Diary Hidup "CACA"

Diary Hidup "CACA"
episode 15


__ADS_3

Dua hari menjelang pernikahan sebuah mobil berwarna hitam mengkilap berhenti di depan rumah Caca, mobil itu sama persis dengan mobil yang di kendarai Ardi ketika datang kerumahnya di hari lamaran tempo hari. Seorang laki-laki paruh baya keluar dari dalam mobil dan menghampiri Caca, saat itu ia berada di teras rumah dengan segelas susu ditangannya.


"Permisi,saya supir yang ditugaskan tuan Ardi untuk menjemput nona" ucap lelaki itu.


"Maaf pak sebelumnya. Kita akan pergi kemana? berikan saja alamatnya, saya akan pergi sendiri ke sana" jawab Caca.


"Saya hanya menjalankan tugas. Nona silakan bersiap, saya akan menunggu" jawabnya.


"Iya sudah kalau begitu, tunggu sebentar. Saya akan segera kembali" ia masuk kedalam untuk bersiap.


Setelah beberapa menit Caca keluar dari dalam rumah dengan menyandang tas berwarna navy, supir tersebut telah membukakan pintu mobil untuknya.


"Silakan nona Caca."


Apa dia juga tahu namaku.


"Iya pak terima kasih. Bapak tahu nama saya?" ia merasa penasaran dengan supir itu.


"Tentu, tuan Ardi menyimpan foto anda didalam mobil ini" menjawab dengan sejujurnya.


Foto,,, sejak kapan ia menyimpan fotoku.


Mobil pun melaju dan Caca tidak tahu tempat yang akan mereka tuju. Ia hanya terdiam mengigat foto yang di smpan Ardi.


Aneh, Dia kan bisa menelponku nanti aku yang datang menemuinya tidak perlu di jemput supir. Aku sudah terbiasa sendiri. Lagian mau kemana siihh. Ya sudah deh dari pada pusing memikirkannya mendingan ikut saja. Tapi foto apa yang Ardi simpan.


Caca menyimpan pertanyaan itu didalam benaknya.


Setelah beberapa lama di perjalanan akhirnya mereka tiba di sebuah butik megah dan ternama yang hanya dikunjungi orang-orang ternama.


Apa begini jika menikah dengan pak direktur, beruntungnya diriku. Ardi sudah begitu banyak perubahan, ia bukan lagi teman ku yang dulu.


"Nona silakan, tuan Ardi sudah menunggu di dalam" seraya membuka pintu mobil dan mengantar gadis itu kedalam butik.


Terlihat dari pintu masuk seorang Laki-laki memakai jas berwarna hitam berdiri tegak menatap sebuah gaun pengantin, ia berbalik menghadap pintu yang terbuka. Mata gadis itu tak berkedip melihat laki-laki di hadapanya. Caca hampir tidak mengenali laki-laki itu.


Apakah benar ini calon suamiku, baru kali ini aku melihat ketampanan yang sesungguhnya.


"Assalamualaikum" ucap Ardi yang membuyarkan lamunan Caca.


"Wa'alaikum salam" jawabnya terbata-bata.


"Kita akan mencari gaun pengantin yang akan kamu pakai di pernikahan kita nanti" jawabnya singkat.


"Biar kamu saja yang memilihnya, apapun pilihanmu nanti aku pasti akan memakainya."


"Baiklah, aku sangat tertarik dengan gaun ini, bagaimana menurut kamu " tanyanya dengan memengang gaun yang ia pandang sedari tadi.


"Aku sangat setuju, gaun yang begitu indah dan juga gaun pengantin muslimah tentu saja aku sangat menyukainya" jawab Caca mengangguk.


"Aku tahu, kamu pasti akan setuju. Apa pernah kamu mengatakan tidak padaku. Iya kan!" ucapnya sambil melirik gaun itu.

__ADS_1


"Eehhmmm..."


Kamu, aku. Apa Ten Ten aku bisa saja mengatakan tidak. Tapi aku lebih menghargaimu.


Caca hanya terdiam dengan ucapan Ardi karena ia tak ingin berdebat dengannya. Jika di pikir lagi memang itu lah kenyataannya.


"Jika setuju dengan pilihannya kita ambil gaun yang itu" ucapnya dengan melirikan bola matanya ke arah gaun yg ia pegang tadi.


"Iya aku setuju."


"Ya sudah ayo kita pergi, biar seketaris man yang akan mengurusnya" ia menunjuk seseorang laki-laki yang berada di samping kasir dengan memakai kemeja berwarna putih.


