilas lalu melahap nasi goreng itu.


"Aku sudah sarapan, tadi aku makan sepotong roti dan minum segelas susu. Aku rasa sudah cukup untuk menganjal perut yang kosong."

__ADS_1


Ardi hanya menganguk-angukkan kepalanya.


Wanita sangat aneh, hanya roti dan susu dapat menghilangkan laparnya. Sementara aku, diberikan dua piring nasi goreng pun masih terasa lapar.


"Ada apa?" Caca melemparkan pertanyaan kepada Ardi.


"Tidak."


Dia bisa membaca pikiranku.


"Kamu ingat, dulu kamu sering meledekku karena tubuhku sedikit kurus. Apa kamu juga sedang memikirkan itu karena aku hanya makan roti dan susu."


Ternyata istri ku juga guru sejarah. Ia selalu ingat masa lalu kami.


"Ingat sedikit."


"Jangan mengejekku lagi, atau aku akan melempar gelas ini di kening mu seperti waktu itu" Caca mengingat kejadian sewaktu Ardi meledeknya lalu melempar gelas plastik di kening Ardi.


Mana mungkin aku berani mengejek istriku. Aku takut, dia olahragawan yang sangat berbakat. Dia adalah pelempar gelas tercepat yang pernah aku lihat. Hiks


"Tidak ibu negara, aku tahu kamu guru sejarah dan guru olahraga terbaik. Mana mungkin aku mengejekmu" Ardi menahan tawanya.


"Lalu apa maksud semua yang kamu katakan itu?" Caca melototkan bola matanya.


"Hei ibu negara, kamu terlihat cantik seperti itu."


"Apa?" Caca tertawa dengan apa yang ia lakukan.

__ADS_1


Ardipun menyelesaikan sarapannya. Mereka kembali ke ruang keluarga dan menonton televisi bersama.


__ADS_2