"Kita akan pergi kemana?" tanyanya.


"Ayoo.... Jangan banyak tanya ikut saja, itu adalah kebiasaan burukmu sejak dulu" ia menarik tangan Caca keluar dari tempat itu.


Caca pun mengikuti langkahnya dan masuk ke dalam mobil yang menjemputku.


"Ayo jalan pak" tegasnya pada supir.


Caca berada satu mobil dengannya dan duduk tepat di samping laki-laki yang akan menjadi suaminya itu, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Bukan kah pernikahan ini kesepakatan berdua, mengapa aku sangat gugup di dekatnya. Aku merasa seperti pertemuan pertamaku dengannya. Bagaimana cara memulai obrolan kecil dengannya.


"Apa kamu mengatakan sesuatu" tanya Ardi yang merasa ada seseorang bicara padanya.


"Tidak" jawabnya.


Apa sekarang dia seorang peramal.


"Bagaimana dengan teman-teman ku, apa mereka juga diundang" tanya Caca.


"Soal itu tidak perlu khawatir, semuanya sudah di urus oleh seketaris Man. Mulai dari teman SD hingga teman SMA kamu pun ikut diundang oleh seketaris Man" jawabnya.


"Apa, semuanya. Iya terima kasih."


Dia mengetahui semua temanku. Apa dia juga detektif.


"Oh aku lupa, Nadin bagaimana" kata Caca dengan histeris.


"Sudah pegawai toko bakery kamu itu kan" jawabnya.


Masih dengan Caca yang sama. Tidak sedikit ada perubahan dari dirinya.


"Iya bagus deh kalau begitu."


Mobil yang di kemudikan supir itu akhirnya berhenti di depan sebuah perusahaan uang sangat besar dan bersebelahan dengan restoran ternama dan berkelas.


"Itu tempatku bekerja" ucap Ardi dengan menunjuk gedung tinggi di sebelah kiri mereka.


"Itu kantor kamu, hebat kamu sekarang. Dari mana kamu memperolehnya" jawab Caca seraya menggeleng-gelengkan kepala.

__ADS_1


"Aku menang undian" jawabnya terkekeh.


"Serius Ten ten."


"Itu perusahaan kedua ayahku dan aku berusaha keras untuk memajukan perusahaan ini hingga ia berkembang seperti sekarang ini."


Caca hanya terdiam mendengar ucapan Ardi.


Ardi telah menjadi laki-laki yang sangat sukses. Ia memiliki perusahaan dan juga beberapa restoran ternama di kotanya itu. Termasuk restoran yang berada di samping perusahaannya itu.


"Selamat siang pak, selamat datang nona" ucap seorang pelayan restoran di depan pintu masuk.


Ardi hanya menggangukan kepalanya.


"Iya terima kasih.." jawab Caca.


"Silakan duduk pak, silakan nona" pelayan lainnya menyiapkan kursi untuk mereka.


Semua menu pun di hidangkan. Caca sampai merasa binggung harus makan yang mana dan mulai dari mana.


"Ayo makan. Kamu bisa makan apapun yang kamu suka" Tawaran Ardi


"Baiklah terima kasih."


Caca menyantap apapun yang ia suka tanpa rasa malu sedikit pun untuk mengisi perut nya yang sangat lapar.


"Jika kamu suka, kita bisa pesan lagi" Ardi tersenyum melihat Caca yang menyukai makanan yang pelayan itu hidangkan.


"Sudah... Sudah cukup... " jawab Caca malu.


Setelah selesai makan Mereka pun beranjak pergi.


"Aku akan mengantarmu pulang" ucap ardi.


"Iya."


Diperjalanan mereka tidak berbicara sedikit pun.


Beberapa jam kemudian mereka lun sampai di di depan pagar rumah Caca namun Ardi langsung pergi karena ada urusan mendadak di kantor.


"Kamu hati-hati ya di rumah, jangan kemana-mana, salam buat ibu" ucapnya.


"Iya kamu juga hati-hati dan jaga hati" ucap Caca terkekeh.


Ardi hanya mengganguk.


"Assalamualaikum,,," ia melambaikan tangannya.


"Waalaikum salam" ia tersenyum dengan sangat menawan yang membuat jantung Caca semakin berdebar.


Caca masuk ke dalam rumah setelah mobil Ardi benar-bemar telah pergi dan tak terlihat.

__ADS_1


Aku sangat beruntung.


***


__ADS_2